Disclaimer: Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, tidak ada unsur kesengajaan dan hanya kebetulan semata.
WARNING: BL, Boyxboy, Gay stories, Omegaverse, Mafia AU.
| Chapter 2: Terms |
Nieuwe Stad, Distrik 1
RASHA menyilangkan kakinya sambil bertopang dagu. Matanya menatap lurus ke arah laki-laki di depannya yang sedang gencar-gencarnya melakukan presentasi. Sudah selama satu setengah jam ia terjebak dalam dalam rapat dengan calon investornya itu. Laki-laki di depannya itu merupakan salah satu orang yang memiliki jabatan tinggi di distrik 4, Mahendra Ekadipta. Seorang alpha bergaya flamboyan dengan tubuh cukup kekar. Mahendra dianugerahi dengan tekat baja, sehingga ia bisa tetap ngotot menyampaikan keinginannya, sekalipun Rasha sudah berulang kali mencoba mengatakan kalau ia tidak bisa memenuhi permintaan itu. Rasha hanya bisa mengurut keningnya. Sedari pagi kepalanya terasa pening dan lambungnya juga terasa perih. Ada gejolak dari lambungnya yang mulai merangkak naik hingga ulu hati. Rasha mulai merasa mual. Mungkin akibat ia melewatkan sarapan pagi, atau mungkin juga efek dari supressant yang ia pakai kemarin malam.
"—Intinya, yang saya minta cuma—"
"—Cuma bermain api dengan Ankawijaya." potong Rasha sambil memegangi pangkal hidungnya. Ia menatap alpha yang berdiri di seberang mejanya. "Investasi batu bara." Rasha kemudian beranjak bangun dari kursinya dan berjalan mendekat ke arah investor itu. Dua bodyguard Mahendra itu serentak berubah ke posisi siaga. "Batu bara. Isi bumi. Ankawijaya." lanjut Rasha pelan. Urutan kata yang ia pilih sudah cukup untuk menjelaskan alasan penolakannya.
Laki-laki bernama Mahendra itu bergeming. Matanya bergerak mengikuti sosok Rasha. Ia kembali mencoba merubah pikiran kepala keluarga Mahapraja itu lewat diplomasinya. "Sekarang jaman sudah berubah, Rasha. Nggak ada lagi monopoli bisnis. Jadi, apa masalahnya kalau saya juga ingin melakukan ekspansi ke bisnis batu bara?" Alpha itu tetap ngotot, sekalipun ia berusaha menyamarkannya dengan segaris senyuman. "Lagipula, saya mencoba berkali-kali menjelaskan keuntungan apa saja yang akan didapatkan oleh keluarga Mahapraja, kan?" sambung laki-laki itu lagi.
Rasha menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Kadang ia merasa kasihan pada alpha-alpha yang dikaruniai oleh persenan otot yang lebih banyak dari otak.
"Mahendra, secara tidak langsung yang anda minta dari Mahapraja adalah berbalik dari Ankawijaya lalu menutup mata. Dan seperti yang saya bilang, saya tidak bisa memberikan itu."
"Saya minta apa yang Mahapraja berikan pada Ankawijaya. Dan, saya jamin keuntungan yang akan didapatkan oleh Mahapraja akan lebih besar dari yang diberikan Ankawijaya. It's a good business." ujar alpha itu menyeringai. "Ankawijaya sudah berada di atas terlalu lama. Bukannya ini waktunya ia turun?"
Rasha menggelengkan kepalanya lagi lalu menatap Mahendra dengan tajam. Dengan satu tarikan nafas ia berkata, "Ankawijaya sudah berada tepat dimana ia seharusnya berada." ujar Rasha dingin. Tatapannya menghunus. "Dan mungkin sudah saatnya anda juga pulang ke tempat anda seharusnya berada. There is nothing else I can do for you." sambung Rasha lagi, menutup pembicaraan itu.
Mahendra menggertakkan gigi dan menatap Rasha tajam. Hal serupa dimimik juga oleh kedua penjaganya yang berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri. Namun, berulah di dalam kediaman Mahapraja hanyalah sebuah misi bunuh diri. Karena itu, Mahendra memilih untuk mundur. Setidaknya untuk saat ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE BΩSS [BXB]
General Fiction"What if" Rasha take the throne? THE BOSS S t a t u s : c o m p l e t e [ 2018 - 2020 ]
![THE BΩSS [BXB]](https://img.wattpad.com/cover/136534735-64-k185080.jpg)