Chapter 12: Help

3.6K 426 26
                                        

Disclaimer: Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, tidak ada unsur kesengajaan dan hanya kebetulan semata.

WARNING: BL, Boyxboy, Gay stories, Omegaverse, Mafia AU.

A/N:

Change of mind.

Actually, I want to update this right on Acha's birthday but alas, I can't finish it on time.

So here it is,
happy belated birthday Aga & Acha.




| Chapter 12: Help |



Ritjveld, Distrik 4



WEWANGIAN dupa yang menyengat perlahan menyatukan kesadaran Rasha. Sang bungsu dari keluarga Mahapraja itu membuka matanya dan menemukan dirinya yang tengah berdiri tegak dengan rantai yang membelenggu kedua tangan dan kakinya. Rasha menarik napas panjang, berusaha untuk tidak panik. Dengan cepat ia mengobservasi sekelilingnya. Ruangan ini tampak asing. Sekeliling ruangan dikelilingi oleh dinding semen ekspos tanpa adanya ornamen penghias. Atmosfer gelap yang dihasilkan oleh karakter semen yang gelap didukung oleh absennya pencahayaan natural disana. Satu-satunya sumber cahaya yang ada hanyalah sebuah lampu bohlam yang tergantung di atas kepalanya. 

Dari belakang, terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat. Rasha melirikkan matanya ke arah sumber suara itu dengan waspada hingga akhirnya muncul sosok Mahendra Ekadipta yang menyunggingkan senyum sinis padanya.

"Sudah sadar, Rasha?" tanya Mahendra retoris. Ia pun menarik kursi kayu dari ujung ruangan hingga tepat berada di depan Rasha dan duduk disana. Sudut bibirnya meninggi. "Bingung kenapa kamu bisa ada disini?" tanyanya lagi.

Rasha tetap bergeming sembari memandang lurus ke arah Mahendra. Sepasang matanya bergerak memperhatikan setiap gerakan kecil yang diambil oleh sang alpha.

"Aku harus akui tadinya aku pikir rencana kami akan berantakan saat kamu mendadak keluar dari ruangan karena mengalami heat." ungkap Mahendra. Matanya menatap rendah pada Rasha. "Bahkan hingga akhir pun statusmu sebagai omega menyulitkan kami semua." cibirnya.

"'Kami'?" tanya Rasha.

"Kenapa? Kamu pikir hanya aku dan Nara yang membencimu? Atau bahkan Andrea? Tidak, Rasha. Hampir seluruh svar sapta sepakat bahwa tidak seharusnya seorang omega duduk sebagai kepala keluarga yang tergabung dengan svar sapta." ungkapnya sembari bangun dari kursinya. Sambil melangkahkan kaki mendekat ke arah Rasha, ia kembali menambahkan, "Kami hanya tinggal menunggu waktu untuk menyingkirkanmu. Dan sekarang adalah saat yang paling tepat."

Rasha tetap bergeming di tempat. Ia tidak mengatakan apa-apa, namun matanya menatap lurus ke arah Mahendra tanpa setitik pun rasa takut. Melihat itu, sang alpha menggertakkan giginya. Sebentar kemudian Rasha pun merasakan wajahnya panas lantaran dipukul oleh Mahendra. Saking kerasnya, cincin berlambang keluarga Caturangga yang dikenakan oleh Mahendra pun melukai ujung bibir Rasha hingga bibir sang omega itu pun mengeluarkan darah.

"Don't you dare look me in the face like that, you fucking omega." desis Mahendra sembari menjambak rambut Rasha dengan kasar. Ia lalu melanjutkan, "An omega like you only become useful when it comes to please us—alpha. Other than that? Don't even think that we are an equal."

THE BΩSS [BXB]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang