Bab 30 - Cemburu

5.4K 163 3
                                        

Baru saja kemarin Alena menghabiskan waktunya dengan Arka dan sekarang ia harus melihat pemandangan yang membuat dirinya merasa cemburu.

Arka di dalam ruangan bersama Andin sedangkan dirinya hanya bisa di luar ruangan seraya menatap dari balik kaca pembatas, seharusnya ia menolak ajakan Arka untuk mengunjungi adiknya, kalau tahu keadaannya begini lebih baik Alena habiskan waktunya di rumah saja.

“Aku senang, Kak Arka masih ingat sama aku,”

“Hey.. Kakak bakalan selalu ingat sama kamu, maaf kalau akhir-akhir ini kakak jarang jenguk kamu,”

“Kenapa Kak Marisa enggak ikut masuk Kak?”

“Kamu kan tahu alasannya kenapa,”

“Begitu banyak orang-orang yang sayang sama Kak Marisa, sampai-sampai mereka enggak ingin melihat Kak Marisa sakit, tertular penyakitku ini.”

“Andin kamu enggak boleh ngomong kayak gitu, semuanya sayang kok sama kamu,” ujar Arka seraya mengelus puncak kepala Andin.

Alena masih setia fokus menatap ke depan, entah apa yang mereka bicarakan Alena tidak dapat mendengarnya.

Jengah berlama-lama melihat pemandangan yang terus-terusan membuatnya gerah, Alena lebih memilih ke kantin rumah sakit mungkin dengan mengisi perutnya, ia akan lebih sedikit tenang. Lagi pula buat apa dirinya cemburu terhadap adiknya sendiri.

“Itu kan Bunda,” ia menghampiri Sarah yang tengah menangis setelah keluar dari ruangan dokter.

“Bunda,” serunya seraya menghampiri ibunya.

“Alena,” ibunya langsung menghapus air matanya, tidak ingin Alena melihatnya sedang bersedih.

“Bunda kenapa nangis, ada masalah apa?” tanya Alena seraya menggenggam tangan Sarah bundanya.

“Bunda enggak nangis kok sayang, tadi mata Bunda kena debu jadinya perih,” ucapnya mengelak.

“Oh gitu.” Alena tidak percaya sama sekali tidak percaya, rumah sakit ini sangat mengutamakan kebersihan mana mungkin bisa ada debu, kalaupun ada debu tidak mungkin sebesar biji salak bukan.

Alena tahu ibunya sedang berbohong, ini pasti tentang Andin hal ini semakin membuatnya penasaran.

“Kamu kok bisa disini?”
“Sama Arka, Bunda jenguk Andin,”

“Sekarang mana Arka nya?”

“Lagi di ruangan nemenin Andin, aku lapar mau ke kantin, Bunda mau ikut?”

“Bunda masih ada urusan, kamu sendiri aja ya.” Alena mengangguk.

Alena pergi meninggalkan ibunya sendirian yang masih menatap punggung putrinya yang mulai menghilang dari pandangannya.
Matanya mulai memanas kembali rasanya perih, mengingat ucapan dokter mengenai Andin putri bungsunya yang kemungkinan tidak dapat bertahan lama.

“Virusnya semakin menyebar di seluruh tubuhnya, hanya keajaiban Tuhan yang dapat menolong putri anda. Saya sebagai seorang dokter sudah berusaha semaksimal mungkin.”

HIV/AIDS bisa di kendalikan tapi sangat sulit di sembuhkan karena sampai sekarang belum ada obatnya.

Arka terus menelusuri koridor mencari keberadaan Alena, setelah Andin tertidur Arka keluar mencari Alena. Mata hitamnya menangkap seorang wanita cantik tengah duduk sendirian di meja makan kantin seraya menikmati makanannya.

“Ehem..” Alena menatap Arka dengan tatapan biasanya.

“Sendirian aja?” Arka mengambil duduk di samping Alena.

“Mendingan sendirian di bandingkan berduaan,” sahutnya.

Arka tahu Alena tengah kesal padanya, ia hanya tersenyum simpul meraih semangkok bakso milik Alena, ia ikut mencicipinya.

“Apaan sih kamu itu punya aku, kalau mau beli sendiri aja,” kata Alena dengan menatapnya tajam.

“Aku lapar,”

“Emangnya kamu aja yang lapar, sini balikin,”

“Enggak mau,” Arka meledeknya.

“Omdud.. jangan buat aku tambah marah ya,”

“Oh, jadi ceritanya kamu lagi marah, marah kenapa sih huh?”

“Enggak tahu,”

“Udah enggak usah ngambek, enggak usah marah lagi mendingan kita makan sini aku suapin,” katanya.

“Ayo buka mulutnya..” dengan rasa malasnya Alena membuka mulutnya menerima suapan dari Arka.

“Enakan.. pasti enak dong kan yang nyuapin cowok ganteng kayak aku.” seraya nyengir kuda.

Arka selalu berhasil meredahkan amarahnya, selalu membuat Alena tersenyum kembali dan bagi Arka membuat Alena tersipu malu karenanya adalah hal yang paling menggemaskan untuknya.

My Boyfriend Is Duda (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang