Hari Senin.
Kisha tahu ia tidak mungkin menghindari hari yang paling dibenci oleh semua pelajar di belahan bagian mana pun kecuali jika hari itu berubah warna menjadi merah yang artinya akan menjadi surga untuk menambah satu hari libur.
Tapi Kisha memiliki alasan yang berbeda untuk membenci hari Senin. Bukan karena alasan sepele seperti para pelajar pada umumnya yang terlalu malas memulai hari panjang di sekolah atau semacamnya.
Hanya ada satu alasan.
Ya, semua karena Reo.
Setelah apa yang cowok itu lakukan padanya semalam, Kisha berusaha untuk melupakannya meski sulit. Ia bahkan merasa waswas untuk masuk ke dalam rumah, khawatir jika mama atau adiknya melihat adegan pemaksaan Reo terhadapnya. Untungnya, keduanya sedang menikmati siaran TV dan tidak menyadari apa yang sedang terjadi padanya.
"Kenapa muka lo masam sih pagi-pagi?"
Kisha yang mengigit roti panggangnya sambil melamun langsung menoleh pada Dio yang sibuk memasang dasinya, "Anak kecil gausah tau."
"Kak Reo lagi, ya?" tebak Dio dengan ekspresi jahil
"Sekali lagi lo ngomong, gue lempar roti."
Ancamannya tidak berguna karena Dio masih terlihat penasaran, "Kencannya ga berjalan mulus? Jangan berantem lama-lama, deh. Lo yang rugi ngga ada tebengan buat ke sekolah."
Biasanya Kisha akan mengabaikan godaan dari adiknya, tapi tidak kali ini. Kisha mengambil roti panggang terakhir di piring dan melemparkannya pada Dio yang dengan cepat melompat dari kursi untuk menghindar sebelum roti itu mendarat di seragamnya yang bersih.
"Gak kena, gak kena!" ejeknya sambil menjulurkan lidah
"Lo anak SD, ya?"
"Gue kan cuma nanya, lo sensitif amat sih. Yang berantem siapa, yang kena imbasnya gue dan roti panggang!"
Kisha membuka mulut untuk mendebat adiknya lagi, tapi suara bel rumah tiba-tiba menggema di ruangan, menandakan ada seorang tamu yang datang. Kisha langsung mematung dan hanya melihat pintu dari arah ruang makan dengan waspada.
Ia tahu siapa yang datang.
Melihat kakaknya yang hanya diam dan mendengarkan bel rumah dibunyikan, Dio langsung tahu siapa yang ada dipikiran Kisha. Karena mama sedang mandi, tidak ada yang menyuruh membuka pintu untuk tamu mereka.
"Biar gue yang buka," kata Dio jahil
Ia mengira jika Kisha akan menghentikannya dan mendapatkan kesempatan untuk menggoda kakaknya lagi, tapi hingga ia berada tepat di depan pintu, Kisha sama sekali tidak mengatakan apa pun dan hanya mematung di tempatnya sambil menatap pintu dengan waspada.
Entah apa yang terjadi diantara kakaknya dan cowok itu, yang jelas Dio harus membuka pintu untuk menyambut tamu sebelum mamanya yang sedang mandi menyadari tidak ada yang mau melakukannya.
Dio mengira akan melihat sosok yang ia kemarin bersamanya untuk berbincang dan membawa kakaknya untuk berkencan. Sosok yang sedikit membuatnya merasa curiga sekaligus segan itu tergantikan oleh sosok yang Dio sendiri tidak pernah mengira akan muncul.
"Hai," sapa cowok itu
"Uh, nyari Kak Kisha?" tanya Dio yang kemudian menyadari jika pertanyaannya sudah jelas. "Sebentar ya, kak."
Dio langsung masuk kembali ke dalam rumah untuk menemui Kisha yang masih duduk di tempatnya, masih dengan wajah kaku yang putus asa.
"Kak-"
"Iya, gue tau. Dia udah datang, kan?" potong Kisha menghela nafas. "Gue mau nunggu mama dulu buat pamitan."
Dio langsung duduk di samping Kisha, "Kak, lo beneran mau pergi ama dia?"
KAMU SEDANG MEMBACA
It's a game, baby!
RomanceBagaimana jika kebebasanmu direngut hanya karena sebuah permainan yang menjadi tradisi di sekolah barumu?
