[sembilanbelas]

235 21 0
                                        

Ciara membuka pintu pagarnya, hendak pergi ke indomaret depan komplek. Cemilan di rumahnya habis membuat dirinya terpaksa pergi keluar, dengan selembar uang merah muda yang Cania titipkan untuk membeli pembalut.

Memang, kakak perempuan Ciara itu sering kehabisan stock. Entah apa yang dilakukan gadis itu sampai sering kehabisan pembalut.

Terkadang kalau sedang sebal Ciara akan mencibir dengan kalimat, "Lo cemilin apa gimana sih Can? Abis mulu kayaknya." dengan delikan sebal pastinya.

Gadis itu menutup pagar kemudian berbalik siap melangkah. Tapi langkahnya terhenti saat melihat seorang pemuda, Ciara tau jelas siapa dia.

Iya, Gavin Marlevi. Mantan ter-jahanam sepanjang masa.

"Ra." panggilnya dengan suara serak rendah membuat Ciara menghela napas lelah.

"Minggir. Gue mau lewat," Ciara mendorong Gavin pelan, berusaha menyingkirkan cowok itu dari hadapannya.

"Ra gue mau ngomong." suara itu kembali terdengar membuat Ciara mendecak malas.

Ciara yang tadi sudah melangkah jadi menoleh, kemudian berbalik menatap pemuda itu sepenuhnya.

"Mau jelasin apalagi sih Vin? Yang kemaren belum jelas? Emang lo pikir penjelasan lo bakal ngaruh di gue? Inget ya, kita. udah. selesai." Ciara berujar panjang lebar, menekankan tiga kata terakhir membuat Gavin merapatkan bibir tiba-tiba bungkam.

Ciara menghela napas kasar, kembali berbalik dan melangkah pergi.

"Gue tau lo sama Bisma itu nggak beneran Ra. Gue nyesel udah gituin lo Ra, gue bener-bener nyesel. Jadi.....kenapa kita nggak perbaiki semuanya dari awal? Gue ngerasa bodoh banget karena udah selingkuhin lo," Gavin berujar dengan nada lirih, Ciara kembali berbalik. Coba meluruskan semuanya. Gadis itu tersenyum sinis.

"Gini ya Vin, kita putus karena kesalahan lo. Dan gue ngerasa bodoh banget kalo sampe nerima ajakan balikan dari lo,"

Gavin menghela napas berat, mulai putus asa dengan semuanya.

"Ra." panggilan itu membuat Ciara menoleh, tapi bukannya penjelasan Ciara malah mendapatkan sebuah kecupan.

Iya, Gavin mencium pipinya.

Saat dirinya menoleh ketika dipanggil, Gavin memanfaatkan kesempatan itu untuk mengecup pipinya.

***

Bisma membuka pagar rumahnya, hendak mengeluarkan motor tapi urung. Pemuda itu menyipitkan mata, coba mengenali dua orang yang ada di depan pagar rumah Ciara.

Dari posturnya, seperti ada satu cowok dan cewek yang mengobrol.

Bisma memperhatikannya, dan saat mereka sedikit mengubah posisi wajahnya terlihat. Itu jelas Ciara dan Gavin.

Ada apa dengan mereka?

Apa sih yang mereka lakukan sebenarnya? Harus banget ya berduaan?

Bisma mendengus, tiba-tiba merasa emosi dan panas begini. Padahal ini kan malam hari, jelas udaranya dingin karena tak ada matahari.

Kemudian selanjutnya, Ciara menoleh. Dan yang tak Bisma duga, Gavin menciumnya.

Iya, Gavin mencium pipi Ciara. Di depan gerbang rumahnya, malam-malam begini. Di dekat lampu jalan. Memang dasar keterlaluan!

Bisma sudah mengepalkan tangan, bersiap maju ingin membogem cowok itu. Tapi yang dilihatnya justru Ciara tak marah atau setidaknya mengeluarkan suara untuk mengomel, melainkan gadis itu hanya diam. Seperti menegang dan kehilangan nyawa.

Bisma merapatkan bibir, tiba-tiba meneguk ludah. Pemuda itu tersenyum miris, kembali menutup gerbang dan berjalan masuk.

Memang ya, pesona mantan kadang tak bisa hilang. Walau jelas ada yang baru, kita masih bisa terjebak pada aura yang sama. Aura mantan.

***

A/n:

Gue ngetik apasi ini woi, ah

Syebal

Salam,

Wa'alaikumussalam.

Kurir My Love✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang