Bagian Sembilan

24 4 2
                                        

Pagi ini masih berjalan seperti biasa. Hanya saja, sepasang suami isteri itu lebih banyak berbicara. Carissa juga mencoba semampu yang ia bisa untuk beradapasi dengan Guntur.

"Guntur lihat kunci mobilku ga?"

"Kamu simpan terakhir dimana?"

"Aku lupa"

"Kenapa kamu tanya kunci mobil?" tanya Johnny

"Aku kan juga harus ke klinik ayah"

"Kenapa ga berangkat bareng suamimu?" tanya Johnny lagi

"Karena arah kliniknya beda" jawab Carissa jujur

"Apa kamu ga bisa mengantar putriku ke tempat kerjanya?" pandangan Johnny beralih ke Guntur "lalu kau lanjut ke tempat kerjamu" kata Johnny pada Guntur. Raut muka Guntur terkejut, belum lagi nada bicara Johnny tidak enak didengar

"A-aku a-aku" ucap Guntur terbata-bata, Carissa terkekeh. Guntur menoleh kearah Carissa, namun sepertinya wanita itu tidak ingin membuka suara.

"Hei nak, jangan diambil hati. Aku hanya bercanda. Aku tahu kamu sibuk" kata Johnnya kemudian anak dan ayah itu tertawa. Carissa memang sudah tahu bahwa ayahnya itu hanya bercanda. Guntur akhirnya ikut tertawa.

Guntur dan Johnny masuk kedalam mobil hitam milik Guntur. Tiba-tiba pintu belakang terbuka. Carissa masuk dengan beberapa barang bawaannya.

"Ketemu kuncinya?" tanya Guntur

"Ketemu, tapi hari ini aku mau ikut ngantar ayah kerumah Ciko"

Tiga puluh menit diperjalanan akhirnya mereka tiba dirumah Ciko. Dihalaman depan terlihat Sandra sedang bermain dengan Diego. Balita itu sedang berlarian bersama Sandra. Sedangkan Ciko pria tinggi itu sedang menikmati kopinya. Dari penampilannya, pria itu akan segera berangkat ke kantor.

"Eh, uncle John" tegur Sandra "Sayang, ada uncle John!" teriak Sandra pada Ciko

Ciko menghampiri Johnny, kemudian ia menyalami tangan ayah keduanya itu. Begitupun dengan Sandra. Dari ambang pintu rumah Ciko, terlihat gadis semampai sedang tersenyum manis saat melihat kedatangan ayahnya.

Raisa berlari lalu memeluk ayahnya. Begitupun Johnny. Akhir-akhir ini Raisa begitu manja pada ayahnya. Ia selalu menelpon ayahnya dan memberitahu betapa sulitnya kuliah semester akhir. Rasanya ia ingin menikah saja seperti kakak-kakaknya yang lain.

"Ayah, aku sama Guntur langsung berangkat ya" ucap Carissa

"Iya hati-hati"

"Sandra deluan ya" ucap Carissa lagi, Sandra mengangguk

"Ko, aku pamit ya" kata Guntur

"Iya iya" jawab Ciko sambil mengangkat tangan kanannya

***

Suara radio menemani mereka berdua, cukup lama mereka saling diam. Akhirnya, Guntur membuka suara lebih dulu.

"Gimana pendapatan klinikmu bulan ini?"

"Cukup baik" jawab Carissa tanpa menoleh kearah Guntur "Kamu?"

"Selalu meningkat" jawab Guntur penuh percaya diri

Carissa bergumam "You deserve it"

"Karena?"

"Karena kamu pekerja keras, kamu selalu serius kalo kerja"

Guntur terkekeh "Yakin banget"

Carissa tertawa kecil "Dari yang aku liat kamu memang pekerja keras"

"Kamu selalu liati aku ya? Sejak kapan?" tanya Guntur, Carissa diam

Setelah berbincang cukup lama tidak seperti biasa, akhirnya mereka sampai didepan klinik milik Carissa. Sebelum turun Guntur masih bertanya pada teman barunya itu.

"Mau ga makan siang bareng lagi?"

"Boleh" jawab Carissa sambil tersenyum "Aku masuk ya"

"Semangat!" kata Guntur saat Carissa sudah turun dari mobilnya

"Kamu juga" balas Carissa "Hati-hati ya"

***

Hari ini klinik begitu ramai, tidak ada Tessa hari ini, wanita rambut pendek itu kesehatannya sedang terganggu. Carissa hanya ditemani Lia dan dan dua mahasiswi yang sedang magang. Lia adalah salah satu dokter praktek yang baru saja bergabung di klinik Carissa. Wanita berhijab itu juga baru saja menyelesaikan studi S2 nya disalah satu Universitas swasta di Jakarta.

"Ada berapa pasien lagi?" tanya Carissa pada Lia

"Vina bilang ada tujuh orang lagi" jawab Lia

"Siapa Vina?"

"Oh kamu pasti belum kenal mereka ya?" tebak Lia, Carissa mengangkat bahunya "Yang rambut panjang itu, namanya Vina, yang rambut ikal namanya Lala"

Carissa melihat arlojinya, sekarang sudah pukul 12:20 Guntur bilang 10 menit lagi dia akan datang. Tapi Carissa selalu bersikap profesional, pekerjaannya adalah nomor satu. Siapapun itu, dia harus rela menunggu Carissa, karena kesehatan pasiennya adalah yang terpenting.

Carissa mengirim pesan singkat pada Guntur, bahwa ia tidak bisa makan siang bersama. Kliniknya sangat ramai, mungkin lain waktu. Kurang lebih isi teks itu seperti itu.

Tepat pukul 13:50 tidak ada lagi pasien yang berdatangan. Loket sudah tutup, akan buka lagi jam 15:00. Sekarang adalah waktunya dua dokter itu istirahat. Carissa keluar dari ruangannya, disusul oleh Lia

Carissa terkejut saat melihat Guntur berada diruang tunggu para pasien sambil memegang beberapa bungkusan. Carissa membulatkan matanya. Lalu ia segera menghampiri Guntur.

"Kamu ngapain disini?"

"Ayo makan siang" ajak Guntur "Ini aku bawa cumi bakar"

"Guntur, tap—"

"Ayo makan, nanti dingin" ucapnya lagi "Kau temannya Carissa ya?" tanya Guntur pada Lia

"Iya" jawab Lia tersenyum kikuk

"Oh, saya juga teman Carissa, teman Carissa temanku juga." Kata Guntur lalu tersenyum "Ayo makan bareng kita"

"Ayo Lia, makan bareng yuk" ajak Carissa juga

***

Hubungan sepasang suami isteri itu kini menjadi lebih baik, Carissa mulai banyak bicara, walaupun belum seperti dulu. Namun, tetap saja hal itu membuat Guntur senang. Sedikit demi sedikit ia bisa mencairkan es dihati Carissa, yang entah sejak kapan es itu ada.

"Bagaimana diklinik hari ini?" tanya Guntur "aku ga lihat Tessa"

"Tessa sakit"

"Carissa, kita ke spa yuk!" ajak Guntur. Carissa membelalak

"AYOO!" jawab Carissa sangat bersemangat

"Tapi besok, besokkan libur"

Carissa menghela napsnya kasar "Yaudah besok, tapi janji ya"

"Teman tidak pernah ingkar janji" kata Guntur, Carissa tersenyum

You're My JanuaryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang