Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
⚠️gambar hanya pemanis, jangan lupa follow sebelum baca⚠️
-Bukan Pelakor-
Ketika di genggam, tangan mungil itu terasa begitu dingin dan lemah. Kulit yang biasanya bersinar bersih, kini terlihat meredup dan memucat. Bibir mungil yang biasanya berceloteh manja, kini terkantup rapat dengan bercak merah yang tampak sudah mengering. Tubuh hangatnya berangsur-angsur menghilang dan di gantikan oleh tubuh yang terasa dingin menusuk kulit Sasuke.
Seumur hidupnya Sasuke tidak pernah sekalipun membayangkan, kalau dia akan melihat tubuh putranya yang begitu kaku tanpa nyawa di atas ranjang rumah sakit. Bahkan ketika Sasuke memanggil-manggil nama putranya, Tanjhi hanya diam tanpa mau membuka mata dan memeluk Sasuke seperti biasanya.
Sasuke masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Air matanya sungguh tak terbendung saat dia memeluk tubuh ringkih yang tenggelam dalam dekapannya.
"Ku mohon Tuhan, ku mohon. Jangan ambil hidup anakku."
Sekali saja. Jika Sasuke bisa menukar apapun yang ada di dalam hidupnya, Sasuke ingin putranya kembali dan hidup seperti sedia kala.
Baru kemarin Sasuke mendengar suara tawanya, suara ceria yang selalu memanggilnya ayah. Tapi sekarang, jangankan memanggilnya ayah. Anak itu hanya diam membisu saat Sasuke menepuk-nepuk pipi dinginnya.
Jika ini mimpi terburuk yang Sasuke alami, tolong siapa saja bangunkan dia dan katakan bahwa semua ini hanyalah ilusi. Ingatan tentang putranya terus saja berdatangan mengetuk sanubari Sasuke. Seakan mengingatkan bahwa selama ini hanya Tanjhi yang selalu mengisi di setiap detik hidupnya.
Sasuke bahkan masih mengingat jelas bagaimana tangisan Tanjhi saat dia dilahirkan ke dunia ini. Dengan kedua tangannya sendiri, Sasuke menggendong, dan mendekap hangat bayi mungil yang Sasuke anggap nyawanya sendiri. Sasuke lah yang mengajari anaknya berjalan untuk pertama kalinya, Sasuke juga yang selalu mengajari Tanjhi tentang hal baru di kehidupan awalnya. Bahkan Sasuke ingat, betapa dia bahagia saat kata pertama yang di ucapkan Tanjhi adalah kata 'ayah'.
Air matanya tak mau berhenti setiap mengingat moment berharga bersama putranya. Sebentar lagi adalah hari ulang tahun Tanjhi yang ke lima tahun. Sasuke sudah menyiapkan banyak hadiah yang belum sempat dia berikan kepada Tanjhi.
Tapi kenapa?
Kenapa Tanjhi harus pergi disaat Sasuke tidak ada disamping putranya kala itu. Sungguh, rasa bersalah begitu menghujam hati Sasuke. Dia sangat menyesal meninggalkan Tanjhi dan membiarkan anak itu jauh darinya.
Sasuke terus menggenggam mainan yang di berikan dokter padanya. Katanya ketika Tanjhi datang ke rumah sakit, mainan itu masih tergenggam erat di antara jari-jari kecil Tanjhi yang seakan tidak ingin terlepas di saat-saat terakhirnya.