Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
-Bukan Pelakor-
Hinata tersenyum canggung. Dia tidak tahu, bagaimana dia selalu terjebak didalam situasi seperti ini. Awalnya Hinata hanya iseng, mengikuti kencan buta yang dia sendiri tidak tahu, kenapa dia bisa melakukan hal konyol seperti ini.
Apa yang Hinata cari? Hinata tidak tahu, dia hanya sedang mencari jawaban atas kekosongan hatinya. Terkadang Hinata ingin berlari. Mencari kesembuhan atas sakit yang tidak membaik dari segala rasa yang telah usai.
Tidak lebih dia hanya menguji hati dan perasaannya. Mungkinkah dia bisa bersama pria lain selain Sasuke? Atau mungkin semuanya hanya butuh waktu, namun Hinata enggan menunggu waktu yang menurutnya terlalu lama.
Hinata merasa dia tidak bisa jika hanya sembuh dengan seiring berjalannya waktu. Hinata butuh lebih pengalihan atas segala bekas luka yang ada dihatinya. Karna jika Hinata membiarkan lukanya sembuh dengan seiring berjalannya waktu, maka luka itu terasa semakin perih dan waktu terasa begitu kejam. Yang ada hanya Hinata ingin mencari jalan pintas dengan berbaring ditengah perlintasan kereta api, atau menenggelamkan diri ditengah dinginnya laut, mungkin.
Tapi Hinata tidak segila itu. Dia bukan kucing yang memiliki sembilan nyawa, yang bisa mati ketika lelah dan hidup lagi dengan nyawa lainnya.
Sebenarnya Hinata tidak butuh cinta, apalagi pria. Dia hanya ingin menikmati kesendirian dengan menyala, disambut oleh secangkir teh dan setumpuk buku romansa kesukaannya. Itu lebih membahagiakan dari apapun.
Namun Hinata juga tidak bisa serta merta membuang semua pria yang mencoba mendekatinya. Ketika ada pria yang mendekat, Hinata tidak langsung menolaknya. Hinata mencoba dulu membuka diri dengan menerima tawaran makan malam bersama atau sekedar menerima undangan minum teh diwaktu senggang.
Sejauh ini tidak ada yang istimewa.
Semua pria yang mendekati Hinata tidak ada satupun yang menggetarkan hatinya. Mereka hanya akan membual tentang pencapaian, atau terlalu berlebihan memuji kecantikkan Hinata yang endingnya hanya akan membuat Hinata merasa bosan bukan main.
"Bagaimana pertemuannya dengan Sasori-san? Berjalan lancar?"
Hinata menggeleng pelan. "Kalau bukan karna Sasuke-san agar bisa di undang ke event itu, aku tidak mungkin mau makan malam bersama pria kolot seperti Sasori-san."
Kakashi tersenyum dibalik masker hitamnya. "Tapi itu sebanding dengan tawaran mu, bukan? Berkatmu, Sasori-san akhirnya menepati janjinya untuk mengundang Sasuke ke acara itu."
Hinata mengangguk lemah. Sejujurnya tidak mudah membuat nama Sasuke untuk masuk ke daftar undangan event yang di adakan akademi Sasori. Semua butuh pengorbanan, termasuk memenuhi permintaan Sasori untuk makan bersama sekaligus meladeni semua rayuan keset yang tentu saja tidak akan mempan pada Hinata.