Chapter 24: Win

3K 338 57
                                        

Disclaimer: Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, tidak ada unsur kesengajaan dan hanya kebetulan semata.

WARNING: BL, Boyxboy, Gay stories, Omegaverse, Mafia AU.

A/N:
Okay, I got distracted with amino.
I'm sorry. Lol

| Chapter 24: Win |




Niuewe Stad, Distrik 1



GETARAN pada tanah yang ia pijak membuat langkah Rasha terhenti. Detak jantungnya berdebar cepat. Rasha menelan ludah. Bayangan akan pertarungan kakaknya dengan sang kepala keluarga Cakrawangsa kembali menghantuinya.

Isi kepala Rasha yang kini dipenuhi oleh berbagai kemungkinan yang terjadi membuat napasnya kian memburu. Ia melangkahkan kakinya lebih cepat ke arah mansion. Dan ketika itulah ia baru menyadari Alex yang kini tengah memegangi dada kirinya.

"Alex?" panggil Rasha. Ia menghentikan langkahnya lalu kembali menghampiri sang alpha yang tertinggal di belakang. "What is it? Where does it hurts?" tanya sang omega lagi.

Wajah Alex tampak mengernyit sebelum ia menutupnya dengan senyuman. Ia tetap memegangi dada kirinya dengan sebelah tangan. "Sepertinya efek obat penghilang nyerinya mulai menghilang." ungkap Alex. Ia namun segera menenangkan omeganya. "But don't worry, I'm fine." sambungnya.

Rasha mengamati alphanya dalam diam. Fraktur pada tulang rusuk seperti itu pasti akan membuat pergerakan Alex melambat—dan ia tidak ingin membuat alphanya memaksakan diri. Rasha pun memutuskan untuk menahan diri untuk tidak bergegas dan memapah Alex berjalan ke arah pintu belakang mansion.

"Don't push yourself." ujar Rasha memperingati.

Alex hanya tersenyum dan membiarkan sang omega membantunya. "I'm not." sanggah sang alpha. Ia lalu mengamati raut wajah Rasha. Meski sang bungsu dari keluarga Mahapraja itu berusaha menata ekspresi wajahnya, Alex tahu bahwa sesungguhnya saat ini Rasha tidak setenang yang terlihat. Oleh karena itulah, Alex berusaha untuk menenangkan omeganya kembali. "Hey, it's going to be okay. Aga will be okay, I'm sure of it." ujarnya.

Rasha tidak menyahut dan hanya menarik segaris senyum. Ia hanya bisa berharap bahwa alphanya benar. Tak lama kemudian keduanya sampai di pintu keluar Regulus mansion. Rasha mengitip dari celah pintu dan ketika itulah ia melihat adanya beberapa anak buah keluarga Cakrawangsa yang berkumpul tak jauh dari pintu. Rasha segera mendorong tubuh Alex merapat ke tembok.

"Tunggu disini, Alex." ujarnya sambil mengeluarkan pistolnya. Belum sempat Alex menyahut, Rasha sudah terlebih dulu membuka pintu dan menembaki satu-persatu laki-laki berjas hitam dengan pin dasi berlambang keluarga Cakrawangsa itu. Tidak ada satu pun peluru Rasha yang meleset—namun ia memang sengaja tidak mengenai bagian tubuh vital dari musuhnya.

Setelah yakin ia telah mengamankan sekitarnya, barulah Rasha mengizinkan Alex untuk masuk. Sang alpha memandangi omeganya dengan napas tertahan. Butuh waktu bagi Alex untuk menerima bahwa Rasha memang lebih handal darinya dalam urusan bertarung. Apalagi membiarkan Rasha yang maju lebih dulu setiap kali musuh muncul. Hal itu jelas bertentangan dengan prinsipnya.

"Rasha, you need to stop doing that." ujar Alex dengan alis berkerut. "Jantungku lama-lama bisa berhenti kalau kamu terus-terusan seperti itu." lanjutnya.

THE BΩSS [BXB]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang