"Kenapa kamu lakuin ini?"
"Karena aku cinta kamu,Nal"
"Tapi.."
"Gak papa. Dengan bahagianya kamu, aku juga bahagia"
"Aku pamit dulu ya? Jaga dia"
"J-"
"JANGAN!"
Dengan nafas menderu, Kinal terbangun dari tidurnya. Lagi - lagi mimpi seperti ini datang.
Kinal mengusap kasar wajahnya. Siapa sebenarnya gadis yang ada di dalam mimpinya itu? Sungguh, ia tak dapat mengingat sosok bahkan bagaimana suara sosok yang sering kali hadir dalam mimpinya. Apakah itu Shania? Tapi apa alasan Shania pergi?
"Oke, cuma bunga tidur," Batin Kinal sambil mengatur nafasnya. Ia bangkit dari kasur kemudian mengecek alarmnya yang lima menit lagi akan berbunyi. Ia mematikan terlebih dahulu alarm itu kemudian beranjak ke kamar mandi.
Kita skip saja bagian Kinal mandi. Kalian juga tak akan ingin mengetahuinya bukan?
Seusai mandi, Kinal segera memakai seragam sekolahnya dengan style sedikit tomboynya.
Ia berdiri di depan cermin, matanya menatap lurus pada pantulan dirinya sendiri.
"Liat gimana si pengecut ini berdiri, Shan," Ucapnya dengan tangan mengepal kuat.
Kinal tak ingin membuang waktu lagi. Ia pun segera berangkat menuju sekolah.
***
Sementara itu , ditempat lain seorang gadis juga melakukan hal yang sama seperti Kinal. Gadis itu memandang pantulan dirinya sendiri di cermin.
"Jika mencintai kamu hanyalah hal yang membuahkan rasa sakit, maka aku rela untuk terus merasa sakit,"
Ia mengusap pelan pipinya yang basah oleh air matanya. Siapapun pasti akan merasakan sakit ketika harus merelakan orang yang ia cintai untuk orang lain. Munafik jika ada seseorang yang berkata tentang mencintai tak harus memiliki. Di setiap rasa cinta pasti ada keinginan untuk memiliki dan saling melengkapi.
"Kak Ve!!! Cepetan," Teriakan dari luar kamar membuatnya tersadar dari segala tahayulnya. Ia memoles sedikit wajahnya seraya keluar dari kamar.
"Kamu yang nyetir ya," Veranda menyerahkan kunci mobil pada adik tirinya itu seraya melangkah lebih dulu keluar dari apartemen.
Shania tak membantah. Ia menerima kunci itu. Ada apa ini? Kenapa semua terasa begitu aneh? Apakah author tengah badmood? Atau patah hati? Lah lah gimana.
Veranda dan Shania kini sudah berada di dalam mobil. Veranda menyetel musik pada radio mobil seraya bersandar. Shania menjadi heran melihat tingkah kakaknya yang terlihat tak bersemangat sejak semalam.
"Shan," Shania menoleh ketika Veranda menyebut namanya.
"Apa kak?" Shania bertanya dengan pandangan yang masih fokus ke depan.
"Jika seseorang menyatakan perasaannya ke kamu hari ini. Apa yang kamu lakuin?" Shania mengerutkan dahinya. Ada angin apa Veranda bertanya demikian?
"Jangan tanya. Cukup jawab," Ucap Veranda yang sepertinya tahu isi pikiran Shania.
"Aku bakal nolak dia. Karena hati aku sepenuhnya cuma buat Beby," Jawab Shania dengan pandangan fokus ke jalanan . Cukup menusuk memang, mendengar namanya saja membuat hati Shania perih.
Setelah mendengar jawaban Shania, Veranda hanya diam. Tak ada niat membahas hal itu atau menanyakan hal lain yang mungkin bisa membantu Kinal untuk mendapatkan hati Shania.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Stupid girlfriend [End]
Teen Fiction"Dia payah, bodoh, lemot dan cerewet. Tapi aku mencintainya" -Beby- "Aku memang payah, lemot dan bodoh. Tapi percayalah aku jauh lebih tulus dari mereka yang pandai merangkai kata - kata cinta" -Shania-
![My Stupid girlfriend [End]](https://img.wattpad.com/cover/162211008-64-k404068.jpg)