[23] BUKAN PELAKOR

3.1K 331 176
                                        


..Bukan Pelakor..



Malam terasa semakin dingin. Seharusnya Sasuke tidur lebih awal untuk mempersiapkan acara besok. Tapi kedua pelupuk matanya seakan membangkang bersama pikiran yang terus berkelana entah kemana. Sejak pertemuan tidak sengaja tadi, Sasuke sama sekali tidak bisa melupakan Hinata barang sedetik saja.

Perasaan rindu, hampa, takut, bercampur menjadi satu dan mengaduk-aduk hati Sasuke hingga rasanya tidak karuan.
Sasuke terus berfikir di dalam perasaan gundahnya. Haruskah semuanya berakhir seperti ini?
Haruskah dia menyerah begitu saja dan membiarkan Hinata menghilang lagi?

Sasuke menggeram frustasi. Pria itu mengacak-acak surai hitamnya dan terlentang bebas di atas ranjang. Sasuke takut jika dia menghampiri Hinata, maka wanita itu akan pergi lagi. Namun di sisi lain, Sasuke lebih takut jika dia tidak bisa melihat Hinata lagi.

Sampai disini, Sasuke dilema.
Dia ingin tinggal, tapi tubuhnya memberontak ingin mencari dan menemukan Hinata lagi.
Entah perasaannya saja, atau memang Hinata kini terlihat semakin cantik. Rasanya Sasuke tidak tahan ingin melihat wanita itu lagi.

Senyum cerahnya, suara lembutnya, pancaran manik mutiaranya, sungguh terngiang-ngiang di kepala Sasuke. Rasanya seperti ada yang meledak dari dalam dirinya.

Sasuke pun bangkit, terduduk dengan dada telanjang meskipun udara begitu dingin menusuk. Karena setelah pertemuannya dengan Hinata tadi, tubuh Sasuke terasa begitu panas. Bahkan berendam di dalam kamar mandi pun tak mampu meredam segala gejolak yang berkobar di dalam dirinya.

Kini Sasuke berdiri, melangkah pelan ke arah koper besar yang ada di atas sofa.
Setelah dia menemukan dan menggunakan baju hangatnya, di situ pula Sasuke telah memutuskan, bahwa detik ini, saat ini, waktu ini, Sasuke akan mengejar Hinata dan menggenggam wanita itu lagi.
Tidak peduli sejauh mana Hinata berlari, Sasuke akan terus mencari dan menemukan wanita itu lagi. Bahkan dia tidak peduli jika Hinata seribu kali mendorongnya menjauh, Sasuke akan tetap datang, walaupun dia harus terjun ke dasar jurang sekali pun, Sasuke benar-benar tidak peduli.

"Aku akan memperjuangkan mu, sayangku."

....

Sasuke tidak tahu di mana keberadaan Hinata saat ini. Namun tiba-tiba saja perkataan pria ber masker yang menyuruhnya datang ke kedai dekat hotel waktu itu, terlintas di kepalanya. Dan insting Sasuke mengatakan, pria itu ada hubungannya dengan Hinata.

Di sinilah Sasuke sekarang. Menghitung tiga lonceng yang bergantung di atas pintu.
Ini adalah kedai yang di bicarakan pria misterius yang menemuinya beberapa waktu lalu.
Sasuke melihat arloji yang ada di pergelangan kirinya. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, dan seingat Sasuke, pria itu menyuruhnya untuk datang pukul sembilan malam.
Masih sempat kah meskipun dia sudah terlambat satu jam?

Sasuke pun membuka pintu kedai dengan perlahan. Gemerincing lonceng menyapanya bersama dengan kehangatan yang menjalar memeluk sanubari. Di sini terasa sangat hangat dan harum sejak Sasuke malangkahkan kakinya masuk.

Suara gemericik teh yang di tuang ke dalam cangkir terdengar begitu indah. Potongan-potongan kue menebar menyebarkan aroma manis yang menggugah selera. Sasuke berjalan masuk mengikuti naluri hatinya. Meskipun di sini banyak pengunjung yang datang, namun suasana terasa begitu damai dan penuh kehangatan.

-BUKAN PELAKOR- ✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang