"Sania beneran pacar pertama lo? Dan gue yang kedua?" tanya Acha lirih.
"Sorry! Tapi dia emang pacar gue yang pertama!"
"Jadi gue selingkuhan gitu?"
❤❤❤
"Sorry!" bisik Aldi pelan.
"Tapi percaya sama gue, semua akan kembali pada tempatnya saat masanya nanti ketika kita saling percaya!"
Acha hanya tersenyum miris. Entahlah hatinya hanya merasa sedikit tersayat.
"Di depan teman-teman yang lain, please tetep jadi kita yang dulu meski ada status pacaran di antara kita. Gue gak bisa jelasin sekarang alasannya, sorry banget."
Aldi mengehela napas pelan menatap Acha yang menunduk di depannya. Dia melihat ke arah balkon lantai dua, di sana ada Sania yang tengah duduk sembari memeluk boneka teddybear berwarna putih yang merupakan hadiah dari Aldi ketika Sania berulang tahun ke 10. Sania tersenyum manis padanya meski terlihat jelas matanya yang merah dan sembab.
"Jangan sedih, besok kita jalan-jalan. Kita berburu kuliner ya?" tawar Aldi sembari memeluk Acha.
Ia berulang kali meminta maaf tanpa suara pada Sania yang masih tersenyum di sana dengan manisnya. Kebetulan posisi Aldi menghadap Sania dan Acha yang membelakangi sehingga Acha tak menyadarinya. Sania tersenyum kecil dan segera membekap mulutnya ketika beranjak meninggalkan balkon.
"Iya." jawab Acha lirih. Ia tak menangis. Wajahnya pun tak sembab. Tapi Aldi tahu jika hati orang yang ia sayang ini terluka.
"Trust me please, just this time okay? Lo cuma satu-satunya di hati gue, lo selalu ada di pikiran gue dan di hati gue. Lo bisa merasakan sendirikan betapa cepatnya jantung gue berdetak ketika ada di dekat lo? Ada atau enggaknya tantangan itu, gue udah terlanjur sayang sama lo, Cha!" Aldi menaruh tangan Acha di dadanya. Acha hanya tersenyum kecil.
"Tapi Sania hidup gue. Gue gak bisa hidup tanpa dia. Ada atau tidaknya status pacaran diantara gue dan Sania. Dia oksigen gue, tanpa dia gue cuma mayat hidup. Jangan minta gue jauhin dia, karena gue gak bakal sanggup. Lo priorotas gue, tapi dia separuh napas gue. Sorry! I'am very very sorry for this. But, please just trust me. Kamu segalanya buat aku jauh di atas Sania. Tapi sayangnya gue bakal terlalu terikat sama dia. Gue tahu lo bingung, cukup percaya dan jalani hubungan ini dengan baik. Suatu saat nanti gue bakal jelasin semuanya, dan gue bakal buktiin kalo lo adalah segalanya buat gue."
"Iya. Gue percaya sama lo!" Acha tersenyum meski kini matanya mulai memerah.
"Besok kita jalan yok, kita berburu kuliner!" ajak Aldi dengan nada ceria.
"Karena lo udah buat gue melow gaje gini, besok lo harus traktir gue sampe gue puas dan kenyang!" rajuk Acha sembari menyilangkan tangan di depan dada.
"Iya iya tuan putri!" Aldi dengan gemas mencubit hidung Acha dan menariknya.
"Ih sakit!" teriak Acha sembari mengusap hidungnya yang memerah.
Aldi hanya cengengesan. "Yodah sekarang lo pulang, biar gue antar. Gak ada bantahan!"
Acha hanya mengerucutkan bibirnya. Sedikit kesal pada sosok lelaki di depannya yang entah mengapa membuatnya diam mati kutu.
❤❤❤
Aldi menggenggam tangan Acha di tengah keramaian ini. Tentu saja ia tak mau mengambil resiko Acha hilang dari pandangannya dan membuat dia harus mencari-cari seperti orang gila di tengah lautan manusia.
Dengan segenap kekesalan, Acha menurut kemanapun Aldi membawanya pergi. Di bawa ke KUApun dia rela asal Aldi yang menyeretnya. Acha terkekeh sendiri menyadari ke mana arah pikirannya. Ia menggelengkan kepala berusaha mengusir pikiran aneh yang melekat erat di otaknya.
