0.22

4.2K 644 226
                                        

Chenle terus memberontak dalam sekapan seseorang yang menariknya menjauh dari taman dan menyeretnya kesebuah gang sempit yang gelap. Pemuda itu panik setengah mati, takut-takut orang yang membekapnya ini akan membunuhnya dan mencincang-cincang tubuhnya lalu di hanyutkan disungai.

Ia belum siap mati. Chenle masih terlalu muda untuk kehilangan nyawanya secara sia-sia. Ia masih ingin membanggakan kedua orang tuanya. Pokoknya Chenle masih ingin hidup !

Ketika Chenle hendak menginjak kaki orang yang membekapnya, ia mengurungkan niatnya karena melihat seseorang lagi lewat di depan gang itu sembari mencari-cari keberadaan Chenle.

"Sial ! Cepet banget kabur nya." Umpat orang itu.

Tubuh Chenle menegang, jangan-jangan orang yang membekapnya ini akan menyerahkannya pada orang di depan gang itu.

Habislah riwayat Chenle kali ini.

"Sh*t, makin banyak aja suruhannya !"

Chenle membeku mendengar bisikan dibelakangnya. Suara yang sangat familiar di telinganya.

Ia pun perlahan memberanikan diri untuk menoleh kebelakang. Dari kegelapan ini dia masih bisa melihat warna blonde surai orang yang membekapnya.

Daehwi..

Syaraf ditubuh Chenle rasanya melemah setelah sebelumnya sempat menegang. Ia cukup lega ternyata seseorang yang membekapnya bukanlah penculik yang sedang mengincarnya.

Daehwi semakin memundurkan tubuh mereka saat orang yang mengejar Chenle tadi mulai bergerak lagi.

"Fiuhh.." Daehwi bernafas lega ketika orang itu pergi dari depan gang.

Ia melepaskan tangannya dari mulut Chenle lalu menarik saudara kembarnya itu tanpa menunggu Chenle berbicara terlebih dulu.

Yang bisa Chenle lakukan hanyalah mengikuti Daehwi yang sedang menyeretnya tanpa melayangkan protes sedikitpun.

"Lo balik sama Edward, okay." Tiba-tiba Daehwi memberi perintah.

Tak lama kemudian Guanlin menghampiri mereka dengan motor gede kesayangannya.

"Tapi.."

"Gak pake protes, cepet naik sebelum mereka balik. Mark pasti kerepotan nahan mereka."

"Jinyoung hyung.." Lirih Chenle, ia teringat Jinyoung tadi menahan para penculik itu agar ia bisa meminta bantuan.

"Jinyoung ? Dia dimana ?" Tanya Daehwi cepat.

"Gak jauh dari lapangan basket." Sahut Chenle.

"Okay, gue kesana sama Mark. Ed, anter Lele balik ya."

"Hei Dav, inget perjanjian kita. Lo jangan ikut berantem, okay ?" Guanlin memperingati.

Daehwi tersenyum tipis, menepuk pundak Guanlin lumayan keras sebelum berkata.

"Tergantung situasi dan kondisi." Setelah itu ia langsung berlari meninggalkan Guanlin dan Chenle.

Chenle masih mematung di sisi motor Guanlin sembari menatap punggung Daehwi yang semakin menjauh.

"Ayo balik, disini bahaya." Ajak Guanlin membuyarkan lamunan Chenle.

"Tapi mereka ?"

"Gak usah khawatir, Mark pasti bisa lindungin Dav.. Daehwi. Ayo, sebelum penculik itu ngeliat kita. Gue gak jago beratem soalnya." Guanlin memamerkan sederet gigi rapinya yang jika Jisung melakukannya Chenle pasti akan mengatakan itu adalah senyuman bodoh.

Mau tak mau Chenle pun naik keatas motor Guanlin daripada harus merepotkan ketiga orang yang sedang mengalihkan perhatian para penculik itu.

"Tapi kita jangan bener-bener pulang ya ?" Pinta Chenle. Ia tetap khawatir pada Jinyoung dan Daehwi.

Si Kembar | DAEHWI X CHENLE [END] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang