We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Dua Puluh Enam

1.6K 214 7
                                        

Dengan bangga ku tenteng piala dan piagam berjalan menuju rumah sakit setibaku dari luar daerah. senyumanku mengembang membayangkan betapa wajahnya berseri.

Kakiku melangkah dengan pasti memencet tombol lift sambil bersenandung dan hentakan kaki kecil mengiringi.

ting!

pintu lift terbuka, kulihat ada beberapa berjas putih didalam, aku menyapanya karena kita saling kenal .

"Siang Dokter Nam" sapaku, Dia dokter seruangan dengan Bundaku.

"ohh, Haloo Tae? ngapain kesini? mau ketemu Bunda?" tanyanya

aku menggeleng pelan dengan senyuman mengembang, "bukan tapi mau ngejenguk teman"ucapku tersipu malu dan segera menekan tombol 15. Dokter Nam melihat arah tanganku menekan, menatapku mengernyit.

"tidak salah?" katanya,membuatku mengernyit bingung.

"Namanya Jennie Kim" ucapku, kemudian keheningan, kulihat dia keluar terlebih dahulu dilantai 3, kemudian terdiam menatapku terus hingga lift itu tertutup sendiri.

ting!

sebelum masuk keruangan khusus, banyak seragam hitam menjaga didepan. salah satu orang yang berbadan kekar mendekatiku.

"cari siapa?" tanyanya

"Pasien Jennie Kim"jawabku. Kemudian lelaki itu memegang headset yang terpasang ditelinganya berbicara kepada entah siapa, kemudian berbalik lagi kearahku.

"nama siapa?" tanyanya lagi

"Taehyung, Kim Taehyung" ucapku,. Diapun menyebut namaku dan kulihat dia menatapku seakan akan mendengar konstruksi dari orang yang didengarnya.

"sebentar"ucapnya menjauh.

Tak lama kemudian muncul Hanbin dari dalam melihatku dengan muka susah dideksripsikan. dia terlihat gugup, membuatku penasaran, karena sampai saat ini kami duduk berdua dengan minuman dingin dimeja dia tidak bersuara sama sekali, padahal aku mau sekali ketemu dengan Jennie.

Dia seakan menyelami fikirannya sendiri, hingga kudengar suara helaan nafas kuat terdengar ditelingaku.

"titip Hpmu, ikut saya"ucapnya tidak berani melihat mataku. Kuanggukkan kepalaku dan berjalan tempat khusus penitipan barang elektronik.

Suara mesin rumah sakit mulai terdengar, mengiringi langkahku kesuatu pintu yang sangat tertutup, hingga Hanbin berbalik, menyuruhku untuk berganti pakaian berwarna biru, penutup kepala dan masker, Hanbinpun begitu. Setelah selesai dia tidak bergerak sedikitpun, dia menatapku dalam, kemudian melangkah kearah berlawan dan menuju pintu yang tertutup rapat.

kriettt....

Pintu dibuka dengan perlahan, masih kurang jelas penglihatanku, tetapi semakin lebar pintu terbuka semakin membuatku mematung, piala dan piagam yang kupegang terjatuh menimbulkan suara keras, kakiku layaknya Jelly. Jennie tertidur dengan banyak kabel kabel entah itu apa diseluruh tubuhnya, mulutnya dibantu alat pernapasan.

Hanbin membantuku berdiri dengan perlahan. kakiku yang lemas berjalan dengan perlahan dan terdiam melihat tubuh Jennie yang sangat kurus tapi tetap cantik.



"Tubuhnya menolak" itu ucapan yang kudengar dan langsung mengerti, ternyata Kemonya tidak berhasil, tubuhnya menolak ransangan, sehingga dia tidur yang mungkin sudah lama.

Perlahan tanganku terangkat mengelus lembut tangan yang sudah mengurus, air mataku tidak berhenti turun. Pasti Jennie kesakitan, pasti Jennie sudah tidak kuat.

"Bisa tinggalkan kami berdua?" tanyaku

Hanbin mengangguk dan berjalan keluar. Tangisanku langsung pecah.

"aku sudah datang Ni, jangan menyiksa dirimu menungguku" ucapku menumpahkan air mataku keras.

Tangisanku semakin keras, kupukul dadaku sesak, higga dua kata yang  kuucapkan dengan gemetar  terlontar dibibirku, membuat suara- biiiiiiiiiiiipppppp- pada monitor dengan garis lurus.











_____________

Kata itu terus kuulangi tapi masih sesak kurasa

"Aku Ikhlas"

Jennie My Love,

Rest In Peace
Tunggu aku untuk bertemu denganmu ....






Lagii




100 Days X TaennieStories to obsess over. Discover now