Episode 22 : Suicidal

890 37 5
                                    





Aku mondar mandir di dalam kamar dengan pikiran berkecamuk setelah mendengar ucapan Gabby. Rencanaku yang telah ku atur sedemikian rupa terganggu karena kata - kata Gabby.




Aku menggigit jempolku, haruskah aku mencoba mengatakannya pada Evan tentang isi hatiku? Tapi apa gunanya jika hanya aku yang mencurahkan sedangkan dia tidak. Percakapan terakhir kami hanya di akhiri dengan pernyataan cinta, yang menurutku tidak bermakna sama sekali, setelah apa yang aku rasakan dan aku lihat hari ini.



Bree, sepertinya dia akan kembali bersikap seperti empat tahun lalu, menganggap aku tidak ada. Aku menghela napas lelah.



Tidak, aku tidak bisa mengambil keputusan dengan pikiran dan hati yang semrawut. Aku harus menenangkan diri dulu, mungkin tidur akan membantu. Tapi, aku tidak mengantuk sama sekali.



Aku duduk di depan meja rias, menghadap ke cermin. Lama menatap wajah yang menjadi pantulan ini, aku seperti tidak mengenal sosok itu, bibir pucat, tubuh yang ringkih, kantung mata yang terlihat jelas. Jika aku adalah Evan, pasti aku akan memilih seseorang yang lebih sehat daripada sosok yang ada di depanku ini.


Mungkin karena ini Evan malu membawaku sebagai pasangannya. Aku tersenyum miris dan menundukkan kepala.


Membuang napas kasar aku menjauh dari tempat itu, aku mencoba meregangkan otot - otot agar terasa lelah dan bisa segera tidur.



Setelah beberapa menit berlalu, aku berbaring di atas ranjang mencoba rileks, berguling ke kanan dan kiri mencari posisi ternyaman. Namun gagal, aku kembali bangun. Dengan setengah hati menoleh ke jam weker, waktu menunjukkan pukul lima. Tidak bisa tidur, aku menunduk, menopang kepala dengan kedua tanganku.



Pil tidur.



Aku mengangkat kepalaku, benar pil tidur, aku membutuhkan itu. Dimana pil itu? Aku masih ingat terakhir kali Evan menyembunyikannya, tapi dimana? Aku mengecek setiap laci nakas, lemari dan tempat yang mungkin bisa di simpan. Tidak ada? Atau Evan sudah membuangnya?



Tunggu, jika aku adalah Evan, tempat terbaik untuk menyembunyikan botol obat saat berada di atas ranjang adalah....




Aku memeriksa ranjang king size itu,

Bingo

Evan menyelipkan botol kecil itu di antara lapisan kasur. Cukup sulit menemukannya tapi aku berhasil. Aku membuka botol obat itu, masih tersisa delapan butir. Jika satu butir bisa membuatku tertidur dalam waktu dua puluh menit, mungkin dengan tambahan beberapa butir akan membuatku semakin cepat terlelap.



Aku duduk di sisi ranjang, mengeluarkan lima butir pil itu dan mengambil gelas yang berisi air di atas nakas. Aku meminum kelima butir pil sekaligus dan segera menenggak habis air putih di genggaman.



Kepalaku bergerak mencari tempat nyaman kemudian menutup mataku,bantu aku melupakan situasi ini sebentar saja, aku mohon.



Perlahan aku merasa tenang pada jiwa serta pikiranku. Dan aku terlelap dengan nyaman.





***




AUTHOR POV

Dari depan gerbang kediaman Black terlihat sebuah mobil berwarna hitam memasuki halaman menuju garasi. Dari dalam mobil keluar sesosok laki - laki, yang terlihat sedikit buru - buru berlari masuk ke dalam rumah.


"Mom. Angel. Gabby. Vallen. I'm home"


"Daddy" Vallen berlari mendekati Evan sambil merentangkan kedua tangannya, yang langsung di sambut Evan dan membawanya ke gendongan.


Read Your Mind (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang