Disclaimer: Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, tidak ada unsur kesengajaan dan hanya kebetulan semata.
WARNING: BL, Boyxboy, Gay stories, Omegaverse, Mafia AU.
Sexual explicit scenes
(boong deng. Dosa bikin enaena mulu.)
| Chapter 7: Vengeance |
Nieuwe Stad, Distrik 1
RASHA menghela nafas panjang sembari masih terduduk di atas kasur kamar hotel. Ia baru saja terbangun beberapa saat yang lalu saat sinar matahari menyelinap masuk dari balik gorden jendela. Dengan selimut hotel Rasha pun menutupi tubuh bagian bawahnya seadanya—ia terlihat tidak peduli meski ada Alex di dekatnya. Saat ini ada sesuatu yang lebih mengusiknya. Sang omega itu pun terlihat memejamkan mata sambil mengurut pangkal hidungnya. Rasanya seperti mengalami dejavu.
"What's your excuse this time?" tanya Rasha dengan suara pelan, berusaha menyamarkan emosinya yang nyaris meledak.
"Kamu pingsan di tengah-tengah, Rasha." jawab Alex sambil menatap lembut omeganya.
Rasha menoleh ke arah Alex yang duduk tak jauh darinya lalu menatapnya dengan tajam.
"Lantas?" tanya Rasha dengan nada lebih menuntut.
"Mana mungkin aku nge-mark kamu saat kamu nggak sadar." ujar Alex dengan alis berkerut. "It feels wrong."sambungnya lagi.
Rasha mendengus.
Semalam ia memang pingsan di tengah-tengah aktivitas seksualnya dengan Alex. Namun ia pikir saat terbangun semua urusannya akan selesai. Seketika ia tidak dapat menemukan bekas gigitan Alex di lehernya, Rasha pun menarik kesimpulan kalau sang alpha itu memang sengaja melanggar kesepakatan—mengingat ini bukan kesempatan pertamanya. Dan tidak ada yang lebih dibenci oleh Rasha daripada orang yang mengingkari apa yang sudah disepakati.
"Kamu punya banyak kesempatan untuk menggigit leherku, Alex." ujar Rasha tampak tak habis pikir. "If you could bother to leave hickeys all over my body, why don't you just bite me already?" tanya Rasha lagi.
Alex tersenyum lalu mengecup pipi Rasha dari samping kanan. Kepala keluarga Mahapraja itu tidak bereaksi namun segera mengambil jarak dari sang alpha. Sepasang mata Rasha masih menatap tajam, menunggu sebuah penjelasan.
"Itu kan dua hal yang berbeda. Marking itu sesuatu yang sakral. Aku nggak mau kamu bahkan dalam nggak sadar saat prosesnya." jelas Alex. Ia lalu menimpali, "Maafin aku ya, tapi aku betulan nggak bisa ngelakuin itu pas kamu pingsan."
Rasha lalu terdiam dan kembali menghela nafas panjang. Ia tidak punya banyak waktu untuk berdebat, apalagi sekarang jadwal kegiatannya jelas menjadi berantakan. Rasha beranjak bangun dari kasur dan memunguti pakaiannya yang tergeletak di atas lantai. Mata Alex mengikuti sosok Rasha ketika sang omega mulai mengenakan pakaiannya.
Ketika itu terdengar suara ponsel yang berdering dari saku coat yang ia simpan di gantungan baju di pojok ruangan. Rasha pun segera menjawab panggilan yang baru saja masuk itu.
"Halo?" sahut Rasha dengan ponsel yang menempel di telinga. Untuk sesaat Rasha sempat terdiam sebelum akhirnya kembali menyahut, "Iya, sebentar lagi." Kembali terdengar sebuah jeda sebelum ia menimpali, "Nggak perlu. Aku udah selesai kok."
KAMU SEDANG MEMBACA
THE BΩSS [BXB]
Fiksi Umum"What if" Rasha take the throne? THE BOSS S t a t u s : c o m p l e t e [ 2018 - 2020 ]
![THE BΩSS [BXB]](https://img.wattpad.com/cover/136534735-64-k185080.jpg)