Diam. Hanya itu yang bisa kulakukan. Tidak ada kata - kata yang mampu menggambarkan perasaanku saat ini. Evan mendekapku erat, aku hanya bisa diam tidak mampu membalas pelukannya. Aku merasa gagal menjadi seorang ibu bahkan istri, aku...
kehilangan janinku.
Flashback
"Ha..."
"Van" aku meremas perutku sambil merintih kesakitan.
"Kamu kenapa, Angel?" suara Evan terdengar meninggi disana.
"Aku di lift, cepat ke sini"
Aku membiarkan ponselku terjatuh melewati genggaman telapak tangan, spontan memeluk perut dengan kedua tanganku saat nyeri dan perih kembali menyerang, berharap dapat melindungi janinku. Mencoba menahan darah yang seperti akan mengalir keluar lagi, tapi sia - sia.
Suara derap sepatu pantofel terdengar mendekat,
"Angel"
Aku mengangkat wajahku menatap Evan "Sakit, Van...nh" air mataku mengalir menahan sakit dan nyeri di perut.
Evan segera membopongku kembali masuk ke lift dan menekan tombol ke lantai dasar. Aku merintih kesakitan di sepanjang jalan menuju rumah sakit. Evan fokus mengemudi dengan kecepatan di atas rata - rata, aku hanya bisa berharap agar kesakitan ini bisa segera di sembuhkan.
Aku langsung di bawa ke ruangan periksa oleh suster di sana, tidak tahu lagi apa yang mereka lakukan terhadap tubuhku, aku hanya bisa berharap sakit ini tidak akan berakhir dengan tragis. Aku terus meringis dan merintih kesakitan hingga kegelapan mengambil alih tubuhku dan semuanya hilang.
***
Aku bangun dari ketidaksadaran, mengerjapkan mata perlahan mengarahkan tanganku menyentuh perut, aku merasakan kekosongan di sana. Air mata dengan cepat memenuhi pelupuk mata. Tidak, aku tidak boleh berpikiran buruk. Aku segera bangun dari rebahan, pintu terbuka memunculkan Evan.
"Van"
Evan segera mendekatiku "Jangan bangun dulu Angel, kondisi tubuhmu masih lemah"
Aku menuruti Evan dan kembali merebahkan diri berharap bisa mendengarkan berita baik. "Van, apa kata dokter Clara? Janinku baik - baik saja bukan?"
Evan meneliti wajahku dengan tatapan itu. Tidak, aku tidak menyukai tatapan itu. Aku menggeleng "Van, janin kita baik - baik saja bukan?"
Evan memegang lenganku dan menenangkanku, "Sst... Tenang Angel, tenangkan dirimu.....
Dokter Clara bilang janinnya sudah tidak ada saat sampai di rumah sakit. Kamu.....keguguran"Seluruh tubuhku lemas, kehilangan tenaga. Tanganku merosot ke sisi tubuh tatapanku kosong. Aku....keguguran?
Flashback End
"Angel, kamu tidak boleh terus - terusan meratap nasib seperti ini. Tidak baik untuk kesehatanmu"
Aku menoleh sesaat pada Queen, kemudian kembali beralih ke luar jendela.
"Angel"
Aku memejamkan mata dan mengambil sedikit napas, aku mengulas sebuah senyuman tipis "Aku hanya mengingat kembali masa - masa dimana janin kami masih di dalam perutku, Queen. Aku merindukannya"

KAMU SEDANG MEMBACA
Read Your Mind (End)
RomanceSpin-off dari Dengarkan Suaraku versi Indonesia Listen To My Voice versi English Baca dulu cerita Dengarkan Suaraku. Tokoh utama saling berkaitan. Setelah hampir empat tahun Angel King bersembunyi dari suaminya sendiri, Evan Black. Takdir mempertemu...