19 : Rain

426 98 9
                                        

Melihat hujan yang turun membuat Sohyun menggerutu pelan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Melihat hujan yang turun membuat Sohyun menggerutu pelan. Pasalnya, ia ingin sekali pergi menemui Jimin.

Yang benar saja. Lelaki itu dengan lancangnya memberitahu Jungkook perihal dirinya yang tiba-tiba menangis. Tentu saja Jungkook mengerti. Dia bukan pria bodoh.

Jimin sialan!

Mata cokelatnya terus mengamati setiap rintik hujan yang turun membasahi jendela kamarnya. Hujan di luar bertambah deras. Bangun tidur dengan disambut pemandangan hujan mungkin akan terlihat menyenangkan. Tapi tidak bagi Sohyun. Gadis itu benci hujan.

Hujan membuatnya selalu bisa memikirkan berbagai kenangan—baik itu manis maupun pahit.

Sohyun selalu benci ketika ketenangan hujan membawanya ke waktu lampau. Tepat dimana semua masalahnya bermula. Hatinya selalu teriris setiap kejadian itu menghantuinya. Yang semakin lama membuatnya semakin merasa bersalah.

Ia tahu ia bukan pembunuh. Tapi sebagian besar hatinya menolak itu. Menolak opsi bahwa Sohyun sebenarnya memang bukan pembunuh dalam kasus kematian Ayahnya.

Ditambah dengan kematian Ibunya yang mendadak terjadi. Kenapa pihak polisi baru menghubunginya beberapa hari setelah kematian Ibunya?

Sohyun menghembuskan napasnya gusar. "Tidak ada yang lebih menyebalkan dari ini."

Diturunkannya tangan yang sedaritadi menyentuh dinginnya kaca jendela. Ia memutuskan untuk memasak sarapan demi mengusir ingatan-ingatan buruk yang terus berdatangan.

Sohyun sebenarnya agak takut untuk turun. Kejadian semalam memang memalukan, tapi tak bisa dipungkiri bahwa gadis itu lebih takut dengan suara hujan. Mengalahkan rasa malunya karena menangisi seorang pria brengsek yang berciuman dengan wanita lain.

Sepanjang jalan menuju dapur, Sohyun sama sekali tidak melihat tanda-tanda bahwa Jungkook ada di rumah. Biasanya pria itu menonton TV di ruang tengah setiap kali Sohyun terbangun. Tapi sekarang?

Ruang tengah itu kosong. Hanya suara rintik hujan yang masih bisa didengarnya.

Dua hari belakangan ini, Sohyun jarang sekali bertemu dengan Jungkook. Pria itu selalu pergi saat dirinya bangun dan pulang disaat akan tidur kembali. Sohyun tidak mau berpikir bahwa Jungkook sengaja melakukan itu. Mungkin saja ia memiliki banyak urusan pekerjaan yang tidak bisa ditinggal atau dikerjakan di rumah.

Sohyun memaklumi hal itu. Siapapun tidak bisa meninggalkan pekerjaannya kalau masih ingin bertahan hidup. Ditambah dengan dirinya yang menambah beban Jungkook. Kalaupun ia marah, bisa jadi ia akan terbangun di kolong jembatan pada pagi harinya.

Di dapur, Sohyun mulai mengambil bahan-bahan untuk memasak ramyeon. Gadis itu dengan cekatan mengambil panci, kemudian mengisinya dengan air. Setelah merasa cukup, ia meletakkan panci itu ke atas kompor. Menyalakan kompor dengan api sedang.

Sambil memasak, ia memikirkan banyak hal. Diantaranya berhubungan dengan kematian Ibunya yang belum lama ini terjadi. Sohyun belum sempat pergi ke makamnya. Entah bagaimana, pihak polisi menolak memberikan tempat penguburan Ibunya. Padahal mereka sendiri tahu bahwa Sohyun adalah anak dari korban kecelakaan itu.

Bagaimanapun juga, Sohyun harus berkunjung ke makam Ibunya jika tidak mau dianggap anak durhaka. Daripada pusing sendiri, Sohyun memutuskan untuk menanyakannya pada Jungkook ataupun Jimin nanti.

Entah kenapa, pikirannya hanya tertuju pada dua nama itu setelah bertanya-tanya kepada siapakah ia harus menanyakan hal ini. Dua pria itu jelas memiliki pengetahuan yang luas. Dan cerdas tentu saja. Jadi, pada siapa lagi ia harus bertanya?

* * *

Sohyun meletakkan mangkuk bekas ramyeon-nya yang sudah dicuci ke rak piring. Perutnya kenyang sekali. Ramyeon mampu menghilangkan rasa laparnya dalam sesaat. Mungkin itulah alasan Sohyun tetap menyukai ramyeon meski sisa makanan dari Ibunya.

Gadis itu berjalan meninggalkan wastafel menuju kamarnya. Berada di rumah sebesar ini dengan hujan yang semakin deras membuat nyalinya menciut. Kamar adalah tempat terbaik untuk mengusir rasa takutnya—sejauh ini.

Jendela ruang tengah tiba-tiba terbuka. Gadis itu memekik sesaat, tapi tak lama ia bergerak menutup kembali jendela yang tertiup angin kencang.

Mata cokelatnya tak sengaja menangkap sebuah kertas yang jatuh dari meja TV. Dengan penasaran, ia mengambil kertas itu. Dadanya mendadak bergemuruh ketika membaca setiap kata yang tertera dalam kertas itu.

UNDANGAN PERNIKAHAN
JEON JUNGKOOK & YOON HYOJIN

Matanya membelalak tak percaya. Saking kagetnya, tangannya tak sengaja menjatuhkan undangan itu ke lantai. Ia tidak tahu apa yang saat ini tengah dirasakannya. Sakit. Sakit yang membuatnya ingin menangis lagi seperti kemarin malam.

Kenapa ia harus merasakan sakit? Padahal itu hanya undangan pernikahan biasa. Ia jelas tidak punya perasaan apapun pada majikannya. Tidak baik bukan, melibatkan perasaan khusus disaat kau sedang bekerja?

Ini konyol. Sohyun tidak mungkin menyukai Jungkook. Setelah apa yang telah pria itu lakukan, tidak ada alasan untuk Sohyun jatuh cinta padanya. Tidak, itu tidak mungkin.

Gadis itu jatuh terduduk. Matanya memanas. Tangannya bergerak memukul-mukul dadanya, berharap rasa sesak dan sakit yang berkumpul disana akan keluar dengan sendirinya.

Satu hal lagi yang membuat Sohyun membenci hujan. Bahwa saat itu ia sadar telah menyimpan perasaan tersendiri untuk Jungkook.

 Bahwa saat itu ia sadar telah menyimpan perasaan tersendiri untuk Jungkook

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sorry gaes pendek bet chapnya. Aku lagi badmood buat nulis, tapi ngebet pengen publish cerita😂

Besok kalo bisa apdet:"

Btw, suka yang mana nih:
1. Tiap minggu apdet tapi pendek
2. Dua minggu sekali apdet tapi long chap (1000+)

Serenity ; jjk+kshTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang