Aku menatap pemandangan jalanan ibukota di sore hari dari kaca jendela di sisi kananku. Aku terlalu malas untuk bertanya kemana Jhon akan membawaku. Seperti yang ia titahkan di telepon tadi, Jhon menjemputku tepat ketika pasien terakhir keluar dari ruangan.
Setengah jam melalui kemacetan, akhirnya kami sampai di depan rumah sakit swasta di bilangan Jakarta Pusat. Aku keluar dari mobil dan memandang bangunan megah yang sudah masuk kategori rumah sakit skala internasional itu.
"Nia." Aku menengok ke kiri setelah mendengar namaku dipanggil.
Rendi rupanya sudah tiba lebih dulu. Mobilnya diparkir tidak jauh dari mobil yang tadi membawaku ke sini. Ia masih berpakaian rapih dengan setelan jas hitamnya namun rambutnya yang sedikit berantakan tetap membuatnya tampan.
Ia mendekatiku dengan senyuman manisnya dan mencium keningku ketika sampai di hadapanku.
"Ayo." Ia menggenggam tanganku dan menarikku masuk ke dalam rumah sakit.
Aku memilih diam dan mengikutinya naik ke lantai 3. Kami berhenti di depan pintu bertuliskan "Sinta Mahadewi, spog"
Seorang perawat menyambut kami setelah ia mengetuk pintu. Seorang dokter wanita di pertengahan usia 40an meminta kami duduk. Tidak berapa lama kemudian, ia memintaku untuk merebahkan diri di atas ranjang. Alat usg berselancar di atas kulit perutku.
Rahimku sudah membesar dan mengalami penebalan. Menurut dokter karena baru dua minggu, kantong kehamilan belum terbentuk namun tubuhku sudah mulai memproduksi hormon kehamilan. Itulah sebabnya hasil tes packku positif.
"Janin bunda masih dalam tahap perkembangan. Ada baiknya bunda jangan stres dan kelelahan karena umur kehamilan muda sangat riskan. Saya akan meresepkan vitamin dan penguat kandungan untuk bunda minum setiap hari."
"Tolong resepkan juga obat mual dan sakit kepalanya dok." pinta Rendi.
"Baik pak. Tolong dijaga istrinya ya pak. Banyak bersabar karena wanita hamil biasanya emosinya tidak stabil. Dan juga ada baiknya jangan berhubungan intim dulu sampai trisemester pertama selesai."
"Baik dok. Terima kasih."
Suami? Pria ini bukan suamiku! Aku ingin sekali menjeritkan kalimat itu namun akal sehatku masih berfungsi dan menahanku untuk tidak melakukannya.
Aku menoleh ke kiri ketika Rendi menyentuh telapak tanganku. Aku baru sadar kami sudah sampai di depan apartemennya. Jadi sepanjang perjalanan tadi aku hanya melamun. Syok karena akhirnya semuanya berjalan sesuai yang ia harapkan.
"Aku ingin pulang." lirihku.
"Tidak, kau akan bermalam di sini. Kau terlalu pucat untuk pulang." titah Rendi.
Ia keluar dari mobil dan membuka pintu di sisi kananku. Tanpa mengucapkan apapun, ia menggendongku ala bridal style sepanjang koridor. Aku otomatis mengalungkan tanganku di lehernya karena takut terjatuh. Digendong dan menarik perhatian beberapa penghuni apartemen yang baru pulang kerja bukanlah hal yang ingin kulakukan.
"Turunkan aku. Aku bisa jalan sendiri." bisikku.
"Diamlah Ni. Bukankah sudah kukatakan, jangan membantahku."
Aku menyurukkan wajahku ke dadanya untuk menyembunyikan wajahku yang memerah karena malu. Rendi memasukkan password apartemennya dan mendudukanku di sofa ruang tamu. Ia berjongkok di hadapanku dan menyentuh pipiku.
"Kau merona. Kau malu aku gendong?"
"Menurutmu?" tanyaku ketus.
"Biasakanlah, karena mulai hari ini aku akan melakukannya jika kau pucat seperti tadi."
KAMU SEDANG MEMBACA
KANIA'S LOVER (Complete)
Romance"Kenapa kau memaksaku?" tanya Kania gugup. "Sejak dulu aku mencintaimu. Apakah ada alasan lagi selain itu?" tanya Rendi balik. Detik berikutnya Rendi mencium bibir Kania dengan lembut. Ia melumatnya. Kania hanya diam karena terlalu terkejut. Ini a...
