Senja kembali datang. Menemani Natuna dengan lautnya yang menakjubkan. Siluet tubuh indah terpampang disana. Pakaiannya rapi berloreng. Sangat gagah. Wajahnya terbias cahaya jingga. Angin terus bertiup seakan menampar pipinya. Menginginkan pria itu bangun dari kenyataan. Maruli menghela napas panjang. Beberapa hari yang lalu ia melihat Mosha terduduk di tempat ini. Tepat di bawah pohon Akasia ini. Ia sedikit sesak. Rasanya dadanya terus bergemuruh hebat hingga hari ini.
"ada apa?"
Maruli menatap ke arah suara di belakangnya. Dua orang tengah berdiri disana. Dua orang yang paling ia kenal. Gadis yang ia cinta. Shima. Yah, dia mencintai Shima. Dan di belakangnya. Mata biji buah leci yang ia selalu tatap. Mosha berdiri di belakang gadis itu. Maruli tersenyum. Rasanya senjanya akan terasa sempurna.
"Terima kasih sudah datang", katanya.
Shima masih terdiam. Perlahan ia mendekati Maruli. Pria itu jauh lebih tinggi daripadanya. Di raihnya tangan Shima oleh Maruli. Ia memeluk gadis itu kencang-kencang. Mosha menyaksikannya. Dadanya sesak. Dalam hatinya, ia juga mencintai seorang Shima. Kini ia berada dalam dilema yang begitu besar. Antara ego atau sahabatnya. Ia mendekati Shima dan Maruli.
Untuk pertama kalinya ia melihat Maruli menangis. Ia tak pernah melihat pria itu menangis sebelumnya. Dalam keadaan apapun. Tapi pada senja kali ini, ia melihatnya dengan begitu jelas. Maruli yang kuat, Maruli yang perkasa, Maruli yang tak kenal air mata, kini menangis dalam bahu seorang gadis.
"Terima kasih sudah datang", katanya sekali lagi.
Suaranya parau. Terdengar menyedihkan. Ia lepas pelukannya. Kemudian terduduk di samping Akasia. Shima mendudukan dirinya di samping Maruli. Mosha sedikit ragu untuk duduk. Namun ia tetap mendudukan dirinya di samping Shima. Ketiganya menatap lautan luas. Merasakan debur ombak yang meraung tiada henti.
"Kalian sudah kenal lama?", Tanya Maruli.
"Ya", jawab Mosha datar.
"Berapa lama?"
"Tidak tahu. Aku lupa untuk kapan aku dan dia bertemu. Tapi aku tak pernah lupa bahwa setiap hari aku jatuh cinta padanya", seloroh Mosha.
Shima membelalakkan matanya. Tak percaya dengan apa yang di katakan pria di samping kirinya. Ia menatap pria itu. Matanya terlihat sipit dari samping. Pria itu tak sedang bercanda. Ia terdiam kembali. Ia tak tahu harus berkata apa.
"Kau tau, aku mencintaimu", kata Maruli tiba-tiba.
Sontak hal itu membuat Shima makin terhenyak. Ia terjebak dalam suasana yang tidak ia suka. Ia tak mampu harus berkata apa. Mosha menatapnya lekat. Ia tahu hal itu. Pria itu tengah memandanginya.
"Hei Mosha. Kita berdua mencintai gadis yang sama", kata Maruli. Ia terkekeh. Tersenyum getir.
"Iya. Eeiii Maruli! Cinta segitiga itu tidak pernah ada yang bahagia. Harus ada salah satu yang mengalah"
"Tenang saja, aku akan mengalah. Dia akan bahagia denganmu, jadi aku yang akan pergi"
"Aku tidak pernah mau dicinta jika harus mengorbankan sebuah persahabatan yang lebih suci dari apapun", kata gadis itu.
Kali ini ia angkat bicara. Ia tak pernah menyangka semuanya akan berakhir dengan seperti ini. Kedua pria di sampingnya tampak membeku satu sama lain. Tak ada yang bicara. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Suatu persahabatan akan diuji jika sudah mengenai hati dan perasaan. Mereka akan di uji bagaimana kesetiannya pada sahabatnya atau memilih cintanya yang baru saja tumbuh.
"Aku akan pergi Shima", kata Maruli.
"Kemana?"
"Kami ada sebuah misi", jawab Mosha singkat.
"Lama?"
"Tidak tahu", ungkap Maruli.
"Aku akan segera menemuimu jika kembali", tambah Mosha.
"Kalian harus janji"
"Apa?", Jawab keduanya hampir bersamaan.
"Aku ingin kalian kembali dengan selamat apapun yang terjadi. Kalian harus kembali. Menemuiku lagi"
Keduanya saling menatap kemudian mengangguk bersamaan. Gadis itu menatap keduanya. Di genggamnya kedua tangan itu erat-erat. Entah mengapa ada rasa berat dalam hatinya. Ia menyayangi keduanya bukan berarti ia mencintai keduanya. Kasih sayangnya sama seperti yang ia beri pada Sangga.
Namun aneh, rasanya ada yang sangat mengganjal. Entah apa. Tangan kirinya mengerat. Ada rasa amat cemas. Entah mengapa.
"Kapan kalian berangkat?"
"Satu hari lagi", kata Maruli.
"Aku juga pulang satu hari setelah kalian berangkat", ungkap Shima.
"Jadilah dokter yang baik", kata Mosha.
Pria itu mengusap rambut gadis itu dengan tangan kanannya. Ia tepuk kepalanya dengan halus. Senyumnya mengembang. Ia suka mengusap rambut milik Shima. Maruli hanya menatap mereka berdua. Ia tersenyum getir. Perasaannya tak karuan. Dilema yang hebat sedang menghujam dirinya.
"Kau benar-benar cinta akan Shima?", Tanyanya tiba-tiba.
"Menurutmu?", Jawab Mosha.
"Hanya ingin tahu saja. Jika Shima punya rasa yang sama denganmu aku rela. Walaupun aku jauh lebih kenal terlebih dahulu darimu. Jujur aku pada kalian berdua. Aku mencintai Shima"
Mereka sama-sama terdiam. Mosha menghentikan gerakan tangannya di kepala Shima. Begitupun Shima yang menatap kosong samudera disana. Ia masih tak percaya pada apa yang kedua pria itu katakan.
"Jika kak Maruli cinta padaku, kenapa kakak selalu hilang?"
Maruli menghela napas. Ia memang terkadang menemui gadis itu. Tapi lebih sering tidak menemuinya. Menjaga jarak kepada Shima. Namun semua ada alasannya. Terkadang kita perlu meneledani cinta matahari pada bumi, ia tak ingin yang di cintanya tersakiti karena dirinya sendiri.
"Aku tak mau nyaman, aku takut akan jatuh cinta. Jadi aku tak ingin menemuimu begitu sering, karna aku takut jatuh cinta. Tapi nyatanya perasaan itu mengalir begitu saja. Tanpa aku minta"
Shima terdiam. Sebenarnya ia tak berharap kepada keduanya. Ia hanya heran kepada sikap Maruli yang selalu ada tapi selalu hilang entah kemana. Orang itu memang sangat sulit di tebak. Ia juga tak pandai menebak seseorang. Yang Bahkan sangat gamblang menunjukan cinta kepada dirinya, seperti Sangga.
"Maruli, kamu percaya? Dia akan memilihku suatu hari nanti. Aku tau dia juga mencintaiku", kata Mosha tiba-tiba.
Sontak hal itu membuat Shima terkejut. Ia membulatkan bola matanya. Tapi entah mengapa jantungnya berdegup kencang setelah Mosha mengatakan akan hal itu.
"Iya aku tahu. Dia benar Shima. Dia lebih baik daripada aku maka pilihlah dia karena dia yang mampu membahagiakanmu daripada aku"
"Aku nggak mau bahas ini lagi. Biar Tuhan yang akan menjawab semuanya. Aku nggak mau kalian bertengkar. Dan aku nggak mau di permainkan"
Keduanya diam. Benar juga kata gadis itu. Tapi masing-masing dari mereka masih memikirkan sesuatu. Entah apa tapi masih ada kaitannya dengan apa yang mereka bicarakan sebelumnya.
"Lihat!", Seru Shima tiba-tiba.
Tangannya menunjuk ke arah matahari yang tenggelam. Sinarnya begitu cantik. Semburat jingga terlukis di angkasa. Menghiasi wajah samudera yang terbias cahayanya.
"Magic hour", gumamnya.
"Aku berharap semoga aku bisa melihatnya lagi. Mengisi sepi dalam hidupku. Aku berharap suatu hari ketika aku akan pergi jauh, aku bisa menatapnya dengan kalian berdua. Di tempat ini, di bawah pohon Akasia"
KAMU SEDANG MEMBACA
Love in Ocean
RomantikDiayu Ratu Shima harus bertemu dengan Sangomasi Mosha Zebua, seorang perwira muda yang tengah bertugas. Sifat Shima yang tangguh dan berani rupanya membuat Mosha jatuh hati. Namun sayang, cintanya harus di ukur dengan hadirnya Simonagar Maruli Hutap...
