“Ohayou.” Sapanya riang ketika memasuki kelas. Aku tahu ia selalu seperti itu, menyapa siapa pun yang ia kenal. Tak terkecuali aku.
“Ohayou, Hyuuga-san”
“Um, ohayou mo, Namikaze-san.” See? Ia juga menyapaku sembari mendudukkan diri di bangkunya- yang berada tepat di samping kanan bangkuku.
Oh ya, aku duduk paling belakang di sudut kelas, dekat jendela, yang memudahkanku untuk menatap pemandangan taman sekolah yang menghadap ke kelasku.
Oke, lupakan itu. Sekarang ini, aku hanya ingin fokus memandangnya yang sedang sibuk dengan novelnya. Yah, meski harus sembunyi-sembunyi, sih.
Karena sama seperti yang lainnya, ia hanya menganggapku sebagai teman sekelasnya. Itu saja. Sebenarnya masih lebih baik, sih, daripada tidak dianggap sama sekali.
Ngomong-ngomong, keuntungan lain dari tempat dudukku ini adalah aku dapat melihatnya sembari menatap ke arah papan tulis di depan sana. Dengan sedikit memiringkan posisi dudukku, maka aku bisa mendapatkan keduanya- dia dan fokus terhadap guru yang mengajar. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui, eh.
Tapi apalah dayaku, yang hanya seorang murid biasa. Aku tahu dia juga hanya siswa standar. Tapi, ia memiliki senyuman yang menawan. Dan tatapan matanya- yang sejernih batu safir itu, mampu menghanyutkan perasaan banyak gadis. Apalagi ditambah dengan sikap ramahnya, serta kepribadian yang bagus- ia terbuka dan senang membantu.
Oh, ayolah. Apa gadis sepertiku masih memiliki harapan? Kurasa tidak. Tapi tidak juga, selama ia masih sendiri, dan belum ada kabar bahwa ia menambatkan hatinya pada seseorang, selama itulah, aku masih memiliki kesempatan yang sama dengan para gadis yang mengaguminya- termasuk si hime itu.
Ya, dari sekian banyak gadis yang tertarik padanya, ada satu yang paling gencar melancarkan aksi pendekatan. Dan gadis itu, Shion Miku. Putri dari keluarga bangsawan yang terkenal. Tidak ada seorang pun di kota ini yang tak mengenalnya. Cantik, anggun, pintar, dan segala sesuatu yang baik- ia sabet semua. Di tambah, ia juga aktif di berbagai klub sekolah-salah satunya klub sastra. Yang mana ia gunakan sebagai salah satu sarana untuk mendekati Namikaze Naruto.
...
Huft. Sialnya aku hari ini. Tadi pagi aku tak sempat melihat perkiraan cuaca. Dan sekarang, aku terjebak di sini. Berteduh di teras sebuah toko tutup, menghindari guyuran hujan yang semakin lebat.
Aku tak membawa payung. Menerobos hujan hanya akan membuatku sakit. Ya, aku memiliki daya tahan tubuh yang lemah.
Malangnya lagi, baterai ponselku habis. Jadi aku tak bisa menghubungi siapapun. Kaa-san dan Tou-san sedang mengunjungi Baa-san di desa. Neji-nii ada tugas di luar kota. Hanabi, mungkin saja dia juga masih terjebak di sekolahnya. Hah, memangnya siapa yang bisa kuharapkan.
Setidaknya aku bisa naik taksi, tapi nihil. Sejak tadi hanya ada jalanan kosong.
Suara gemericik air hujan memenuhi indra pendengaranku. Sunyi. Seperti hanya aku saja yang hidup di dunia ini.
Di kejauhan dapat kulihat ada seseorang yang berlari ke arahku. Bagaimana kalau orang jahat, tapi tunggu. Warna rambut itu, aku mengenalinya.
Semakin dekat dan dapat kulihat, ia juga mengenakan seragam sekolah yang sama denganku.
Dia...
"Hai. Boleh aku berteduh disini juga?"
Aku seperti kehilangan napasku selama sepersekian detik. Aku mengangguk dan segera menunduk.
Bagaimana bisa hal seperti ini hadir dalam hidupku. Sekarang ini, aku dan Naruto-kun, berdiri bersisian di teras toko yang luasnya tak seberapa ini, demi menghindari hujan.
Jantungku berpacu lebih cepat. Rasanya aliran darahku meningkat, rasa hangat menjalari pipi hingga telingaku.
"Hinata." Oh Kami-sama, dia baru saja memanggilku.
"Y-ya?"
"Kau sudah lama disini?"
"Ti-tidak jug-a." Sepertinya aku harus menetralkan detak jantungku agar bisa berbicara dengan lebih baik.
"Hei, kenapa kau menunduk terus, sih? Apa kau takut padaku?" Tanyanya sembari tersenyum, yang dapat kulihat melalui ekor mataku.
Aku menggeleng sebagai jawaban.
"Lalu kenapa? Aku kan jadi tidak bisa melihat wajah cantikmu?"
Blush
Kenapa dia mengatakan hal seperti itu, sih. Aku benar-benar malu, ingin pingsan rasanya. Apa dia selalu seperti ini pada setiap gadis?
"Ne, hime."
Aku mendongak. Barusan dia bilang apa? Apa dia memanggilku? Tapi memang tak ada orang lain disini.
"Jangan menatapku serperti itu, hime."
Lagi. Jadi dia benar-benar memanggilku?
"Maaf. Apa kau keberatan jika kupanggil begitu?"
Tidak. Aku sangat senang, Naruto-kun. Tapi,
"Ke-kenapa?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibirku.
"Karena kau seperti putri bagiku. Aku mencintaimu, Hinata."
Hujan semakin deras, dan entah mengapa rasanya senang sekali, hingga-
"Hinata. Hei, bangun, hime."
Sepertinya aku pingsan di pelukannya.
.
.
.
Prahujan
Naruto memandang langit yang mendung.
"Gelap sekali." gumamnya di gerbang sekolah.
Ia melihat seorang gadis berambut indigo yang berlalu melewatinya. Senyumnya mengembang entah karena apa.
"Hei, dobe. Ayo pulang. Kau mirip orang gila jika seperti itu."
Naruto mencekal pergelangan tangan kanan sahabat raven-nya.
"Tunggu, Sasuke. Ini." Naruto menyodorkan payungnya pada si bungsu Uchiha.
Pemuda itu mengernyit. Untuk apa payung itu? Toh, dia bawa sendiri.
"Sudahlah, terima saja. Hari ini aku akan mendapatkannya." Ujarnya semangat dan setelah Sasuke mengambil payung itu dari tangannya, ia segera berlari ke arah gadis indigo tadi pergi.
'Heh, dasar si dobe. Sama sekali tidak ada romatisnya.'
Sasuke menatap punggung sahabatnya yang menghilang di tikungan bersamaan dengan air hujan yang mulai membasahi bumi.
KAMU SEDANG MEMBACA
NaruHina -Always And Forever-
De TodoIsinya NaruHina, NaruHina, NaruHina, Yah~ semuanya gak jauh-jauh dari NaruHina. Dan yang jelas cerita ini isinya gak jelas. Disclaimer : Masashi Kishimoto Cover from Pinterest Story written by me ^^ Warning : OOC, Typos, no EYD
