Kisha POV
Dua cowok ini memang... entahlah. Semacam monster atau makhluk bernama manusia yang mempunyai otak namun tidak dapat berpikir, mungkin?
Apa aku kurang jelas mengatakan kalo aku benci dipertaruhkan? Oke, mereka tidak mempertaruhkan aku dengan brutal seperti semalam melainkan membuatku menjadi juri mereka sekaligus hadiah mereka! Entah kenapa hal itu membuatku semakin parah.
"Bentar deh," ucapku menginterupsi,"Kakak berdua... mau memperebutkan apa sih sebenarnya?"
Hanya dengan pertanyaan simple seperti itu, seluruh mata kelas dua belas tertuju padaku. Dan aku bisa merasakan betapa tajamnya tatapan mereka padaku melebihi tadi, mungkin bertanya-tanya kenapa aku berani membuka mulut di saat seperti ini.
Kak Reo mengangkat alisnya padaku,"Posisi jadi cowok lo. Meskipun harusnya udah gue tempatin sekarang ini."
"Ck, lo nempatin posisi itu karna ngancem ni cewek," sahut Kak Daniel
Ini juga termasuk ancaman kali.
Tapi tidak mungkin kukatakan seperti itu adanya. Bisa-bisa dikeroyok anak kelas dua belas plus Kak Daniel lagi. Tatapan mata dan bisikan-bisikan mereka aja udah bikin aku ingin menggali tanah dan nyemplung bersembunyi disana berhari-hari.
"Oke, sekarang kita tentukan batas waktunya. Kapan mau lo?" tanya Kak Daniel
Aku menatap bingung,"Hah?"
"Lo yang tentukan kapan milih satu diantara kita."
Aku yang milih? Beneran? Kalo tau gini sih, jawabannya gampang aja dan ga perlu khawatir daritadi.
"Gimana pas setelah kakak bedua lulus?"
Kan jadinya tu taruhan konyol ga jadi dilaksanakan.
"Ha?" Kak Reo terkejut. "Sekalian aja pas gue udah jadi kakek-kakek! Udah, gue aja yang nentuin!" gerutunya
"Kok gitu sih kak?!" sewotku
Kak Daniel,"Kelamaan, sha kalo ampe nunggu kita lulus."
"Lo sih bego, ngasih ni anak kekuasaan kayak gitu. Gue aja yang mutusin, mulai dari hari ini sampai bulan depan. Gimana?"
Kalo waktunya se singkat itu sih, Kak Daniel pasti jawab...
"Oke, bulan depan. Tiga puluh hari lagi, siapa yang bakal dipilih ni anak."
Sial.
Begitu saja? Lagi-lagi tanpa persetujuanku dan... sebenarnya dimana hakku sebagai manusia di sini?!
"Gimana menurut lo pada?" tanya Kak Daniel ke arah kerumunan kelas dua belas
Sorakan dan tepuk tangan langsung menggema membuat dua cowok yang disegani di sekolah itu tersenyum puas satu sama lain. Sedangkan aku, hanya bisa berdiri di pojokan ingin menggali lubang dan tidak ingin keluar dari tempat itu selama-lamanya.
Atau lari. Hingga ke ujung dunia. Mungkin menjadi buronan FBI akan lebih baik daripada posisi seperti ini.
"Ehm... Kak," panggilku dan dua cowok itu menoleh
"Uda boleh balik ke kelas?"
Kak Daniel mendekatiku, menyampirkan tangannya pada bahuku dengan santai,"Oke. Gue anter lo ampe kelas."
"Gantian bro,"sahut Kak Reo menepis tangan kak Daniel dan menggantinya dengan tangannya yang sekarang di bahuku,"Lo yang jemput, gue yang anter."
"He? Lo takut kalo akhirnya ni cewek milih gue?"
Kak Reo mengangkat alisnya,"Takut? Gue? Heh, Lo kalo mau ngelawak lucu dikit kek."
Lihat. Mulai lagi dengan pertengkaran konyol mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
It's a game, baby!
RomanceBagaimana jika kebebasanmu direngut hanya karena sebuah permainan yang menjadi tradisi di sekolah barumu?
