"Kalian boleh pergi" ucap ustad Adan.
"Assalamualaikum, Ummi, Abi, Ustad Adan" pamit Husnul dan menarik Titi keluar dari rumah pak Kiai.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatu" jawab mereka.
****
"Eh jangan tarik gue pe'a!" Titi mengh,empas tangan Husnul yang dari tadi menarik tangannya sepanjang perjalanan.
"Hei Husnul! Kenapa dengan lu? Elu kesambet?" tanya Titi penasaran dengan sikap Husnul hari ini.
"Hem hem!" suara dari orang yang tidak asing lagi. Ema dan Wawa.
"Woi!" panggil Titi pada Husnul.
"Op! Op! Husnul, elu kesambet setan?" celetuk Ema.
"Yaelah lu Husnul! Kok kesambet setan engga ngajak-ngajak sik" celetuk Wawa.
Ekspresi Husnul hanya pasrah mendengar celetukan ketiga sahabatnya. Memang sedikit aneh ketika dia ingin menjadi baik. "Gue mau hijrah" jawabnya pelan.
"What!" Sontak mereka bertiga berteriak tidak percaya.
"Hhhhh" tawa mereka pecah setelah membelalakkan mata.
"Elu hijrah?" Wawa menahan tawanya lalu langsung bertanya.
"Iya gue hijrah" jawab Husnul jujur.
"He! Gue ngerasa kalo elu suka sama tuh peramal" celetuk Titi penuh selidik.
"Peramal?!" teriak Ema dan Wawa tak percaya.
"Iya gue suka sama dia" jawab Husnul lagi jujur.
"Oh jadi elu berubah karna dia?" Titi menyinis nyinyir.
"Engga! Gue mau belajar islam. Dan gue mau menjadi baik" Husnul menyeret kakinya dan pergi dari hadapan ketiga sahabatnya itu. Entah mengapa dia memilih pergi.
"Woi!" panggil Wawa.
Setah Husnul pergi, Ema langsung bertanya penuh selidik pada Titi. "Woi, Nyet! Bukannya elu sama dia mau kabur kok engga jadi?"
"Ketahuan pe'a!" jawab Titi siangkat.
"Berarti sekarang Husnul jatuh cinta?" tanya Wawa menyelidik.
"Ya kali"
****
Tok tok tok
"Permisi ustad" panggil Husnul.
"Silakan masuk" ustad Adan mempersilakkan. Kedatangan Husnul hanya disambut hawa tegang dan sunyi di ruang kitab ini.
"Saya mau kasih ustad surat ini" Husnul menyodorkan surat kecil.
"Tolong dijawab ya ustad" Husnul langsung pergi tanpa melihat ekspresi ustad Adan yang tengah sibuk dengan buku tebal di depannya.
"He-" ustad Adan menoleh dan melihat Husnul sudah pergi dan meninggalkan surat yang diletakkan di depannya tadi.
Ustad Adan sedikit penasaran dan mulai membuka surat tadi.
Assalamualaikum ustad Adan,
Ana Husnul,
Maaf jika ana membuat ustad terganggu dengan membaca surat ini. Izinkan ana memberitahu isi hati ana pada ustad.
Ustad Adan menahan tawanya melihat kelakuan Husnul. Sedikit langkah, gadis seperti Husnul yang berani memberikan surat sebagai perantara isi hatinya, tidak sama dengan gadis-gadis yang lain dan hanya bisa menggombalkan ustad melalui gombalan yang receh terkadang mengundang gelak tawa.
Ana tahu ustad mungkin menyangka kalau ana gadis buruk. Jujur ustad, ana memang berasal dari luar jadi pantas jika ana belum terbiasa dengan kebiasaan di pesantren ini.
Sejak ana melihat ustad, ana sudah jatuh cinta pada ustad. Ana siap mendengar ucapan ustad setelah membaca surat ini. Maaf ustad jika ana hanya berani mengungkapkan dalam surat ini. Ana ingin mendengar jawaban ustad. Ustad mau mendampingi ana dengan melangkah bersama malalui akad???
Ustad Adan tertawa keras di ruang sepi ini. Dia cukup kaget setelah membaca surat kecil yang ditulis Husnul. Memang sedikit heran sejak pagi dia sudah bersikap beda.
Di sisi lain Husnul sedang tertawa bersama Aura di ruang kelas. Pembelajaran fiqih akan dimulai. Mata Titi, Ema dan Wawa melirik penuh selidik dengan tingkah Husnul dan Aura sejak tadi.
"Stut!" panggil Titi.
Ema dan Wawa mendekat ke arah Titi. "Dengarin gue, gue bakalan tikung Husnul" bisik Titi pada mereka berdua.
"What! Dia tuh temen kita, Ti." Wawa berpikir jernih.
"Bomad. Dia jahat, mau temenan sama tuh aura negatif. Masa kita dimusuhi" cerca Titi.
"Entar elu dibilang ijo kangkung lagi" celetuk Ema.
"Ijo kangkung?" Wawa mengerucutkan dahinya.
"Ikatan jomblo tukang tikung" jawab Ema.
"Ye, lagian gue engga suka sama tuh peramal." celetuk Titi membela diri.
"Peramal?"
"Ustad Adan" Titi memutar malas kepalanya.
"Ustad Adan?!"
"Kenapa kalian bertiga? Lagi ghibah tentang saya?" tiba-tiba ustad Adan muncul entah dari mana dan langsung menyambung pembicaraan mereka.
"Geer amat sik peramal!" Titi membela diri.
"Iye nih ustad, pede amat dah" tambah Wawa membela diri.
Ustad Adan datang untung mengajar. Padahal bukan dia sebenarnya yang mengajar melainkan ustadzah Murni. Dia menggantikan sebentar karena ustadzah sedang sakit.
Pembelajaran fiqih pun dimulai. Titi tertidur pulas mendengar ocehan tausiah ustad Adan yang menurutnya seperti mendongeng dongeng putri tidur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pesantren? Oh NO!!!
Teen FictionJuluki mereka dengan Temen sepergilaan.Temen sepergilaan yang gokil dan terlope. Temen sepergilaan yang suka membuat onar, dengan petikan jari mereka bisa berbuat apapun.Karena ulah mereka, mereka akan dihukum karena perbuatannya yang heboh dan meng...
