“Kemana saja? Enggak ada kabar sama sekali?” Arka mengerutkan dahinya mendengar suara cempreng dari ponselnya.
“Maaf sayang, aku banyak kerjaan,” Arka beralibi.
“Sebegitu pentingnya kerjaan kamu, sampai lupa ngasih kabar?” suara Alena sedikit tercekat nyaring tenggorokannya kering.
“Iya maaf ya, aku janji enggak akan lagi lupa ngasih kabar sama kamu, Maaf ya, sudah jangan marah lagi ya,” kata Arka dari sebrang sana.
“Kapan kamu pulang?” Arka menarik nafasnya pelan, dia bingung harus menjawab apa, Arka juga merindukan kekasihnya tapi disisi lain ada gadis yang sangat membutuhkannya saat ini.
“Permisi Pak?” Arka terkejut mendapati kedatangan suster yang menghampirinya, Arka mengheningkan sambungan ponselnya agar Alena tidak mendengar obrolannya.
“Maaf Pak, Mba Andin tidak mau minum obat, dia hanya mau minum obat asalkan ada Pak Arka,” tutur suster seraya tersenyum.
Arka membalasnya, “Iya saya akan ke sana nanti, tunggu sebentar,” suster berseragam biru itu meninggalkan Arka sendiri.
“Hay.. halo..? Kamu masih di sanakan dengerin aku ngomong coba? Omdud..” teriak Alena dari sebrang sana.
“Iya aku masih disini, secepatnya aku akan pulang sudah dulu ya.. aku harus kembali ada meeting, dah.. sayangku.” sambungan terputus Alena geram dengan sikap Arka yang akhir-akhir ini terus mengabaikannya.
Kekasih mana yang tidak marah seminggu lebih ia tidak di beri kabar sama sekali. Mungkin sifat ini seperti anak kecil, cemburu dan posesif, lelah pikirannya.
Alena telah bersiap berangkat ke kantor, semenjak kejadian di kantor ia tidak terlalu akrab dengan CEO disana, lagi pula dari awal juga mereka memang tidak terlalu dekat, ia hanya akan bertatap muka langsung jika ada urusan pekerjaan, kalau bukan karena Arka yang terus-terusan memohon memintanya untuk kembali bekerja ke perusahaan itu, ia tidak akan mau menginjakan kembali kakinya.
Alena merasa bersyukur karena beberapa minggu lagi ia akan mengakhiri masa magangnya di perusahaan Wijaya Group.
“Ningsih kamu mau enggak bantuin aku?” Ningsih menoleh kesamping menatap teman kerjanya.
“Bantuin aku cari informasi Pak Arka, lagi ada kerjaan apasih di Jogja?” Ningsih tercekat mendengar penuturan Alena.
“Aku enggak mau ah, bahaya tahu nyari informasi tentang Pak Arka,”
Alena mendengus sebal, “Ayolah, bantuin ya.. masa iya aku ngomong langsung ke Pak Rendy, males! Kamu tahu sendiri hubungan aku sama Pak Rendy kayak apa sekarang?” Alena menyatukan kedua telapak tangannya ia memohon.
“Iya udah iya aku bantuin,” Ningsih menyerah percuma juga jika ia tidak mau, ia pasti akan tetap di paksa.
Hal yang baru yang di ketahui Ningsih sekarang ialah Alena berpacaran dengan Arka, mereka menjalin hubungan tapi kenapa wanita itu harus mencari informasi segala, mengapa tidak tanyakan langsung saja pada pacarnya, Ningsih jadi merasa heran.
***
Beberapa hari kemudian.. tatapan kosong menatap kearah luar, kesal Arka tidak memberinya kabar kembali. Mengapa pria itu tidak bisa peka bahwa kekasihnya ini sedang merindukannya, sangat merindukan pria tua itu.
Diam tak ada yang ia kerjakan, hanya sunyi yang menemaninya malam ini. Bertumpuh diantara besi kokoh yang terpasang untuk membatasi balkon kamarnya.
Dingin menyeruak ke seluruh relung persendiannya, matanya mulai sayu, bibir mungil miliknya sedikit pecah, membiru, kedinginan yang ia rasakan sekarang. Tangannya memeluk dirinya sendiri, menetralisir pikirannya yang penuh tentang pria tua yang menyebalkan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Boyfriend Is Duda (END)
RomanceSeorang gadis berusia 22 tahun tengah mencoba menaklukan hati Pria yang ternyata berstatus seorang duda. Pertemuan yang tidak disengaja membuat jalinan hubungan mereka semakin dekat. Sampai akhirnya keduanya terjerat dalam permainannya mereka sendir...
