KISHA POV
Cowok itu benar-benar muncul di depan rumahku, dengan penampilannya yang rapi dan bersih seakan cowok itu seorang murid teladan yang dapat dipercaya oleh semua orang. Dan seperti biasa pula, cowok itu memperdaya Mama dengan kalimat manisnya sambil memanfaatkan wajah tampannya.
Itu semua sudah biasa.
Yang tidak biasa adalah ketika Kak Reo membawa motornya dengan pelan, nggak ngebut seperti yang biasa cowok itu lakukan. Entah apa yang membuat Kak Reo tiba-tiba saja berubah, tapi aku yakin jika ada sesuatu yang cowok itu rencanakan. Ya, selalu ada alasan kenapa cowok itu melakukan sesuatu.
Kami sampai di sekolah lebih awal tiga puluh menit sebelum bel sekolah berbunyi, yang menguntungkan bagiku karena masih belum banyak murid yang akan melihat kami bersama. Mengingat apa yang akan aku umumkan pada mereka hari ini membuat perutku langsung sakit.
"Turun," ujarnya ketika kami sudah tiba di parkiran
Aku menunduk ketika turun, tidak ingin melihat wajah-wajah penasaran karena kami yang lagi-lagi datang bersama. Sejujurnya, kurasa tanpa aku umumkan sekalipun tentang hubungan penuh pemaksaan ini, semua orang sudah mengerti.
"Mau gue anter ke kelas?" tanyanya sambil membuka dua kancing teratas kemejanya
Aku mendengus. Sudah kuduga dia akan kembali ke penampilan aslinya saat di sekolah meski nada bicaranya lebih lembut, aku tidak bisa menyangkal hal itu.
"Ngga usah. Gue bisa sendiri," tolakku berbalik meninggalkannya
Namun kurasakan tangan di bahuku, "Jangan lupa nanti."
Aku tahu apa maksudnya. Tentu saja tentang janjiku, "Kapan?"
Kak Reo tersenyum tipis, "Nanti lo bakalan tau."
Cowok itu sudah pergi sebelum aku bertanya lebih lanjut, membuatku semakin yakin jika dia memang merencanakan sesuatu untuk hari ini. Aku tidak bisa melakukan apa pun untuk menghentikannya jika sudah seperti itu, bukan?
Aku melangkah menuju kelasku sambil bersenandung, tidak memperdulikan pandangan dari sekelilingku yang entah kenapa sedikit berbeda hari ini. Apa mereka harus seheboh itu karena aku datang bersama dengan Kak Reo?
Kalau mereka ingat, ini bukan pertama kalinya aku datang ke sekolah bersamanya. seharusnya itu bukan hal yang besar lagi.
Saat memasuki kelas, kulihat hampir semua orang sudah datang. Termasuk Dira dan Talhah yang sedang berbicara dengan Hana dengan raut wajah serius yang membuatku penasaran, apa yang sedang mereka bicarakan?
"Pagi!" sapaku pada mereka
"SHAAAAAAA!" Teriak Dira memelukku. "Lo udah liat mading aula?"
Aku mengeryit bingung, "Gue ngga lewat aula tadi... ada apa?"
Aku masuk ke gedung sekolah lewat pintu samping yang menghubungkan langsung dari parkiran, jadi aku tidak melihat apa yang ada di aula. Tapi melihat reaksi Dira, Talhah dan Hana, aku yakin jika ada sesuatu buruk.
Apa itu ujian yang akan datang dimajukan?
"THE END DIMULAI!"
DEG.
Oke, jantungku barusan saja hampir berhenti berdetak. Apa ini sebuah kebetulan? Bagaimana mungkin aku yang kemarin baru saja membicarakan tentang THE END dengan Kak Reo dan Kak Violet, hari ini permainan bodoh itu sudah dimulai?!
Bukankah Kak Violet bilang jika THE END diperkirakan akan dimulai satu atau dua minggu lagi?
"Gue ngga siap! Gue kira masih satu minggu lagi," ujar Talhah panik
KAMU SEDANG MEMBACA
It's a game, baby!
RomanceBagaimana jika kebebasanmu direngut hanya karena sebuah permainan yang menjadi tradisi di sekolah barumu?
