Spin-off dari
Dengarkan Suaraku versi Indonesia
Listen To My Voice versi English
Baca dulu cerita Dengarkan Suaraku. Tokoh utama saling berkaitan.
Setelah hampir empat tahun Angel King bersembunyi dari suaminya sendiri, Evan Black. Takdir mempertemu...
"Nah, sekarang kalian semua sudah bersih dan wangi" aku membereskan beberapa perlengkapan bayi yang baru saja aku gunakan untuk ketiga kembarku. Sejak aku menggendong Angelo untuk pertama kalinya, Ansell dan Vivian juga tidak ingin ketinggalan, mereka berdua semakin dekat denganku.
Dengan senang hati aku memberikan kasih sayangku kepada mereka. Seperti saat ini, aku memandikan mereka satu persatu karena mereka akan menangis dan merajuk jika bukan aku yang melakukannya. Bree menasihatiku untuk tidak terlalu memanjakan mereka, tapi menurutku perhatianku tidak terlalu berlebihan, malah aku sering mempertanyakan apakah kasih sayang ku sudah cukup atau masih kurang.
Lupakan masalah itu, aku hanya bisa memiliki mereka dan aku termasuk yang paling beruntung mendapat tiga sekaligus. Meskipun bertaruh nyawa itu tidak apa - apanya bagiku, bahkan aku akan melakukannya lagi dan lagi demi mereka.
"Gahh uuh giaa.." Vivian merayap mendekatiku, kedua matanya berwarna hazel gen dari Evan. Kedua tangannya terjulur padaku meminta di gendong. Aku tersenyum kecil dan duduk di karpet lembut yang sengaja di beli Evan untuk mereka. Aku membawa Vivian ke pangkuanku dan mencium aroma bayinya yang sangat aku sukai.
Vivian tertawa kegelian saat aku menggesekkan hidungku ke hidungnya. Tawanya menular padaku dan aku kembali melakukannya. Sampai aku merasakan dua lengan memelukku dari belakang dan mengecup pelipisku. Tanpa menoleh pun aku tahu siapa pemilik kedua tangan itu.
"Akhir - akhir ini aku merasa kamu lebih memilih mereka daripadaku. Aku juga membutuhkan perhatianmu"
Aku hanya terkekeh tanpa memperdulikannya. Vivian yang menyadari keberadaan Evan segera mencarinya dan meminta gendong. Aku mengulurkan Vivian pada Evan memperhatikan mereka berdua.
"Wajar saja jika aku lebih memilih mereka, karena kamu juga lebih mereka daripada aku" aku menoleh melihat dua kembar lainnya yang ternyata sibuk dengan mainan mereka.
"Tentu saja aku memilih mereka, karena ini hasil cinta kita berdua"
Aku memutar kedua bola mataku jengah, Evan terkekeh kemudian tangannya terulur mencubit pipiku. "Ouch" aku melototinya.
"Hampir setiap hari kamu mengurus mereka bertiga sekaligus. Jangan terlalu memaksakan diri Angel, nanti kamu kelelahan"
Aku menggeleng dan tersenyum tipis "Sama sekali tidak. Aku menikmati setiap momen bersama mereka. Aku bahagia"
Evan menurunkan Vivian dan merebahkannya di antara dua kembar lainnya. Kemudian kembali menoleh padaku, tangannya meraih tanganku, spontan aku mengangkat wajah menatapnya.
"Angel, sudah hampir enam tahun umur pernikahan kita. Waktu kita berdua hidup bersama hanya terhitung tiga tahun, waktu yang benar - benar kita habiskan bersama hanya satu tahun. Saat aku memikirkan kembali tentang kehidupan pernikahan kita, banyak waktu yang kita buang sia - sia. Tapi bagaimanapun juga aku menganggap semuanya sebagai pelajaran hidup"
Benarkah ini Evan? Sejak kapan dia bisa membuat kalimat panjang dan sedikit romantis di saat bersamaan? Aku mengangkat tanganku merasakan suhu dahinya "Kamu tidak sedang flu kan?"
Evan meraih tanganku yang di dahinya dan membawa ke bibirnya menanamkan kecupan di punggung tanganku. "Aku sangat mencintaimu Angel. Karena itu...."
Aku memperhatikkan gerakan Evan, dia memasukkan tangannya ke saku celana dan mengeluarkan sebuah kotak hitam kecil. Aku menaikkan alisku melihat kotak itu.
Evan membuka kotak itu memperlihatkan sebuah cincin perak bermata berlian "Will you marry me?"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.