Pagi ini, semua orang sibuk dan panik. Acara yang ditunggu-tunggu telah tiba. Acara yang mendebarkan dan sakral itu akan dimulai beberapa jam lagi.
James dan Nadine memilih konsep international wedding. James yang memiliki darah inggris dan Nadine asli warga Indonesia memutuskan untuk memilih konsep tersebut.
Tamu undangan akan memadati gedung pernikahan malam nanti. Sekarang, James dan Nadine tengah berucap janji suci pernikahan di gereja bernuansa klasik.
Momen haru telah selesai. Daniel memeluk James yang kini sudah resmi menjadi suami Nadine. Tak lupa, Daniel membisikkan sesuatu yang membuat James tertawa geli.
"Jangan lupa buatkan aku keponakan yang lucu yak?!" bisik Daniel tepat di telinga James.
James melepaskan pelukannya. "Hahahahah, tenang saja, Bro! Aku akan segera melakukannya. Kau kapan menyusul, ha? Sepertinya, Mama Karla merestui hubungan kalian," ucap James sambil melirik Kathryn yang sedang mengobrol dengan Nadine.
"Ah, kau bisa saja. Ingat kan, waktu di kafe Nadine? Kau yang menyarankanku untuk menjadikannya pacar pura-pura. Kau tahu semua rahasiaku. Aku harap kau tidak seperti Enri."
"Hah? Maksudmu apaan sih?" James menyatukan alisnya.
"Katamu, kau lebih pintar dariku..." ejek Daniel.
"Ck, katakan! Apa maksud perkataanmu tadi, CEO PINTAR," kata James dengan menekan kata CEO PINTAR.
"Liza ada di Jakarta dan Enri tahu itu. Beberapa bulan yang lalu ak—"
"Tunggu, Kau tidak tahu Liza di Jakarta?" tanya James memotong ucapan Daniel.
"Hoh? Aku tahu saat menjemput adik Kathryn di rumah sakit. Kalau kau tahu sejak kapan?"
"Liza bahkan sudah di Jakarta saat pertengahan tahun. Dan kau baru tahu di akhir tahun ini. Tapi, tak apa. Aku lihat, kau sudah moveon."
"Sebenarnya James, beberapa hari yang lalu aku menelepon Kathryn saat dia ada di mall. Dia bilang, dia bertemu dengan Enri dan seorang perempuan. Aku yakin itu Liza. Em, apa kau mengundang Enri dan Liza?" kata Daniel sambil mengambil minuman yang telah disediakan.
"Tentu! Mereka sahabatku juga. Aku harap kau tak punya masalah dengan ini," ucap James sambil menepuk pundak Daniel.
Daniel tersenyum tipis. Kemudian dia meminum minuman yang ada di tangannya. Entahlah. Apa dia harus melupakan masa lalunya dan mengikhlaskan demi sahabat? Ah, kenapa serumit ini?
Daniel tidak habis pikir dengan kelakuan Enri yang menyembunyikan kedekatannya dengan Liza. Daniel mengajak James untuk menuju mempelai wanita. Sebelum itu, Daniel meletakkan gelasnya pada nampan pelayan yang lewat.
Mata Daniel membulat, langkahnya terhenti, kedua tangan yang dimasukkan ke saku celana tiba-tiba terlepas, jantungnya seakan berhenti berdetak, dan napasnya tersengal. James ikut berhenti melangkah. Bukan karena kecantikan istrinya, melainkan James tidak menyangka Kathryn dan Liza bisa seakrab itu.
"Daniel, apa akan ada masalah yang besar setelah ini?" tanya James.
James dan Daniel memang sedikit jauh dari kumpulan wanita yang sedang asyik mengobrol itu. Namun, mereka dapat melihat, jika Liza memang terlihat akrab dengan Kathryn.
Daniel menelan air liurnya. Dia berusaha terlihat seperti biasa. Dia tidak ingin terlihat canggung dan pengecut di mata Liza. Dia merapikan kembali jas yang dia pakai dan memasukkan kembali kedua tangannya ke dalam saku celana. Kemudian melangkah mendekat je arah Kathryn tanpa memedulikan James.
Daniel datang dan memeluk pinggang Kathryn. Sepertinya, dia ingin terlihat seperti orang yang bahagia. Kedatangannya disusul James. Kedatang mereka membuat keadaan menjadi hening. Tiba-tiba James mencium pipi Nadine. Nadine mencubit pinggang James karena membuatnya terkejut bercampur malu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Don't Trust Love
RomansHighest : 1 - #lizquen [21 Agustus 2018] 1 - #danielpadilla [23 Agustus 2018] 1 - #kathrynbernardo [23 Agustus 2018] 1 - #kathryn [23 Agustus 2018] 1 - #dj [4 September 2018] 1 - #kathniel [8 September 2018] 1 - #lizasoberano [8 September 2018] Dani...
