Disclaimer: Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, tidak ada unsur kesengajaan dan hanya kebetulan semata.
WARNING: BL, Boyxboy, Gay stories, Omegaverse, Mafia AU.
| Chapter 1: The Alpha |
Nieuwe Stad, District 1
2035
RASHA melangkahkan kakinya menuju sebuah pintu kayu berukiran patung dua ular naga yang saling melilit ekornya dengan tulisan Dwi Naga Rasa Tunggal yang terpahat sempurna di atas kayu. Pintu jati berdaun ganda itu pun dibuka oleh dua orang penjaga yang sedaritadi berdiri di depan pintu saat Rasha tiba. Tak tunggu lama, Rasha melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Di dalam ruang kerjanya, Alfa Ankawijaya sudah lebih dulu tiba dan duduk sembari menanti kedatangannya. Di kanan dan kiri tempat Alfa duduk tampak dua orang laki-laki berpakaian serba hitam berdiri dengan sikap sempurna. Keduanya tampak siaga.
Rasha berjalan masuk bersama seorang asisten pribadinya, Gardha, yang segera menarik kursi tempat Rasha biasa duduk. Putra bungsu dari keluarga Mahapraja itu langsung duduk dan menundukkan kepalanya pelan sebagai ganti salam sapa.
"Sorry, tadi aku masih ada urusan yang harus diberesin." ujar Rasha memulai pembicaraan.
Alfa tampak maklum. "Tapi udah beres kan urusannya?" tanya Alfa sambil menopangkan dagu dan tersenyum kecil.
"Udah." sahut Rasha singkat. Dengan satu gerakan cepat, Rasha memberikan instruksi kepada Gardha untuk mengambilkan dokumen di meja kerjanya, tak jauh dari tempatnya duduk bersama Alfa.
"Gimana kabar om Rahardian?" tanya Alfa, memulai pembicaraan lagi.
"Kondisinya stabil, walau nggak banyak perkembangan." jawab Rasha pelan.
"Kalau Ragasha apa ka—" kalimat Alfa menggantung di udara ketika ia mengendus wangi manis yang terbawa oleh semilir angin.
Sebelum sempat Alfa berkata apa pun, Rasha sudah lebih dulu mengeluarkan pistol dari balik sakunya dan mengarahkannya ke arah Alfa. Melihat itu, spontan kedua bodyguard Alfa kompakan mengeluarkan pistol dan mengarahkannya kepada penerus keluarga Mahapraja itu. Gardha yang berdiri tak jauh dari situ juga menarik keluar pistolnya dan mengarahkannya ke arah bodyguard Alfa. Mereka diam di posisi siaga sambil mengamati setiap gerakan kecil dari masing-masing kubu. Ketegangan itu bertahan hingga akhirnya Alfa memberikan isyarat agar kedua penjaganya menurunkan pistol.
Rasha menatap lurus ke arah Alfa sejenak dan menurunkan pistolnya—dan segera ditiru oleh Gardha. Ia meletakkan pistol itu di atas meja dan segera mengambil sebotol tempat pil dari saku jasnya. Gardha dengan sigap mendekat dan memberikan segelas air putih untuk Rasha. Tak tunggu lama, Rasha pun segera menegak dua pil langsung ke dalam mulutnya.
Alfa menahan nafas lalu menghembuskannya lagi. Matanya menatap lurus ke arah Rasha yang duduk berseberangan dengannya. Ia menopangkan dagu sambil mengobservasi nafas Rasha yang bertambah cepat. Raut wajahnya lagi-lagi tampak maklum. "Tough week?" tanya Alfa.
"Nothing that I can't handle." sahut Rasha cepat. Ia lalu menoleh ke arah Gardha dan mengulurkan tangannya. Segera, Gardha pun memberikan map berisikan dokumen yang sebelumnya diminta oleh Rasha. "Jadi, untuk kontrak kerja sama, ada tambahan dari pihak Ankawijaya?" tanya Rasha memulai topik pembicaraan baru, seolah tidak terjadi apa pun.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE BΩSS [BXB]
General Fiction"What if" Rasha take the throne? THE BOSS S t a t u s : c o m p l e t e [ 2018 - 2020 ]
![THE BΩSS [BXB]](https://img.wattpad.com/cover/136534735-64-k185080.jpg)