Langkah Aldi terhenti di depan penjual bubur ayam. Acha hanya memandang Aldi dengan kening berkerut.
"Sarapan dulu, gue tahu lo belum sarapan kan?"
"Iya." Acha mengangguk pelan.
Acha mencari tempat duduk sedangkan Aldi memesan dua porsi bubur ayam lengkap dengan minumannya. Setelah itu dia duduk di depan Acha. Tak lupa menggenggam tangan Acha yang ada di atas meja dan memandang wajah sang pacar tanpa bosan.
"Lepas ih, ini tempat umum." Acha berusaha menarik tangannya dan meraup wajah Aldi. Aldi hanya mencebikkan bibirnya.
Tak lama kemudian pesanan mereka datang dan mereka sibuk dengan makananya.
❤❤❤
Acha masih bergeming di samping Aldi. Mereka berjalan menyusuri wisata kuliner ini. Mereka mulai mencoba beraneka macam jajanan, mulai dari kudapan, makanan berat, hingga dessert, tak lupa mereka juga mencoba beberapa minuman tradisional. Setelah berkeliling, mereka bergandengan tangan menyusiri topselfie yang memang sengaja di buat di sekitar kawasan tersebut.
Aldi memandang Acha yang tengah asik dengan kameranya tanpa melepaskan genggaman mereka. Tiba-tiba pegangan mereka terlepas karena dilepaskan dengan paksa oleh seseorang. Acha dan Aldi sontak menengok kebelakang, mencari si pelaku.
Tatapan mereka bersibobrok dengan mata jernih milik seorang gadis yang kini tengah tampil menawan dengan balutan dress.
"Lo ngapain di sini, San?" tanya Aldi ramah sembari mengelus pelan rambut Sania.
"Gue bosen di rumah, jadi nyusulin lo. Gapapa kan?" tanyanya dengan puppy eyes. Entahlah, bukannya merasa iba, Acha justru menghela napas kesal.
"Oh iya! Kak aku mau makan es krim di sana. Temenin yok!" Aldi hanya pasrah ketika tangannya di tarik. Namun untungnya dia tak melupakan Acha. Ia menarik tangan Acha hingga Acha ikut tertarik mengikuti langkah Sania.
❤❤❤
"Aldi!" panggil Sania.
"Hm?" bukannya menghiraukan panggilan Sania, ia justru asik memandang wajah Acha yang tak semerah tadi.
"Lo kenapa, Cha?" tanya Aldi seraya menggenggam tangan Acha yang ada di atas meja.
Acha menolehkan kepalanya dari es krim di depannya menjadi menghadap Aldi. Acha mengangkat sebelah alisnya seakan bertanya.
"Lo sakit?" tanya Aldi lagi.
"Enggak kok, gue baik-baik aja!" jawab Acha dengan nada ketus.
Sania memalingkan wajah Aldi dengan paksa ke arahnya dengan sebelah tangannya. Acha hanya mendengus pelan.
"Apaan sih, San? Gue kan lagi ngobrol sama Acha. Jangan ganggu deh!" bentak Aldi tanpa sadar.
Sania mencebikkan bibirnya, matanya mulai berkaca-kaca. Hingga setetes air mata lolos membasahi pipinya. Aldi segera merengkuh Sania ke dalam pelukannya.
"Ssutt udah ya, jangan nangis. Sorry tadi gue gak sengaja bentak lo!" Aldi mengusap pelan rambut Sania. Sementara Sania masih berusaha menahan isakannya.
Acha yang jengah hanya memainkan hp nya. Scroll bolak-balik semua sosial medianya. Bahkan ia dengan isengnya membalas puluhan chat dari fansnya yang biasanya hanya ia diamkan.
"CHA!" teriak seseorang.
Acha mendongak dan matanya bertemu dengan cowok itu.
"Lo!--" pekik Acha senang dan segera memeluk sosok itu.
❤❤❤
Duh gagal deh kencan pertama Acha sama Aldi. Ehm kira-kira itu siapa ya?
Rara
KAMU SEDANG MEMBACA
TARAXACUM
Teen Fiction"Cinta saja tak cukup untuk bertahan, bagiku kejujuran adalah pondasi utama suatu hubungan" -Acha "Cinta tanpa diikuti percaya itu bohong! Hubungan tanpa sebuah kepercayaan itu sia-sia!" -Aldi Cerita klise tentang kisah cinta anak sma. Dimana ketika...
