Hari pertama kulalui dengan sangat berat. Kita semua berkumpul dirumah Almarhum Jennie untuk memanjatkan doa untuknya. Tidak ada lagi tangisan terdengar, semuanya hanya terdengar suara pengajian. Rasanya masih sakit, tapi layaknya batas cadangan air mataku sudah habis.
Langkah kakiku menuntunku untuk mengikuti Bang Kai menuju kamar Jennie. Kamarnya dominan peach lembut. Aku duduk dan menyapu lembut ranjangnya, wangi kamarnya layaknya wangi tubuh jennie, dengan rakusnya ku hirup dalam dalam, dan menghafalnya . Bang Kai duduk disampingku dengan kotak besar dipangkunya, dengan diam dia memberikanmya kepadaku.
Kutatap dirinya tidak mengerti.
"Untukmu" ucapnya menghela nafas dan keluar meninggalkanku sendiri.
Dengan penasaran kubuka dengan perlahan. Terdapat jas dokter dengan borderan berwarna emas lembut tertulis namaku disana. Bahkan banyak beberapa buku berhubungan dengan kedokteran, stetoskop, alat tensi dan terakhir buku kecil berwarna pink terkunci sandi angka. Ada tiga angka. Perlahan kusimpan semuanya dan menatap dalam dalam buku itu mencari clue sandinya. Dengan mata jeli diujung sambul buku itu tertulis 100 days. Dengan mencobanya perlahan memasukkan sandi angka 100- ceklek -buku itu terbuka.
Tanganku gemetar kuat, kutarik nafasku dalam dalam dan membukanya dengan perlahan. Hal pertama yang kulihat adalah foto pertama kita.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Foto dimanaWaktu kita makan bersama direstoran seafood. Foto yang membuatku meringis mengingatnya. Dimana dia memaksa untuk makan seafood padahal dia sendiri alergi seafood, dan tidak masuk sekolah.
Baris selanjutnya tertulis dengan besar angka 100 dengan tulisan warna warni untuk tulisan Day's dibawahnya tertulis "step mendapat perhatian Kak Tae"
Kututup perlahan buku itu, sungguh belum cukup nyaliku untuk membacanya. Dengan rapi kumasukkan kembali seperti semula. Dan terakhir kutatap lama jas dokter itu.
"Aku akan jadi calon dokter yang baik dan mencoba menyelamatkan Jennie yang lain" ucapku tersenyum mengelus lembut namaku dijas dokter itu.
_________
"Dokter Kim" panggilnya membuatku berbalik menatapnya. Disitu ada suster Sejeong yang kubaca di name tagnya.
"Iya?" Tanyaku
"Pasien kamar 101, hari ini jadwalnya kemo " ucapnya memberikanku data pasien. Membuatku mengangguk. Dan mengikuti berjalan masuk keruanganku untuk mengambil kursi roda.
Aku melangkah bersama suster Sejeong yang mendorong kursi roda, tak lupa membalas sapaan para pegawai rumah sakit,suster, dokter,pasien dan keluarga pasien. Iya aku terkenal dengan dokter dengan tangan Tuhan dengan penuh keramahan. Namaku tertempel besar dilobi rumah sakit sebagai dokter terbaik selama 3 tahun berturut turut specialis penyakit dalam.
Kuketuk perlahan pintu itu, tak lama kemudian wanita paruh baya tersenyum lembut menyambutku. Kualihkan pandanganku disana gadis kecil berkepala botak tersenyum kepadaku minta digendong. Kuletakkan dokumen pemeriksaannya dan menggendongnya.
"Aduh,, kamu sudah berat yah, sampai sampai dokter rasanya patah tulang" ucapku menggendongnya dan menggerakkannya kekanan dan kekiri. Anak kecil itu namanya Elsa berumur 5 tahun yang sudah di diagnosa leukimia atau kanker darah stadium 2. Kondisi tubuhnya menerima rangsangan positif. Akan tetapi efeknya dia kehilangan bulu diseluruh tubuhnya.
"Turun yah, dokter mau periksa"ucapku menggendongnya turun keranjang. Dengan semangat dia duduk melihatku, tak lupa dia sudah mencuri dikantong jasku lolipop. Aku tersenyum mengelus lembut kepalanya.
Setelah pemeriksaan kugendongnya lagi dan kududukkan dikursi roda dan mendorongnya sambil bercerita soal putri es yang namanya sama,yaitu putri Elsa. Kami berjalan bersama orang tuanya yang tersenyum karena melihat anak semata wayangnya antusias bahkan dengan cepat tanggap menaggapi cerita itu.
"Nah, sekarang Elsa masuk disini yah, kita bermain sembunyi dengan olaf"ucapku menyebutkan tokoh kartun forzen yang bernama olaf simanusia salju .
Dia mengangguk antusias masuk dengan tenang untuk pemeriksaan bagian dalam terlebih dahulu sebelum melakukan pemeriksaan selanjutnya.
Setelah melakukan kemo, Elsa terlihat lemas tapi mulutnya tersenyum karena melihat boneka olaf yang sedari tadi aku minta pesan dibelikan boneka itu. Dipeluknya dengan erat boneka olaf dan tertidur.
"Perkembangan elsa membaik, tinggal tunggu beberapa pengecekan" ucapku dengan memberikan semangat kepada kedua orang tua Elsa.
"Terima kasih bahyak Dokterk Kim" ucap mereka tersenyum dan keluar dari ruanganku.
"Jennie, aku hebatkan ?" Ucapku tersenyum melihat pigura kecil diatas meja kerjaku
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.