Jika kalian termasuk dalam kategori lebih mementingkan drakor daripada tidur, maka sama halnya dengan Ciara.
Lingkaran hitam di bawah matanya jelas menunjukkan bahwa gadis itu kurang tidur. Di sepanjang jalan, Ciara pun masih sibuk menguap.
Jangan salahkan dirinya, salahkan saja Cania yang mengajaknya untuk movie marathon kemarin malam.
Ciara memang sudah berniat tidur, tetapi dirinya sangat penasaran dengan kelanjutan dari tiap episode. Dan itu sebabnya ia baru bisa tidur jam 3 pagi. Bayangkan saja, hanya 2 jam bahkan kurang!
Ciara menyeret kakinya, berjalan gontai menuju kelasnya. Tak memedulikan semua mata di koridor yang memperhatikannya, yang penting ia cepat sampai kelas dan melanjutkan tidurnya.
"Ara!" panggilan itu membuat Ciara refleks berhenti.
Ciara kenal betul suara itu. Suara yang hampir satu tahun menemaninya, suara yang dahulu paling suka didengarnya, dan suara orang yang sudah mengkhianatinya.
Gadis itu mendengus, kini jadi mempercepat langkahnya. Terdengar suara langkah kaki dari belakang dan Ciara sadar betul bahwa pemuda itu mengejarnya.
"Ra! Ciara!" panggil pemuda itu berharap sang empunya nama berhenti dan menoleh.
Gavin yang dapat dengan cepat menyusul langkah Ciara langsung mencekal pergelangan tangannya, membuat gadis itu menoleh dengan raut wajah datarnya.
"Apa lagi?" balas gadis itu dingin dan datar.
"Ra dengerin gue dulu. Gue sama sekali nggak tau kalo Cania itu kakak lo. Gue aja baru tau kemaren dari Dito," Gavin berusaha menjelaskan membuat Ciara mengangkat sebelah alisnya.
"Emang gue peduli?" ujar Ciara sembari tersenyum sinis.
Gavin menarik napas lalu menghembuskannya kasar.
"Ra plis lah jangan kayak gini. Dengerin gue dulu, gue bisa jelasin semuanya." Gavin berujar lirih, wajahnya sudah frustasi sekarang.
Dari arah belakang sudah terdengar grasak grusuk, dan sudah banyak manusia bertelinga lebar yang menanti percakapan mereka. Bersiap menyebarkan gosip dan menjadikannya trending topic di Alkana High School.
"Apa lagi sih Vin? Kita udah nggak ada apa-apa ya, jadi berhenti gangguin gue. Lagian kenapa gue harus dengerin penjelasan lo sih? Emangnya ngaruh?" Ciara berujar muak, dengan Gavin yang jadi mengatupkan bibir tiba-tiba hilang kata.
Ciara menoleh saat ada sebuah tangan yang melingkar di bahunya, matanya melotot hendak melepaskan rangkulan itu tapi gagal karena ditahan oleh sang empunya.
"Ada apa sih ribut-ribut?" ujar Bisma tiba-tiba nimbrung, dengan satu tangan yang sudah merangkul Ciara.
"Eh ada elo. Kenapa sih? Ada urusan apa sama cewek gua sampe dikerubungin anak satu sekolahan, gini?" Gavin diam, tak menjawab. Pemuda itu seakan hilang kata, lalu tanpa permisi meninggalkan koridor yang semakin ramai.
Bisma berdeham pelan, menoleh ke belakang yang sudah dipenuhi banyak siswa yang hendak menguping.
"Maaf ya semuanya, tontonannya udah abis. Jadi kalian bisa balik ke kelas, lain kali kalo mau nonton beli tiket dulu ke saya. Masa maunya yang gratisan aja," Bisma berujar santai, walau jelas ada sindiran di dalamnya.
Semua siswa nampak berseru kecewa, mencibir saja lalu menurut kembali ke kelas.
Bisma melepaskan rangkulannya, kini beralih menatap Ciara.
"Kenapa lagi lo sama Gavin? Mau balikan?" katanya menyindir sinis.
"Ck apasih. Sok tau lo," Ciara mencibir sebal, kini jadi berbalik hendak menuju kelas.
Gadis itu kembali menoleh saat merasakan tangannya dicekal, Bisma mendekat. Sedikit merapat dan menipiskan jarak di antara mereka.
"Mau ke kelas kan? Deketan aja sama gue, kalo jauhan nggak aman." Bisma ganti meraih jemari Ciara, menggenggamnya erat lalu memasukkanya ke dalam saku hoodie yang kebetulan sedang ia pakai.
Ciara menggigit bibir, diam saja dan tak menolak. Rasanya ia ingin meneriaki Bisma agar melepas genggamannya tapi lidahnya seakan kelu dan tak bisa mengucapkan barang satu kata pun.
Ciara berdeham pelan, agak canggung setelahnya. Gadis itu kembali menggigit bibir, entah kenapa jadi grogi begini.
"Eum...........lo udah sembuh?" Bisma menoleh saat mendengar pertanyaan itu. Pemuda itu tersenyum lalu mengangguk.
"Hm udah. Kan elo yang ngerawat," Ciara mengulum bibir, hampir tersenyum mendengarnya.
Rasanya ia ingin berteriak saat ini, memberitahu Bisma bahwa kata-katanya membuat ambyar jiwa dan raga.
***
A/n:
Tau deh badan gua sakit semua abis renang:(
Kalo nggak feel maap ye, efek kecapekan mungkin.
Salam,
Park safia korapat mendes.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kurir My Love✔
Novela Juvenil(COMPLETED) [ALKANA SERIES] Jika setiap orang sangat menanti datangnya kurir paket, maka berbeda halnya dengan Ciara. Ciara benci kurir, apalagi kurirnya pemuda itu. selengkapnya bisa langsung ke prolog..
