Tuan Choi kembali mengeram marah, kala ia kembali menjumpai wajah idiot Jungkook pagi hari ini.
Pun, jadwal jaganya bukan hari ini, namun Tuan Choi sebagai pasukan tertua dari Korea Selatan tentu saja merasa punya tanggung jawab besar dalam melindungi juniornya disini.
Pemuda itu datang dengan kemeja berwarna putih, seraya tersenyum lebar tatkala melangkahkan kakinya di sekitaran tenda. Tuan Choi geleng kepala, lalu berdiri didepannya, bermaksud untuk menghadang.
"Selamat pagi, Tuan." Jungkook menyapa ramah padanya.
Pria paruh baya itu tercengang. Jungkook pasti punya riwayat gangguan jiwa. Dia yakin itu. Ah, atau semacam bipolar.
"Dokter Park tidak ingin diganggu," ia menjawab sapaan Jungkook dengan dinginnya.
Lain dengan biasanya, Jungkook malah mengukir senyuman kelewat lebar hingga Tuan Choi ingin sekali melayangkan satu tinjunya kepada pemuda gila satu ini.
"Aku tidak ingin bertemu Jimin, kok." Kata Jungkook seraya menelisik keseluruh penjuru tenda yang ramai dengan masyarakat Afrika Selatan yang tubuhnya lecet akibat serangan mendadak tadi malam.
Well, meskipun penduduk disini juga warga negara Afrika Selatan, hanya saja permasalahan yang tak kunjung usai membuat mereka harus mengungsi dari negara sendiri hingga negara lain membantu ras berkulit hitam dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Layaknya tadi malam, beberapa orang anak dan lansia mengalami luka kecil akibat granat yang diledakan semalam. Lalu, adapula diantaranya yang terinjak ranjau hingga melukai tubuh mereka sendiri.
Tenda di sayap timur tengah sibuk-sibuknya saat ini, namun Jungkook masih tetap berharap untuk menemui Dokter mungil itu disini.
Yah, walaupun hanya bertukar pandang barang sedetik, Jungkook agaknya telah merasa puas.
"Dimana Eddy?" Dia bertanya pada Tuan Choi yang masih wasapada akan keberadaan Jungkook.
Alis Tuan Choi menukik tajam, "Dia masih di tenda kesehatan bersama Suster Han. Sebenarnya, kau mau apa sih?"
Jungkook mengangkat bahu, seolah enggan untuk menjawab. Yah, itu tidak ada urusannya dengan Tuan Choi juga, jadi Jungkook merasa tak ambil pusing.
Ia kembali berniat melangkahkan kakinya menuju tenda yang dimaksud oleh Tuan Choi, sementara pria paruh baya itu terus saja mengiringi tiap langkahnya. Jungkook jengkel, sungguh. Namun, dia masih punya rasa hormat untuk tidak memaki pria itu.
"Selamat siang, Suster." Jungkook menyapa sosok wanita yang beberapa hari lalu membantu Jimin dalam menangani Eddy.
Wanita itu tersenyum lebar, membalas sapaan Jungkook yang agaknya memiliki mood baik pagi ini.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Jungkook seraya membantu wanita itu dalam membereskan peralatan kerjanya.
Suster Han tersenyum, "Dokter Park menanganinya dengan baik. Dia memang yang terhebat."
Kalimatnya diakhiri kekehan, dan Jungkook tersenyum juga kala memikirkan sosok pemuda manis itu. Yah, kapan Jimin bisa berhenti bersikap mengagumkan. Pun, jika suatu hal yang aneh dilakukan akan tetap menyenangkan kala Jimin yang melakukannya.
Manik pemuda Jeon itu beralih pada sosok Eddy yang terbaring di ranjangnya. Bocah itu terbuai dalam dunia mimpinya, walaupun suasana begitu riuh disekitarnya.
"Sepertinya, tenda ini sibuk," pria itu berkomentar sembari mengamati keadaan sekitarnya. Well, sekedar basa-basi untuk punya alasan terus beralama-lama disini.

KAMU SEDANG MEMBACA
Love Maze [KM]
Fanfiction●|Trapped in a maze of decisions. Exhausted by all the different chaos. We've wandered around, looking for the answer. Lost in the maze, in the darkness|●