Akhirnya terjadilah perang KULIT KACANG oleh dua kubu yaitu Acha dan Aldi. Horeeee!!!! Yey Yuhu Yipi Yes Yes!!!!!!!!
"ASTAGHFIRULLAH ACHA ALDIIIIIIIIII" teriak seseorang yang tengah berdiri di depan pintu dengan wajah merahnya.
❤❤❤
"BERESIN POKOKNYA!!! GUE GAK MAU TAHU. GUE BALIK KE SINI, RUMAH HARUS UDAH BERSIH!" teriak seseorang yang berdiri di ambang pintu.
Sementara sang pembuat onar hanya saling menginjak kaki di bawah meja.
"KALIAN DENGERIN GUE NGOMONG GAK SIH DARI TADI?" Cowok itu berteriak kesal.
"Iya."
"Enggak!"
Jawaban Aldi dan Acha yang berbeda membuat cowok itu frustasi.
"Yang bener yang mana? DENGER APA ENGGAK?" bentaknya lagi.
"Enggak!" Acha dan Aldi menjawab dengan begitu kompak membuat cowok itu terkejut. Bukan karena kekompakannya, melainkan karena jawaban mereka.
"ASTAGA! DARI TADI GUE NGOMONG GAK ADA YANG DENGERIN?" Cowok itu mengacak rambutnya kasar.
"Enggak." jawab Acha dan Aldi serempak dengan majah tanpa dosanya.
"SERAH DAH! SERAH! SEBAHAGIA LO BERDUA!!! POKOKNYA NTAR GUE BALIK HARUS UDAH RAPI LAGI!"
Cowok itu pergi meninggalkan seonggok daging dengan gendang telinga yang hampir pecah.
"Tadi dia ngomong apaan sih, Cha?" Aldi menoleh ke arah wajah cengo Acha yang masih menatap kepergian cowok tadi.
"Entah. Gue juga gak tahu tadi kak Alvin ngomong apaan." Acha masih dalam posisinya, diam mamatung menatap pintu.
"Kuy bersihin deh. Kagak pake berantem lagi! Badmood gue. Lo bersihin meja sama sofa gue yang nyapu!" Aldi berdiri menjulang di samping Acha yang manatapnya heran.
"Oke deh!"
❤❤❤
Aldi memejamkan matanya yang lelah setelah maraton bermain game online bersama Rendi dan Nezza hingga pukul 1 dini hari.
Ia menarik selimutnya mencapai lehernya ketika udara dingin kian mencekam.
Drt drt
Ada satu pesan dari Acha,
Allysia 💕
Al tolongin gue
Ia terduduk membaca chat dari Acha. Tanpa basa-basi ia segera menelfon Acha tanpa peduli waktu sudah pukul 1 malam.
"Halo Al, bantuin gue pliss"
Suara Acha terdengar bergetar bercampur lelah dan lemas.
"Ada apa, Cha? Lo baik-baik aja kan?"
"Gue lemes banget. Tapi gak ada orang di rumah."
Suara Acha melemah membuat Aldi yang mendengarnya kalang kabut.
"Tolong ke rumah ...."
Ucapan Acha terputus begitu saja meski panggilan masih tersambung. Aldi segera memutuskan panggilan dan menyambar jaket serta kunci motor ketika mendengar sesuatu terjatuh sesaat setelah ucapan Acha terputus.
Motor hitamnya melesat membelah jalanan malam yang cukup sepi. Tak butuh waktu lama ia sampai di depan rumah Acha yang terlihat sepi.
Berulang kali dia menekan bel, bahkan sudah berteriak seperti orang gila, namun tak ada respond dari dalam rumah. Aldi mencoba menghubungi ponsel Acha, tapi hanya mbak-mbak operator yang menjawab.
Dengan nekad ia masuk ke dalam. Sepi, itu yang ia rasakan ketika kakinya menyentuh dinginnya lantai ruang tamu. Entah karena apa ia lebih ingin mengecek dapur dari pada ke kamar Acha.
Ketika melihat dapur yang gelap, Aldi berusaha mencari saklar lampu. Tapi nyatanya langkahnya terhenti ketika ia merasakan sesuatu menghambat langkah kakinya.
Ia berjongkok berusaha menggapi sesuatu yang mencegah langkahnya. Ia merasakan sesuatu yang lembut dan halus di tangannya. Karena penasaran ia menghidupkan hpnya. Dan betapa terkejutnya dirinya ketika mendapati sosok yang ada di depannya adalah ....
Kucing hitam berbulu lebat!
Ia berjenggit dan mundur selangkah. Nafasnya berhenti untuk beberapa detik, detak jantungnya berpacu dengan cepat, ia mulai merasakan gatal di seluruh tubuhnya.
YA! ALDI ALERGI KUCING!
Perlahan ia berdiri dan melangkah mundur meninggalkan kucing hitam yang masih terlelap dalam tidurnya yang meringkuk di atas lantai.
Tanpa sadar ia menabrak sesuatu di belakangnya. Bukan tembok, ia yakin tak ada tembok yang seperti ini, tidak keras bahkan terkesan memantul.
Ia berusaha menekan rasa takutnya, perlahan ia berbalik dan menyorot sosok di belakangnya dengan senter dari hp.
Matanya membola, nafasnya tercekat bahkan berhenti, keringat dingin mengucur dari pelipisnya. Tanpa sadar hpnya terjatuh.
"KYAAAAAAAAAAAA!!!!" Aldi berteriak nyaring yang disusul teriakan dari sosok didepannya pula.
"AAAAAAAAAAA!"
Beberapa detik setelah berteriak, mereka saling menatap dalam remangnya cahaya. Mata mereka bertemu dan saling mengunci, berusaha mencari kebenaran atas makhluk di depannya ini.
"KAK ALVIN!" Aldi memekik keras.
"ALDI! Lo ngapain di rumah gue?" tanya Alvin dengan dahi berkerut.
"Tadi Acha telfon,bilang gue suruh ke sini." jawab Aldi dengan nafas yang masih memburu.
"Owh. Acha ada di kamar, udah baikan kok. Tadi sempat pingsan tapi untungnya tak lama kemudian gue balik."
"Boleh gue jenguk?"
"Acha sekarang di ruang keluarga, ke sana aja!"
Aldi melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga sambil berusaha meredakan detak jantungnya yang masih cepat akibat kejadian tadi.
❤❤❤
Acha duduk bersandar di dada Aldi yang duduk di sofa. Tadi setelah mengobati alergi Aldi yang kambuh Acha merengek ingin bersandar di dada Aldi.
"Cha!"
Acha menoleh menatap mata Aldi dengan posisi masih bersandar.
"Kenapa?" Acha mengerutkan dahinya.
"Sekarang tanggal 31" jawab Aldi sembari melihat ke arah hpnya.
"So?" Acha masih terlihat bingung dengan arah pembicaraan ini.
"Besok penentuannya."
"Penentuan apa?" Lipatan di dahi Acha kian bertambah.
"Tantangan yang kita buat di hari pertama lo masuk sekolah. Masa gak inget sih? Lemot banget otak lo!" Aldi menjepit hidung Acha hingga memerah.
"Lepas! Sakit tau!" Acha memekik pelan sambil berusaha melepaskan tangan Aldi dari hidungnya.
Aldi terkekeh pelan dan segera melepaskan tangannya dari hidung yang kini sudah memerah.
"Trus kalo besok hari penentuannya kenapa?"
Aldi tersenyum kecil sambil memeluk Acha dari belakang.
"Lo udah siap?"
Acha mengerutkan keningnya lagi.
"Siap buat apa?"
"Siap buat jadi pacar gue"
❤❤❤
Aldiiii pertanyaannya gitu banget sih????
Salam sayang from
KR💕
KAMU SEDANG MEMBACA
TARAXACUM
Teen Fiction"Cinta saja tak cukup untuk bertahan, bagiku kejujuran adalah pondasi utama suatu hubungan" -Acha "Cinta tanpa diikuti percaya itu bohong! Hubungan tanpa sebuah kepercayaan itu sia-sia!" -Aldi Cerita klise tentang kisah cinta anak sma. Dimana ketika...
