Bagian Empat Belas

21 3 0
                                        

Guntur membantu Carissa untuk turun dari mobil putihnya. Pak Nanda menurunkan barang-barang bawaan Guntur dibantu oleh istrinya bu Idah.

"Aku bisa sendiri kok" kata Carissa saat Guntur akan membantunya berjalan

"Aku ke gudang sana dulu ya. Kamu masuk aja dulu"

Diambang pintu sudah ada Putri yang menyambut Carissa dengan senyum mengambang. Carissa juga membalas senyum adik iparnya itu. Putri memeluk Carissa begitu erat.

"Maafin Putri ya kak, gara-gara Putri kak Carissa harus dirawat di rumah sakit"

Carissa tersenyum "Enggak apa-apa"

Carissa melihat ada yang aneh dari raut wajah Putri, lalu Carissa mengikuti arah pandangannya dan melihat Guntur yang berdiri tepat dibelakang Carissa. Pria itu menatap Putri dengan tajam.

"Heh! Jangan gitu liatin adek aku!" ucap Carissa tepat didepan Guntur, lalu wanita itu menarik tangan Putri masuk kedalam

***

"Putri disini hanya sementara kak, selesai melahirkan nanti Putri harus pergi cari kerja dan buktikan ke mama kalau Putri itu bakal jadi orang sukses"

"Iya iya amin" kata Carissa sambil menggenggam tangan Putri "tapi yang aku lihat Guntur masih kesal"

"Iya kak, kak Guntur memang masih marah sama Putri, Putri juga bukan adiknya lagi. Kak Carissa ingat kan malam itu dia bilang apa"

Carissa menangguk cepat, lalu Putri kembali bercerita

"Sebenarnya Putri tidak boleh nampakin wajah Putri ke kak Guntur. Putri harusnya nginap dirumah pak Nanda sampai kak Guntur balik ke Jakarta"

"Kenapa?"

"Karena itu tadi kak, kak Guntur udah ga mau lagi lihat wajah Putri. Dia udah kecewa" mata Putri mulai berkaca-kaca

Carissa memeluk Putri, rasanya ia seperti memeluk Raisa saat ini. Wanita itu tahu betul bagaimana perasaan gadis ini saat tidak dihiraukan keluarganya. Sarah juga pernah berada dipoposi Putri yang tidak diacuhkan keluarganya. Dan tempat mengadu Sarah adalah Carissa. Carissa lah orang yang tahu bagaimana perjuangan Sarah untuk kembali beradaptasi dengan keluarganya sendiri. Dan Carissa akan membantu Putri juga.

"Jangan sedih, aku selalu dukung Putri. Oke?" kata Carissa, Putri hanya mengangguk

"Jangan lakuin hal-hal yang aneh-aneh ya" ingat Carissa lagi

"Iya kak, Putri ga mau lakuin hal bodoh lagi."

Carissa memeluk Putri sekali lagi, lalu meninggalkan gadis itu dikamarnya sendirian.

"Kamu dari mana?" tanya Guntur saat baru tiba didalam kamar Guntur yang super besar

"Dari kamar Putri"

"Ayo kita makan malam, bu Idah udah masak makanan kesukaanku"

Carissa menaikkan sebelah alisnya "Makanan kesukaanmu?"

"Iya, kamu harus coba makanan kesukaanku" kata Guntur lagi, Carissa hanya berdehem

Banyak sekali makanan yang dihidangkan bu Idah, dan semuanya terlihat begitu lezat dan menggiyurkan. Tidak ada makanan kesukaan Guntur semuanya makanan kesukaan Carissa. Carissa sangat tersanjung.

"Kata tuan muda, nyonya suka masakan sea food, jadi saya buatkan berbagai jenis makanan sea food." Kata bu Idah

"Terima kasih bu, tapi saya tidak bisa habiskan semua makanan enak ini"

"Setidaknya nyonya cicipi semuanya"

"Panggil saja saya Carissa bu" kata Carissa sambil mengambil irisan cumi bakar

"Jangan nyonya, itu tidak sopan" kata bu Idah

Carissa terkekeh "Yasudah kalau begitu bu Idah ikut makan juga ya, duduk didepan saya bu"

"Tidak nyonya, saya makan didapur saja"

"Bu Idah, ga boleh menolak perintah nyonya" kata Guntur yang baru saja tiba di meja makan

"Kamu darimana aja?" tanya Carissa, Guntur tak menjawab dan langsung duduk disamping Carissa

"Burung lagi?" tebak Carissa, Guntur tertawa pelan "Sudah ku duga"

"Bu, panggil pak Nanda, ajak makan juga" kata Carissa

"Iya nyonya"

"Ngomong-ngomong terima kasih" Carissa bersuara lagi

"Untuk apa?"

"Makanannya" jawab Carissa "ini semua adalah makanan kesukaanku" Guntur tersenyum

"Aku bahkan ga lihat ada omelet disini" sindir Carissa lagi, Guntur terkekeh.

"Kamu kan tamu kami" kata Guntur

"Enggak! Aku bagian dari kalian" takan Carissa. Jawaban yang begitu indah masuk kedalam telinga Guntur hingga membuat hatinya berdesir hebat

"Pak Nanda ayo sini gabung sama kita" ucap Carissa

Mereka berempat menyantap makanan itu dengan sangat lahap. Bu Idah senang bisa memasak banyak seperti ini. Katanya pekerjaannya menjadi asisten rumah tangga benar-benar terlaksanakan. Jarang sekali wanita paruh baya itu memasak banyak seperti ini

"Oh iya bu, panggil Putri kesini ya.Putri juga belum makan" kata Carissa. Bi Idah langsung menoleh kearah Guntur

"Jangan bu Idah. Jangan panggil dia" cegah Guntur

"Kamu kenapa sih? Putri juga lapar" kata Carissa

"Bi Idah ambilkan saja nasi dan lauk, lalu antar ke kamarnya. Saya tidak suka lihat anak itu" suara Guntur begitu tajam dan berat

"Baik tuan muda" kata bu Ida

"Jangan lagi panggil dia tuan muda bu, orang kalau suka marah-marah nanti cepat tua"

Bu Idah menahan tawa, sesegera mungkin bu Idah  melangkah meninggalkan meja makan lalu pergi ke kamar Putri.

"Aku udah kenyang" ucap Carissa sedatar mungkin lalu meninggalkan meja makan yang sebenarnya masih ingin ia santap hingga habis

Guntur melihat kepergian Carissa naik tangga hingga wanita itu masuk ke kamarnya dan bayangannya tak lagi terlihat. Guntur menggeleng, lalu kembali menghabiskan makanan dipirnganya.

You're My JanuaryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang