Holkay dan Tinta Pulpen

981 91 1
                                        

Pagi yang cerah, bukan begitu? Karena seperti cerita pada umumnya, dimana tokoh protagonis kita adalah orang yang ceria.

Dan yah, mengapa latar suasananya cerah? Sekali lagi, ini bukanlah kisah suram, apalagi tragedi.

.

.

.

08.30 AM

“Na-channn!!!!! Kau akan terlambat, sayang!!!”

Bruk

Ugh..” Hinata meringis sambil memegangi dahinya yang baru saja mencium lantai kayu kamarnya.

Sebenarnya, bukan hanya dahi, tetapi sekujur tubuhnya terjatuh dari ranjang queen size-nya dan membentur lantai, tapi tak apalah, toh, dahinya yang paling sakit.

Ia mencoba duduk dan mengumpulkan kesadarannya. Setelah dirasa cukup, Hinata beranjak ke kamar mandi.

5 menit kemudian ia sudah selesai bersiap dan turun ke ruang makan yang berada di lantai bawah.

Ohayou, Kaa-chan.” Hinata mengecup pipi kiri ibunya dan segera mendudukkan diri di kursi meja makan.

“Dimana Hana-chan?” tanyanya sembari meletakkan tas jinjingnya ke kursi di sebelahnya yang kosong.

“Sudah berangkat dengan Tou-chan.” Jawab Hikari lembut sambil meletakkan sepiring nasi goreng ke hadapan putri sulungnya itu.

Hinata menerimanya dengan senyum sumringah yang terus terpatri di bibir peach-nya. “Arigatou Kaa-chan. Itadakimasu...”

Tin Tin

“Sebentar, ya, Kaa-chan lihat siapa yang datang.”

Hu’um.” Hinata mengangguk dengan tetap mengunyah makanannya.

“Cepatlah Na-chan! Naruto-kun sudah datang!” teriak ibu beranak dua itu dari arah ruang tamu.

Ternyata Hinata sudah berlari ke arahnya, dan dengan secepat kilat mencium pipi ibunya, lagi.

Itekimasuuu!!!!”

Iterasai!”

Naruto yang sudah menunggu sambil bersender pada kap mobilnya, dan jangan lupakan kedua tangannya yang dimasukkan ke saku celana seragamnya yang semakin menambah kadar ketampanannya- setidaknya, begitulah ia terlihat di mata Hinata.

Pria berambut pirang itupun segera membukakan pintu bagian penumpang untuk hime-nya. Hinata segera masuk dan Naruto kembali menutupnya. Melambaikan tangan kanannya kepada Hikari dan tersenyum, “Kami berangkat dulu, Okaa-sama!”

“Ya, hati-hati mengemudi.” Hikari balas tersenyum, Naruto segera masuk ke kursi pengemudi dan mulai melajukan mobil keluaran terbarunya itu- yang bahkan belum dirilis secara resmi kepada publik- dengan perlahan.

.

.

.

Dua sejoli itu berlari tergesa menuju kelas mereka. Yah, satu menit lagi dan, mereka akan terlambat.

Teet Teet Teet

Bel masuk sudah berbunyi, tak hanya mereka berdua yang berebut untuk masuk kelas. Mereka saling berdesakan di pintu hingga-

Bruukkk

Semuanya jatuh, tapi seakan tak merasakan sakit, mereka langsung berdiri dan menuju bangku masing-masing.

Tak ada teriakan, umpatan, ataupun delikan tajam. Sepertinya mereka memang sudah terbiasa seperti itu.

15 menit berlalu, tapi tak ada tanda-tanda akan adanya seorang guru yang datang untuk mengajar- padahal jam pertama ini matematika, dan semua murid juga tahu siapa gurunya, Morino Ibiki, sensei terkiller- dan kelas pun masih sama gaduhnya seperti tadi.

Hingga sang ketua kelas masuk dan menggebrak meja guru, sontak saja semuanya diam dan duduk sambil menunduk di bangkunya masing-masing.

Ya, kecuali beberapa, seperti Shikamaru yang tetap tidur dengan pulasnya. Sasuke dengan wajah tripleknya. Dan jangan lupakan Naruto yang melotot ke arah ketua kelasnya- Yahiko.

“Apa yang kau lihat, rubah?!”

“Tidak ada, aku hanya memandangi hime-chan dari belakang.”

Hhhh...” Yahiko menghela napas pelan, tak akan ada gunanya meladeni putra semata wayang dari Namikaze Minato dan Namikaze Kushina itu.

“Baiklah, minna. Hari ini Ibiki-sensei ada urusan, jadi dia menyuruh kita mengerjakan tugas di buku paket halaman 97-127.”

Hah! Dia pasti sudah gila!”- Kiba.

Waaahhh. Ibiki-sensei benar-benar ingin agar kita bekerja keras. Huaa, aku terharu!”- Lee.

“Kalian saja yang gesrek!”- Temari.

Yahiko beranjak menuju bangkunya, dan keramaian pun dimulai lagi.

Baiklah, sekarang kita beralih pada pasangan utama saja, ya.

Hinata’s POV

Hime-chan.. ajari aku dong.” Suara Naruto-kun terdengar mendayu di telingaku.

Dan, oh apa ini. Kurasakan embusan napas menerpa telingaku.

Citrus dan mint.

Aku tahu aroma ini. Aroma Naruto-kun. Sontak saja wajahku memanas dan jantungku berpacu lebih cepat.

Hime...” lagi. Suaranya begitu dekat denganku, aku memejamkan mataku begitu saja.

Hime kau dengar tidak, sih?” embusan napas itu mengenai pipi kananku.

Aku terkejut dan membuka mata kembali. Tangan kananku yang memegang pulpen refleks kugerakkan ke samping untuk menjauhkan wajah Naruto-kun.

Set

Sepertinya tidak kena. “Yah, hime. Pulpenmu mengenai lengan seragamku.”

Aku segera menoleh, dan benar saja terdapat goresan tinta di seragamnya, dan itu cukup panjang serta tebal. Kulihat ia mengerucutkan bibirnya.

Aku segera tersadar- “Kyaaaaa.... gomen ne. Gomen nasai Naruto-kun. Aku tak sengaja. Gomen. “

“Tak apa hime-chan. Tenang saja.” kemudian kulihat Naruto-kun mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.

Moshi-moshi.”

“...”

“Bisakah kau membawakanku seragam baru.”

“...”

“Seragamku yang sekarang terkena tinta pulpen.”

Klik.

Naruto-kun memutuskan sambungan teleponnya.

“Tak apa, hime. Semuanya baik-baik saja.” Ia melayangkan senyum mentarinya kepadaku.

Apaaa???? Dasar orang kaya. Hobinya menghambur-hamburkan uang saja. 

NaruHina -Always And Forever- Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang