Sejak ia bertanya pada Dira di hari itu, Kisha terkejut teman sebangkunya itu tidak memperlakukannya berbeda. Bahkan, sikap cewek itu padanya sama sekali tidak berubah mengingat pertanyaan yang bersifat menuduh.
Kisha mengira jika Dira akan terkejut atau tersinggung. Tapi ternyata tidak, bahkan jawaban yang diberikan padanya terdengar ambigu hingga Kisha memutuskan untuk tidak mengatakan apa pun lagi tentang Panitia.
"Kenapa lo?"
Mendengar suara yang sangat ia hapal itu membuat Kisha tersadar dari lamunannya dan melihat Reo yang datang membawa sepiring sate padang lengkap dengan jus jeruknya.
"Makasih," ucapnya yang lalu melihat dengan bingung ke arah Reo. "Kakak ngga makan?"
Tanpa menjawab, Reo hanya menuding seorang cowok bertubuh kecil datang membawakan sepiring nasi goreng dan sebotol air mineral ke arah mereka. Melihat wajah cowok kecil itu, jelas sekali jika Reo memaksa untuk diantarkan makanan.
"Lain kali gue beli makanan punya gue sendiri."
"Kenapa?" tanya Reo membuka tutup air mineralnya
"Gue ngga mau duduk manis di sini, merepotkan kakak dan orang lain."
"Gue ngga merasa direpotkan."
"Kalau gitu gue merepotkan orang lain."
Reo berdecak, "Orang lain siapa maksud lo, sih?"
"Siapa pun itu yang kakak suruh antar makanan punya kakak."
Seakan mengerti maksud dari Kisha, Reo tertawa sambil menyendok nasi goreng ke mulutnya. Ini bukan pertama kalinya Reo mengajaknya ke kantin untuk makan siang bersama dan menyuruhnya untuk duduk sementara ia memesan makanan untuknya lalu orang lain membawakan makanan cowok itu.
Awalnya Kisha sendiri pasti akan merasa ragu dan takut untuk menegur cowok itu, bahkan Kisha bermaksud untuk tidak menghancurkan kedamaian yang entah sampai kapan dapat ia rasakan. Tapi kali ini tidak mungkin baginya untuk berdiam diri melihat perlakuan Reo yang seenaknya.
"Nanti pulang sekolah ikut gue."
"Ngga mau."
Reo berhenti menyendok nasi gorengnya dan menatap Kisha lurus-lurus, "Lo bilang apa tadi?"
"Gue bilang ngga mau."
"Apa gue nanya lo mau ikut atau ngga?" balas Reo yang membuat Kisha terdiam. "Gue jemput lo nanti."
Kisha membalas tatapan kekasihnya itu dengan tidak suka, "Mau kemana?"
"Ngedate," jawab Reo lalu tersenyum manis. "Udah lama kita ngga jalan, kan?"
Entah Kisha harus merasa senang atau kesal karena senyuman Reo sanggup membuat Kisha sedikit tersipu meski dengan niat memaksanya untuk ngedate. Kisha berharap jika cowok itu bisa mengajaknya dengan sedikit normal, tidak dengan pemaksaan yang membuatnya harus kesal terlebih dulu.
"Oh, ya." Reo mendadak berubah serius. "Lo masih mencari tahu soal Panitia?"
Jantung Kisha seakan berhenti berdetak untuk sedetik sebelum ia mengumpulkan keberanian untuk bertanya, "Kenapa?"
Reo mengangkat alisnya, kebiasaan cowok itu yang Kisha hapal saat tidak ingin mendengar jawaban lain selain jawaban dari pertanyaannya.
"Iya, gue masih cari tahu soal Panitia. Terus?"
Reo mendecakkan lidahnya sambil menyandarkan punggung pada kursi, "Lo keras kepala, ya?"
"Kalau gitu putusin aja cewek keras kepala kayak gue kalau kakak ngga suka."
KAMU SEDANG MEMBACA
It's a game, baby!
Roman d'amourBagaimana jika kebebasanmu direngut hanya karena sebuah permainan yang menjadi tradisi di sekolah barumu?
