Guanlin benar-benar membawa Chenle ke apartemen yang ia tinggali bersama Minhyun, meskipun belakangan ini Minhyun jarang berada di apartemen karena mengurusi si 'calon suami' yang masih menjadi sanderanya. Lagipula Guanlin bingung karena Chenle terus menangis tanpa suara, enggan beranjak dari tempatnya ketika Guanlin menawarkan diri untuk mengantar Chenle pulang, namun pemuda manis itu bergerak ketika Guanlin dengan pasrah mengiyakan permintaannya untuk pergi ke apartemen Guanlin.
Lelaki Taipei itu sibuk di dapurnya untuk membuatkan cokelat hangat karena melihat tubuh Chenle menggigil. Sementara ia mengizinkan Chenle menggunakan kamar mandinya ketika pemuda itu meminta.
Beberapa menit berlalu, Chenle keluar dari kamar mandi dengan setelan kaos oblong kebesaran dan celana training kepanjangan yang di gulung milik Guanlin. Sungguh, kaki Guanlin begitu panjang membuat celana itu benar-benar menenggelamkan kaki Chenle.
"Guanlin.." Chenle memanggil pelan. Pria Taipei itu seperti sedang sibuk dengan game di ponselnya.
"Oh, lo udah selesai. Sini duduk." Guanlin menepuk sisi sofa yang kosong. Ia mematikan ponselnya kemudian menyodorkan secangkir cokelat yang asapnya sudah menipis karena Chenle mandi terlalu lama.
"Lo, gak bilang Daehwi kalo gue disini kan ?" Cicit Chenle.
"Gue bilang." Jawab Guanlin enteng. Mata Chenle membelalak.
Bukannya apa-apa, ia hanya sedang malas berada di rumah yang nantinya akan di introgasi oleh kakak dan kedua orang tuanya karena mata sembabnya.
Chenle hanya sedang butuh sedikit waktu untuk menyendiri. Menenangkan otaknya yang begitu lelah berpikir akhir-akhir ini. Dan jika Daehwi tau ia disini, kemungkinan kembarannya itu akan datang dan menyeretnya pulang.
"Gue bilang, tapi gue juga bilang ke David buat biarin lo disini dulu. Gue cuma gak mau orang-orang dirumah lo khawatir karena si bungsu ini gak ada kabar." Jelas Guanlin.
Chenle menghela nafasnya pendek. Ia menyesap cokelat hangat buatan Guanlin yang ternyata lumayan bereaksi merenggangkan otot syarafnya.
"Sebenernya lo salah milih tempat kalo lari kesini buat ngehindarin pertanyaan. Karena gue orangnya super kepo, bukan kayak Mark dan David yang bakal biarin orang itu buat cerita tanpa dipaksa." Ujar Guanlin.
"Gitu ya.." Chenle melirih. Kepalanya menunduk dengan tangan yang memainkan cangkir di genggamannya.
"Jadi, apa yang bikin si bungsu keluarga Kang ini murung ?" Guanlin benar-benar melempar kan pertanyaan pada Chenle.
"Gue cuma.. ngerasa kehilangan seseorang yang dulu selalu ada di deket gue dan gangguin gue setiap hari. Rasanya sekarang kayak ada yang kosong tanpa dia." Chenle mengambil jeda. Sekelebat bayangan bagaimana Jisung dan wanita itu berpelukan beberapa kali membuat hatinya teremas.
"Mungkin dia lagi sibuk, lo gak coba hubungin dia duluan ?" Tanya Guanlin lagi. Pria ini benar-benar kepo.
"Kayaknya gue gak pantes ngelakuin hal itu. Mengingat dulu gue sering banget ngacuhin dia." Chenle nyaris mengeluarkan air matanya lagi. "Mungkin ini karma buat gue." Lanjutnya.
"Kalo gitu, mungkin mulai sekarang lo bisa ngelakuin apa yang dulu dia lakuin. Lo kasih perhatian ke dia, lo terus datengin dia..."
"Gue gak bisa."
"Lo terlalu gensi ternyata."
Guanlin tersenyum tipis, ia mengalihkan pandangannya pada ponselnya yang menyala. Kemudian ia beranjak dari tempat duduknya.
"Gue mau keluar sebentar, lo mau nitip sesuatu ?"
Chenle menggeleng sembari mengucapkan terimakasih. Sementara Guanlin mengambil mantelnya, ia menoleh sebentar pada Chenle yang hanya menatap kosong layar tv yang mati kemudian keluar dari apartemennya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Si Kembar | DAEHWI X CHENLE [END]
Fanfiction[END] Daehwi & Chenle itu kembar tak identik. Yang satu berwajah Korea yang satunya Chinese. Begitupula ada cerita dibalik nama mereka yang jauh berbeda tidak seperti anak kembar pada umumnya. Tak hanya berbeda wajah & nama, Daehwi & Chenle juga mem...
![Si Kembar | DAEHWI X CHENLE [END]](https://img.wattpad.com/cover/142515556-64-k891410.jpg)