Episode 18 : Embrio

1K 36 1
                                    




Suara detikan jam mengisi kesunyian di kamar, aku bersandar di atas ranjang tanpa melakukan apa - apa. Ini semua karena Evan melarangku beraktivitas seharian ini, bahkan untuk membuat sketsa saja tidak boleh. Dia bilang karbon pensil bisa menyebabkan infeksi, tanda pagar logika Evan 2019. Untuk kali ini aku akan menurutinya, karena aku pribadi juga takut infeksi yang akan memperparah lemahnya kandungan rahimku.


Tapi keheningan ini mengakibatkan kebosanan tingkat tinggi yang bisa membuat aku infeksi juga, infeksi jiwa lebih tepatnya. Sejak siang aku hanya bisa bersandar, tiduran, bersandar lagi, tiduran lagi. Kejiwaanku mulai terguncang.


Aku menarik napas dan menghembuskannya, menoleh ke jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore, Evan belum pulang. Mungkin lembur karena dua hari ini dia pulang cepat untuk menjalani proses bayi tabung ini. Aku teringat kembali proses bayi tabung yang aku jalani beberapa minggu ini, keseharianku hanya bertemu dengan suntikan dan suntikan. Dokter Clara mengatakan jumlah sel telurku sangat sedikit dan tidak sehat, sehingga aku harus melakukan suntikan hormon lebih satu dua kali dari biasanya. Sisi baiknya mungkin, aku belajar menyuntik dengan baik dan sisanya merupakan sisi buruk yang menyakitkan dan jangan lupa rasa nyerinya.



Tapi aku tidak menyesalinya, aku sudah hidup dalam penyesalan selama empat tahun dengan menjauhi anak kecil. Apapun yang terjadi nanti, anak adalah pilihan utama di hidupku mulai saat ini.


Ceklek


Aku menoleh ke arah pintu yang dibuka oleh seseorang, Bree. Aku tersenyum  menyambut dia "Bree"


"Angel, bagaimana keadaanmu?" Bree melangkah mendekat dan mengambil tempat duduk di sisi ranjang sebelahku.


"Aku baik, Bree. Hanya Evan terlalu berlebihan menyuruhku berdiam diri di kamar tanpa bisa melakukan apa - apa" aku mengadu kekesalanku pada Bree.


Bree tertawa kecil.


"Jangan tertawa, Bree. Aku benar - benar kebosanan di sini, mungkin ini termasuk salah dokter Clara juga. Dia memberi banyak larangan selama proses IVF ini, padahal di transfer ke rahimku saja belum"

Bree menepuk punggung tanganku, "Mom mungkin tidak tahu tentang proses bayi tabung ini, tapi Mom pernah melahirkan dua anak. Jadi Mom tahu wanita hamil itu memang sangat banyak pantangan dan larangan. Yang paling penting dari wanita hamil adalah selalu merasa bahagia secara fisik dan mental. Jika dalam satu hari saja kamu tidak bisa tahan bagaimana dengan tiga bulan atau bahkan lebih. Apalagi Mom pernah baca di suatu artikel, imun tubuh bayi yang menggunakan kehamilan dengan bayi tabung lebih rentan daripada kehamilan normal. Mom mengerti rasa bosan yang kamu alami, apalagi kamu tipe wanita yang tidak bisa duduk diam. Tapi pikirkanlah kesehatanmu sendiri"


Aku terharu, kedua mataku berkaca - kaca padahal aku tidak sedang sedih. Aku memeluk Bree, sudah bertahun - tahun aku tidak pernah merasakan pelukan seorang ibu, aku membutuhkannya.
"Terima kasih, Bree. Aku membutuhkan itu"


"Sama - sama. Kamu bisa berbicara denganku kapanpun atau Gabby, dia memang sibuk dengan usahanya sendiri tapi ajaklah dia berbicara jika kalian berdua ada waktu. Mom lihat interaksi kalian sangat kurang"


Aku mengangguk di bahu Bree. Gabby, kakak iparku. Aku memang jarang berinteraksi dengannya. Selain karena pertemuan kami yang singkat dan aku masih merasa cemburu karena dulu Evan lebih memilih mereka daripada aku. Sekarang untuk memulai semua dari awal rasanya sangat canggung.


Aku melepaskan pelukan Bree "Bree nanti jika nanti aku hamil dan hanya bisa tiduran di kamar. Kamu harus sering - sering melihatku dan menemaniku, ya?"


Read Your Mind (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang