Aku Akan Pergi

877 62 0
                                        

Maruli mendorong kursi roda yang di duduki Shima. Ia berjalan mengelilingi taman rumah sakit. Gadis itu masih tampak lemah. Ia terhenti di sudut rumah sakit. Kemudian duduk di bangku dekat air mancur. Matanya menghadap langsung wajah gadis itu.

"Kak Mosha kapan pulang?", Tanya gadis itu.

Maruli tersenyum. Ia raih dua tangan gadis itu. Di usapnya dengan lembut. Rasanya menyenangkan untuk Maruli. Tapi menenangkan untuk Shima.

"Dia akan pulang sebentar lagi"

"Berapa hari?"

"Kami tentara, kami tidak tahu kapan kami akan pulang tugas. Kebanggan menjadi satuan tugas sangat menyenangkan"

Shima mulai tersenyum. Ia menemukan sesuatu dalam dua manik mata yang tengah menatapnya kini. Pertama kali mengenal pria itu memang sudah jelas bagaimana sifatnya. Maruli memang seseorang yang periang namun juga terkadang menyebalkan. Namun satu hal yang ia kagum pada pria itu. Selama ia mengenal seorang Maruli belum sekalipun ia melihat Maruli dalam keadaan lemah, terpuruk atau menangis. Apapun yang ia lihat dari pria itu pasti adalah senyuman, kegembiraan serta keceriaan.

"Ma"

Gadis itu terdiam. Ia tahu pria itu akan segera memulai berbicara padanya. Maruli menghela napas. Ia tatap dalam-dalam dua manik mata jeli milik Shima.

"Kau tau aku cinta akan kau sudah sangat lama. Beberapa tahun yang lalu aku letnan dua Simonagar Maruli Hutapea mencintai seorang mahasiswi KKN yang begitu hebat Diayu Ratu Shima. Hingga sampai pada hari ini aku letnan satu Simonagar Maruli Hutapea mencintai seorang dokter, dokter Diayu Ratu Shima. Orang yang sama dengan yang di cintainya bertahun lalu"

"Ma, kau tau itu. Aku cinta akan kau. Aku akan berikan apapun demi kau. Aku mau kau bahagia. Ma. Aku ingin berikan dunia padamu tapi aku tak bisa berikan maka dari itu aku akan berikan duniaku padamu, jadi kau akan punya dua dunia"

Shima sedikit tak mengerti. Ia hanya terdiam sembari terus menatap dua manik mata tajam Maruli. Maruli terus mengusap punggung tangan Shima dengan lembutnya. Memberikan rasa nyaman pada gadis itu.

"Saya akan pergi"

Sontak dua manik mata jeli Shima segera membulat. Dadanya mulai berdebar. Ada rasa yang berkecamuk dalam hatinya. Sesuatu yang sulit di ungkapkan. Ia tak ingin pria itu pergi. Ia tak ingin itu terjadi. Ia tak ingin berpisah kembali dengan pria itu. Maruli segera menyadarinya. Ia tersenyum begitu lebar. Sungguh senyuman paling indah yang Maruli berikan kepada Shima.

Pria itu keras. Ia jahil dan menyebalkan. Tapi semua itu ia hanya peruntukan bagi Shima dan Mosha. Untuk orang lain, ia begitu dingin. Keras kepala, angkuh dan arogan. Bahkan jarang sekali orang lain melihatnya tertawa atau tersenyum. Tapi hari ini Shima melihat sesuatu yang lain di wajah itu. Wajah pria itu menyiratkan sebuah kehangatan. Dari matanya hatinya terasa teduh. Ia ingin berlama lama dengan Maruli hari ini.

"Aku tak akan lama"

"Kemana?"

"Ada tugas menanti"

"Negara?"

"Aku ini tentara pastilah tugas negara. Aku memang tentara tugasku menjaga negara tapi disisi lain aku adalah seorang pria tugasku hanyalah mencintai engkau"

"Aku serius!"

Maruli terkekeh. Shima memasang raut wajah marah. Gadis itu benar-benar naik pitam. Maruli membuatnya naik darah. Shima mengalihkan pandangannya ke tanaman bunga yang sedang bermekaran. Warna-warni. Maruli masih ada di depannya. Terhenti terkekeh. Pria itu menghela napas. Terdengar jelas oleh telinga Shima di sana.

"Ma. Aku akan pergi tugas. Aku tak bisa menceritakannya pada kau tapi percayalah nanti kau akan tau semuanya"

"Tadi kakak bilang mau kasih semua dunia yang kakak punya buat aku bahkan dunia kakak kan? Kenapa kakak pergi?"

"Ya akan aku berikan padamu semuanya. Semuanya Shima. Itu sumpahku. Aku harus pergi besok"

Shima terdiam. Ia sedikit kesal dengan Maruli. Entah mengapa ia bisa seegois ini. Tapi ini yang di minta nuraninya. Berat rasanya ia akan di tinggalkan Maruli. Rasanya ia ingin terus bersama pria itu. Menunggu Mosha kembali dan mereka akan bersama-sama lagi. Tapi nyatanya kehendaknya tak bisa di capai. Maruli harus pergi dengan atau tanpa persetujuan dari dirinya.

"Sepertinya ini hari terakhir kita ma"

Shima membelalakkan matanya. Ia tak suka kata-kata itu. Benci. Amat benci. Wajahnya merah padam tersulut api amarah. Ia segera menatap Maruli dengan intens. Wajah menyenangkan Maruli tak membuatnya bisa meredam amarah. Justru ia makin terpancing untuk mengatakan apapun yang ia tak suka.

"Aku benci kata 'terakhir' karna di dunia ini tak akan pernah ada kata itu kecuali setelah adanya kematian. Setidaknya itu yang ku ambil dari Sangga. Dan aku benci!"

"Iya maaf ma"

"Kakak tau apa yang paling aku benci di dunia ini? Yang paling aku benci di dunia ini adalah perpisahan. Kenapa setiap pertemuan yang menyenangkan akan hadir perpisahan yang tidak di inginkan?"

"Tapi kita tidak akan berpisah ma. Percaya padaku"

"Apa kakak Tuhan yang bisa melihat takdir? Sangga pernah bilang sama aku begitu, nenek, ibu semuanya tapi nyatanya? Mereka meninggalkan aku juga"

"Mereka boleh meninggalkan kamu tapi aku tidak akan meninggalkanmu walaupun dunia membenci sekalipun"

"Omong kosong"

Shima mulai mengeluarkan bulir airnya. Air matanya mulai mendesak ingin keluar. Pertahanannya tak lagi dapat ia tahan. Ia menangis seketika. Sesekali terisak dan menghapus bulir air di pipinya.

"Aku tak suka orang berjanji jika tak mampu menepati janjinya sendiri"

"Aku tidak berjanji ma, tapi aku telah bersumpah di hadapan Tuhanku, aku telah terkontrak dengan hidupku padamu"

Shima terdiam. Gadis itu memalingkan wajahnya pada sisi lain. Ia tak mau menatap wajah Maruli. Mata pria itu mulai memerah berkaca-kaca. Ia ingin jatuh sejatuh-jatuhnya. Tak mampu ia melihat gadis yang di cintanya menangis seperti itu.

"Ma. Pegang perkataanku. Aku akan kembali dalam tugas itu. Jika masih bisa kita bertemu dan berkumpul lagi. Kita tak akan pernah berpisah apapun yang terjadi. Mengerti?"

"Aku lelah kak tolong bawa aku ke kamar lagi"

Maruli menghela napas. Ia tahu gadis itu enggan untuk menanggapi perkataannya. Ia paham betul dengan hal itu. Memang sebuah perkataan akan selalu menjadi bayangan jika tak di kerjakan secara nyata. Itulah yang mempengaruhi gadis itu. Bukti bukanlah suatu kata-kata belaka namun juga tindakan yang nyata. Banyak orang berpikir praktis dengan bukti yang di sertai tindakan namun sedikit yang berpikir analisis mengenai tindakan yang di buktikan memerlukan waktu dan tempo yang pas.

Maruli mendorong kursi roda Shima. Menuntunnya melewati lorong-lorong panjang di rumah sakit. Sunyi senyap. Hanya suara deritan dari kursi roda yang berbunyi. Bergesekan dengan keramik rumah sakit yang putih terlihat dingin. Sedingin dua orang yang masih terdiam melewatinya. Tak ada suara dari keduanya. Hanya bisikan angin lalu yang kemudian pergi begitu saja. Keduanya masih sibuk melayangkan pertanyaan pada masing-masing pikiran mereka yang masih bercokol tak menentu.

Love in OceanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang