Jauhin Aldi!
WHAT THE HELL!!! DIA SIAPA?
❤❤❤
Acha memandang sosok cowok yang tak lama tadi melewati gerbang perumahannya. Ia seperti mengenalnya namun lupa tepatnya. Ia menghela napas berat saat mengetahui plat motornya. Motor Aldi. Acha mengingat-ingat siapa cewek yang duduk nyaman memeluk Aldi. Acha rasa ia pernah bertemu, dan yang jelas bukan Sania sebab rambut cewek tadi pendek sebahu, lain dengan Sania yang panjang sepunggung.
Pikirannya melayang pada sebaris pesan yang ia dapat beberapa menit yang lalu.
Aldi
"Sorry gue gak bisa nemenin lo. Lo pergi sendiri aja ya? Gue harus nganterin Papa ke bandara. Besok pulang sekolah kita nonton."
"Neng lagi galau ya? Sini sama abang aja, dijamin kenyang dan anti galau!" Goda tukang bakso yang tengah mangkal tak jauh dari Acha.
Pandangan Acha kini berpaling pada dua ekor kucing yang berjalan berdampingan sembari mengeong nyaring. Huh harinya mendadak panas. Kucing aja pake gandengan masa gue malah ngenes di pinggir jalan gini.
"Yeu si eneng diem diem bae. Ikut abang muter aja yok, nanti abang kasih semangkok bakso pedes kesukaaan eneng." Goda tukang bakso dengan suara yang dibuat centil.
"Ck" Acha berdiri dari acara dlosoran nyender di pagar gerbang perumahan. Ia menatap tukang bakso itu seraya membersihkan debu-debu yang membelai celana abu-abunya.
"Yaudah deh bang, Acha ikut Abang aja." Acha melihat jam tangan.
Pukul 11.00 padahal ia dan Aldi janjian mau main jam 9 sebagai pengganti karena Aldi tak bisa mengantarkannya ke toko buku beberapa hari yang lalu. Ya, sejak saat itu mereka sama-sama sibuk jadi baru hari ini janji Aldi itu terealisasikan. Namun entah dirinya yang terlalu bersemangat atau Aldinya yang terlalu ngaret hingga ia berakhir mengenaskan di gerbang perumahannya.
Langkah gontai Acha menapaki jalan beraspal yang kini mulai menguap terpapar matahari. Sedangkan tukang bakso itu berjalan di samping Acha.
"Bang Dimas kok sekarang jarang keliatan? Mangkal di mana?"
Cowok yang dipanggil Bang Dimas itu menyeka keringatnya dengan handuk kecil seraya tangannya tetap mendorong gerobak bakso.
"Abang kemarin sempet sakit. Jadi libur beberapa minggu. Acha kok juga jarang beli bakso Abang? Bosen ya?" Cengir Dimas.
"Ehehe enggak sih, Bang. Acha lagi sibuk belajar akhir-akhir ini. Jarang keluar kamar jadinya."
"Jangan lupa makan ya, biarpun sibuk tapi jangan sampai lupa makan. Inget kamu punya magh." Dimas mengacak pelan rambut Acha.
"Iya bang. Acha selalu inget pesen abang." Acha tersenyum manis pada Dimas.
"Oh iya Cha, Abang beberapa hari yang lalu liat Acha sama cowok ganteng, tinggi lagi. Kalo gak salah namanya Aldi. Pacar Acha ya?
Acha hanya tersenyum. Ia saja bingung dengan hubungannya dan Aldi.
"Hahaha bukan bang, cuma temen kok." Acha tertawa garing.
"Owh bagus ya! Kemarin sama Aldi! Sekarang sama penjual bakso! Besok-besok sama siapa lagi nih? Om-om perut buncit?" tuduh seseorang berambut panjang.
Acha menarik topinya agar melindungi dari sinar matahari.
"Apa peduli lo sih San? Gue jalan sama siapapun, gak ada urusannya sama lo. Lagian bukannya bagus ya kalo gue jalan sama dia? Lo jadi ada kesempatan sama Aldi." cibir Acha.
"Cewek murahan!" desis Sania.
Acha mengepalkan tangan diam-diam. Dimas yang melihatnya segera menggenggam tangan Acha ia tak mau sosok "adik" nya terbawa emosi.
KAMU SEDANG MEMBACA
TARAXACUM
Teen Fiction"Cinta saja tak cukup untuk bertahan, bagiku kejujuran adalah pondasi utama suatu hubungan" -Acha "Cinta tanpa diikuti percaya itu bohong! Hubungan tanpa sebuah kepercayaan itu sia-sia!" -Aldi Cerita klise tentang kisah cinta anak sma. Dimana ketika...
