39- Sengsara 50 Hari

1K 47 0
                                        

"Ini yang dinamakan kamar?"

"Kamar atau kandang ayam?"

"Ini kebon binatang?"

"Ini kamar atau rongsokan bekas?"

Pertanyaan yang membuat santri wati marah lainnya marah. Pertanyaan itu dengan mulusnya keluar dari bibir Temen Sepergilaan. Kurang beretika bukan. Ya, pastinya. Beberapa santri Wati hanya menggelengkan kepala menghadapi Temen sepergilaan. Mereka memakluki karena kebiasaan anak yang sekolah di luar pesantren tidak sama dengan anak yang sekolah di dalam pesantren.

"Hei! Ambilin koper gue! Ceepett!" perintah Wawa pada salah satu santri yang berdiri di sana.

"Ambil aja sendiri" celetuknya kesal.

"Hei! Lo gue bayar pakai dollar atau rupiah? Mendingan lo ambilin koper gue atau lo sengsara selama 50 hari ke depan" ancam Wawa.

"Ck!" dia berdecak kesal menghadapi sikap Wawa yang semena-mena seperti ini. Mau diapakan? Orang kaya bisa melakukan apapun dengan uang, iya kan?

"Udah pergi sana. Entar gue kasih lo duit!" usir Wawa. Dia pun pergi mengambil koper Wawa. Sebelum mereka pergi, salah seorang berpakaian syar'i dengan jilbab melewati lutut dan pakaian yang panjang sesuai syariah islam.

"Kalian jangan semena-mena di sini" ujarnya mencegah santri untuk mengambil koper Temen sepergilaan.

"Eh lo manusia sok suci, apa urusan lo? Lo juga mau uang?" cerca Titi blak-blakan.

"Kalian harus menghargai semua santai di sini. Jangan ada yang melakukan hal-hal yang merugikan orang lain. Aku tau kamu mempunyai uang yang banyak tapi tidak semua dengan uang bisa dibayar. Dan tidak semua dengan uang bisa menyelesaikan masalah. Ingat! Apa yang kita punya itu sesungguhnya milik Allah Swt. Kita harus mempertahankan dan mempertanggungjawabkan harta yang Allah titipkan pada kita." jelas wanita itu. Cukup panjang dengan penjelasan yang jelas. Sayangnya, semua penjelasan itu hanya masuk sebentar lalu keluar lagi dari telinga Temen sepergilaan.

"Bacot lu!" Titi melemparkan setumpuk uang dollar pada wanita tersebut. Uang tersebut langsung melumuri du hadapan dia. Semua uang berhamburan, tidak ada satupun dari mereka yang ingin mengambil uang itu. Memang dollar yang Titi lemparkan bernilai tinggi. Tapi tidak setinggi harga diri mereka.

"Ra, kita ke kamar aja yuk," tegur salah satu santri pada wanita berjilbab panjang di sana.

"Iya Ra, kita hanya disuruh Pak Kiai buat nganterin mereka bukan buat berdebat. Biarin aja mereka, Ra." tambah yang lain pada wanita syar'i itu.

"Oh namanya Aura Nurul Hidayah" batin Husnul yang tidak sengaja matanya tertuju pada name tag wanita yang ceramah tadi.

"Dasar manusia sok suci. Liat aja, 50 hari ke depan, lo bakalan gue buat malu! Dan jilbab lo bakalan yang kena sasarannya!" batin Titi. Terpangpang senyum beringas kesal dari bibirnya.

"Iya, Ra. Yuk!" ajak mereka. Pujukan mereka berhasil dan membawa wanita tante bernama Aura Nurul Hidayah atau yang sering disapa Aura. Dia adalah gadis yang berumur sama dengan Temen sepergilaan. Aura adalah pemilik dari pesantren ini. Hatinya yang lembut dan cara bicara yang sopan menjadikannya idola para santri baik yang santri perempuan ataupun laki-laki.

Setelah mereka pergi, Titi semakin teropsesi untuk membuat Aura sengsara dalam 50 hari ke depan.

"Hei dah! Sok suci tuh orang, entar diajakin mesum pasti engga nolak tuh!" celetuk Ema.

"Yaelah cewek kayak dia mah banyak di luaran. Ada yang wajahnya standar, ada yang babak belur bahkan ada yang wajahnya engga membentuk wajah" celetuk Wawa.

"Eleh sok tau lu, Wa!" cerca Ema.

"Dengerin gue, mulai besok kita harus buat si cewek tadi sengsara dalam 50 harus ke depan" jelas Titi serius.

"Aura namanya" celetuk Husnul.

"Gila lu, Ti. Kalo 50 hari kebanyakan, Nyet! Kenapa engga seminggu aja?" saran Ema.

"Namanya aja Titi pasti engga bakalan ada kata ampunan buat orang-orang yang bikes dia" celetuk Wawa seakan sangat mengerti dengan sifat Titi.

"Gini ya, gue bakalan buat dia sengsara. Gue engga biarin dia menghina kita tadi. Mana so-soan ceramah lagi. Seharusnya mau ceramah itu di masjid bukan di depan kita" ucap Titi. Tidak akan ada yang bisa lepas dari genggaman maut Titi untuk membalas dendam pada musuhnya. Ya, tampak jahat kan. Pastinya.

"Gila lo, Ti. Lo memang temen gue yang baik" Wawa memeluk cepat Titi.

"Alay, lo!" celetuk Ema. Selalu saja Ema dan Wawa mencari kesempatan untuk bertengkar.

"Ti, gimana kalo kita telusuri dulu kepribadian si Aura baru kita susun rencana?" ide Husnul.

"Bagus juga ide lo" setuju Ema.

"Gue nanya Titi pe'a!" cerca Husnul.

"Iya gue setuju. Ingat, kita harus hati-hati dengan siapa Aura tuh. Karna babunya banyak kayaknya" jelas Titi.

"Babu? Siapa?" tanya Wawa polos.

"Ya yang tadi di kanan sama kirinya itu lohhh" jelas Titi.

"Bener lu, Ti." celetuk Wawa.

"Tunggu aja lo, Aura. 50 hari ke depan lo bakalan gue buat sengsara!" Titi melebarkan senyum miringnya. Rasa tidak suka terhadap Aura sangat terpangpang jelas dari raut wajahnya.

****
Hai hai
Ada yang selingkuh itu kamu

Ih udah lama enggak ketemu 😂

Tbc geas. Ups maaf lama engga update.

Kasih aku vote kalian ya. Ingat! Vote kalian

tidak akan membuat diri kalian rugi sendiri.

Thanks

Wassalam😂

Pesantren? Oh NO!!! Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang