Pagi ini adalah hari dua tahun masa jadiannya bersama Jungkook. Pemuda manis bersurai cokelat itu sibuk mempersiapkan diri ke sekolah dengan membawa satu kotak besar ditangannya.
Ia kelewat antusias. Sebab, Jungkook tidak menunjukkan tanda-tanda ingin mengakhiri hubungan, dan Jimin sedikit berharap jika pemuda Jeon itu akan melihat kearahnya. Well, meskipun Jimin tak tahu kapan.
Kaki mungilnya melangkah ringan menuju ruang makan, dan maniknya mendapati sang Ibu yang termangu sendirian disana. Sangat enggan untuk menyantap sarapan pagi ini, nasi goreng kimchi.
"Ibu?" suaranya mengalun lembut. Duduk disisi sang Ibu seraya mengelus punggung ringkih itu dengan sayang.
Biasanya, Ibu Jimin kelewat antusias untuk memakan masakannya sendiri. Terlebih jika itu bersama Ayahnya. Yah, Jimin tak pernah tahu jika manusia bisa berubah begitu cepat.
Wanita itu tak menyahuti. Tatapannya kelewat kosong, dan Jimin hanya mampu menggigit bibirnya, sembari berusaha keras manahan air matanya. "Aku pergi ke sekolah dulu. Ibu jangan lupa makan, oke?" bibirnya bergetar, mengecupi kening Ibunya dengan sayang, dan melangkah untuk pergi meninggalkan Ibunya dalam keheningan.
Hatinya mendadak nyeri, kala telingannya menangkap isakan Ibunya dari arah ruang makan. Ia menghela nafas panjang, seraya mengusap kedua matanya.
Jimin benar-benar lelah.
Kapan semuanya akan berjalan dengan normal?
Pun setibanya pemuda manis itu di sekolah. Ia menghampiri kelas Jungkook dengan jantung berdebar. Tangannya mengenggam kotak besar itu teramat erat. Entahlah, dia hanya merasa jika sesuatu yang buruk akan segera menimpanya hari ini.
Selama kakinya melangkah, Jimin berusaha keras untuk mengabaikan segala topik pembicaraan para murid pagi ini.
Jungkooknya mengencani gadis lain.
Dan Jimin tetap berperang dengan pemikirannya sendiri, jika Jungkook bukanlah pria yang sejahat itu.
"Jungie," lirihnya didepan pintu kelas Jungkook. Atensi seluruh siswa menjurus kearahnya, sedikit tertegun kala mendapati wajah Jimin yang memerah.
Yang dipanggil namanya enggan menyahuti. Ia sibuk berkutat dengan ponselnya, sementara gadis disisinya bergelayut manja ditangan penuh otot itu.
Jimin bahkan tidak pernah menyentuh Jungkooknya.
"Hai, Park Jimin!" gadis disisi Jungkook menyapanya kelewat riang. Melambai-lambaikan tangan diudara, kelewat heboh.
Jimin mengangguk sebagai jawaban. Tungkainya mendadak tidak bisa diajak bekerja sama. Ia terlalu takut untuk mendekat. Pemuda manis itu menyangkal segala kenyataan yang ada.
Bahwa Jungkook telah membuangnya.
"Aku ingin bicara denganmu," ucap Jimin dengan bibir bergetar dan kedua mata berkaca-kaca. Jungkook berdecak malas, dan tetap terpaku menatap ponselnya. "Bicara saja disini," ketusnya.
Tangannya menyodorkan kotak besar yang berada ditangannya dengan rasa cemas. Jungkook bahkan enggan untuk sekedar menatap kearahnya. Apa Jimin semenjijikan itu?
Jungkook tak bereaksi apapun. Dan satu kelas telah menatap penuh rasa bersalah pada tubuh pemuda mungil yang telah bergetar itu. "Hari ini, adalah tahun kedua kita. Kukira, semuanya akan berangsur membaik jika aku terus bertahan, tapi sepertinya kau tidak sependapat. Begitu, kan? Terima kasih atas hadiahnya."
Seusai mengatakan kalimat itu, Jimin membalik tubuhnya dengan wajah memerah penuh air mata. Tungkainya segera berlari menjauh, berusaha keras untuk meninggalkan Jungkook, meskipun ia tidak bisa.
Karena Jungkook adalah rumahnya. Tempat dimana Jimin bisa pulang dengan kebahagiaan yang menyambut.
●●●
See u soon💕
Cloudie🐳

KAMU SEDANG MEMBACA
Love Maze [KM]
Fanfiction●|Trapped in a maze of decisions. Exhausted by all the different chaos. We've wandered around, looking for the answer. Lost in the maze, in the darkness|●