Difa masih terus fokus pada ponselnya yang menampilkan sebuah game yang kini tengah ia mainkan. Raut wajahnya sangat serius dan jari-jarinya begitu gencar menekan-nekan layar benda pipih itu.
"AH!" Difa menggeram kesal begitu permainan selesai tapi tidak happy ending. Yap,kalian pasti tau nama permainan itu. Mobile legend!
"Males lama-lama gue mainnya, " Difa menyimpan ponselnya kembali diatas meja dengan keras.
Lala yang sedari tadi memperhatikan Difa akhirnya berniat menghampiri lelakinya yang sudah lama ini tidak mempunyai waktu untuk bersamanya.
"Difa?" Panggil Lala sambil duduk dibangku sebelah Difa.
Difa tak menghiraukan ucapan Lala barusan.
"Difa kenapa? Kayak yang lagi kesel gitu." Ujar Lala tersenyum.
"Gak papa." Jawab Difa datar.
Lala semakin tersenyum bahagia. Ia sangat merindukan Difa.
"Kak Jasmine mana Dif?" Lala merasa aneh hari ini karena sejak tadi pagi Lala tidak melihat batang hidung cewek yang selalu saja nempel dengan Difa. Biasanya , jam istirahat seperti ini kak Jasmine selalu ngajak Difa ke kantin bareng ataupun diam dikelas bersama Difa.
"Dia gak sekolah , sakit." Jawab Difa lagi-lagi dengan nada dinginnya.
"Difa belum jenguk dia?" Difa merasa aneh dengan sikap Lala yang terus menerus sabar dan tak cemburu sama sekali pada Jasmine padahal kedekatannya dengan Jasmine begitu membuat sahabat-sahabat Lala merasa kesal.
Sebenarnya hati gadis itu terbuat dari apa?
"Gue gak tau rumah dia." Jawab Difa menghadap kearah Lala.
Belum lama mereka mengobrol tiba-tiba saja bel berbunyi.
Kring.. Kring.. Kring..
"Udah bel , Lala ke bangku Lala dulu ya," Pamit Lala bangkit menuju bangkunya.
"Tunggu!" Ujar Difa menahan Lala.
"Kenapa?"
"Ntar lo pulang bareng gue!" Ucap Difa dengan menekan kata "bareng gue."
Lala kaget bukan main. Mimpi apa dia semalam?
"Di..Dif...Difaa...Difa serius?" Tanya Lala terbata-bata saking gugupnya.
"Hm."
Senyum Lala semakin lebar. Ia pun berjalan menuju bangkunya yang sedari tadi kosong. Belum sampai di bangkunya saja ia sudah mendapat pelototan tajam dari sahabat-sahabat nya. Terutama Cindy.
"Sebenci itukah mereka sama Difa?" Tanya Lala dalam hati.
****
"Baik anak-anak , sampai disini dulu pelajaran kita kali ini. Sampai bertemu minggu depan." Ujar Pak Dino mengakhiri pembelajarannya dan pergi meninggalkan kelas.
Dalam hitungan detik , anak-anak pun sudah habis tak tersisa keluar dari kelas. Termasuk Lala dan ketiga sahabatnya. Mereka tengah berjalan di koridor menuju tangga bawah dan pulang.
"Eh iya guys , Lala hari ini gak pulang bareng kalian dulu ya." Ujar Lala ditengah-tengah perjalanan masih dengan senyum manisnya.
"Lah , kenapa?" Tanya Zahra heran.
"Iya tumben gak kayak biasanya?" Aisyah ikut menambahi.
"LALA PULANG BARENG DIFA.." Teriak Lala heboh. Kumat lagi kan hebohnya:(
"Segitu bahagianya lo pulang bareng dia?" Cibir Cindy. Ia terlihat berbeda. Ia seperti tak suka melihat Lala yang ingin pulang bersama Difa.
"Iya lah , ini kali pertama Difa ngajak Lala pulang bareng." Ujar Lala dengan yakin nya.
"Emang kenapa sih Cin , lo gak suka ya liat Lala bahagia?" Tanya Zahra heran.
"Bukannya gitu Ra , gue cuma muak sama sikap si Difa yang so manis itu padahal dibelakang dia sering banget nyakitin Lala." Kesal Cindy terang-terangan.
"Maksud lo apa hah!? Main dibelakang? Emangnya Difa selingkuh?" Zahra mulai terbawa suasana.
Lala yang mendengar itu sontak membulatkan matanya. Apa yang diucapkan Cindy itu benar?
Aisyah geleng-geleng kepala melihat Cindy dan Zahra yang berdebat tak ada habisnya.
"STOOOOP!!!" Teriak Aisyah tak biasanya.
"Ai kamu teriak?" Tanya Lala dengan polosnya.
"Sumpah gue gak nyangka lo juga bisa teriak." Ujar Zahra menepuk-nepuk punggung Aisyah pelan.
"Ih! Kalian malah bercanda!" Aisyah menepis tangan Zahra di pundaknya.
"Iya deh iya maaf." Ucap Lala dan Zahra berbarengan.
"Lagian kalian ngapain berantem sih! Kayak anak kecil aja." Cibir Aisyah tersenyum tipis.
"Lo tuh yang mulai!" Tuduh Zahra kepada Cindy.
"Iya iya , maafin gue. Omongan gue yang tadi jangan dianggap ya La." Cindy tersenyum kearah Lala.
"Okeee.." Ucap Lala spontan.
"Eh btw , kita udah lama gak dinner bareng. Ntar malem dinner kuy!" Ajak Zahra yang memang ada benarnya juga.
"Wah ide bagus tuh! Aku udah lama gak ikut kumpul bareng kalian juga. Iya gak sih?" Tanya Aisyah.
"Iya lah , orang lo sibuk pengajian teruus.. Haha!" Cibir Zahra bercanda.
"Eh Ara! Jangan gitu , kapan-kapan kita harus ikut Aisyah ke pengajian loh!" Ujar Lala sambil tersenyum antusias.
"Whatever lah La!" Pasrah Zahra.
"Cin , kamu ikut kan?" Tanya Aisyah kepada Cindy yang diam sedari tadi.
"Gue gak bisa." Jawab Cindy dingin.
"Ihh kenapaaaa?" Tanya Lala lebay.
"Maaf ya guys , gue emang lagi ada kepentingan ntar malam." Ujar Cindy memohon.
"Yaaah gak asik dong kurang satu." Lagi-lagi Lala merengek sedih.
Sedangkan disisi lain , Zahra merasa aneh. What happen? Ada apa dengan Cindy ? Mengapa akhir-akhir ini Cindy jarang ikut berkumpul dengan mereka? Apa ada yang Cindy sembunyikan?
****
#CuapCuapAuthor
Jangan lupa vote and comment ya❤
Konfliknya gak jadi aku publish sekarang , kalemin duluu aja ya hehe aku pending duluu gaiis😂Yang sabaaar❤Salam,
LastriNurhayati

KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta dan Kesabaran
Teen Fiction"Barangkali benar, hati paling keras hanya mampu diluluhkan oleh kelembutan cinta paling sabar yang memeluknya." ***** "CUKUP La! Hati lo gak terbuat dari besi ataupun baja! Mau sampe kapan sabar kayak gini?" ^^^^