●|Trapped in a maze of decisions. Exhausted by all the different chaos. We've wandered around, looking for the answer. Lost in the maze, in the darkness|●
Manik Jimin tak pernah lepas dari sosok Eddy yang terbaring diatas ranjang. Sedari tadi, ia sibuk menangis dan merintih sebab sakit ditangannya yang tak kunjung reda.
Jungkook berdiri tak jauh dari Jimin. Ia akui, jika Jungkook masih terpesona akan sosok Jimin yang makin menawan. Hanya saja, dia tak habis pikir dengan termangunya Dokter Manis itu seraya memandang datar bocah kecil didepannya. Pasiennya.
"Kau akan membiarkannya mati dengan cara paling mengenaskan, begitu?" Jungkook melontarkan kalimat pedasnya.
Oh, mulut sialan. Sungguh, dia tak bermaksud untuk bersuara dengan kalimat menusuk begitu.
Jimin merotasikan kedua bola matanya. Kelewat jengkel dengan sikap Jungkook yang masih sama seperti dulu.
"Berikan aku kapak," perintahnya pada Suster Han.
Alis Jungkook bertaut. Jimin ini berniat mengurangi sakit pasiennya dengan cara diobati atau malah dibunuh sih. Dia jadi bergidik seketika. Belum lagi dengan sikap Jimin yang jauh berbanding terbalik semasa mereka sekolah menengah.
Ini bukan Jiminnya.
Suster Han menghilang sebentar dari balik tenda, lalu kembali menghampiri sang Dokter dengan tangan kanan mengenggam sebuah kapak.
Jimin memotong tangan bocah itu, hingga manik Jungkook membola seketika. Eddy kian meraung, namun Jimin tetap memasang raut kelewat datar.
"Ya! Kau gila atau apa?" Jungkook membentak seraya mendorong tubuh Jimin. Bermaksud untuk menjauhkan Dokter gila itu dari bocah malang ini.
Tubuh mungil itu terduduk di tanah. Pun begitu, Jimin masih memasang raut kelewat santainya. Sama sekali tak merasa terusik akan sikap kasar yang diberikan Jungkook barusan.
Biar saja.
Jimin sudah berada pada batasnya. Ia tak lagi memusingkan perasaan di hatinya.
"Suster Han? Antiseptik," ia berujar datar seraya tangan terulur menuju perawat disisinya.
Ini sedikit membingungkan. Terlebih untuk sosok Suster Han. Ini kali pertama Jimin diperlakukan kasar begini.
Jimin menuangkan cairan itu keatas tangan Eddy, menimbulkan raungan yang teramat keras dari sebelumnya.
Lain halnya dengan Jungkook yang menatap geram pada sosok Jimin. Dia tidak tahu jika pemuda mungil itu akan tumbuh menjadi Dokter berhati dingin seperti ini.
"Jimin," panggilnya penuh penekanan. Namun, si mungil sama sekali tak menggubrisnya.
Suster Han pun akhirnya buka suara, "Nekrosis. Dokter Park akan menyambung tangannya kembali. Anda tidak perlu cemas," sehabis mendengar penuturan Suster Han, Jungkook mendengus, lalu melangkah keluar dari dalam tenda.
Hatinya mendadak sakit, kala berjumpa dengan sosok Jimin yang teramat berubah.
●●●
Jungkook menunggu didepan tenda sembari harap-harap cemas. Well, dia tak menampik jika bertemu dengan sosok Jimin bisa kembali membangkitkan euforianya. Hanya saja, agaknya dia begitu menyesali atas sikapnya dimasa lalu.
Kekasih manisnya itu sudah berubah. Dan, Jungkook cukup tahu diri jika dia tak lagi pantas untuk bersanding bersama sosok itu.
Jiminnya yang kelewat sempurna, dan memiliki hati yang begitu rapuh. Dia tak seharusnya jatuh cinta untuk pria dungu macam Jungkook.
Entah kenapa, hatinya mendadak kacau. Dia butuh Jimin, dan juga kesempatan keduanya. Namun, Jungkook agaknya khawatir jika maniknya akan bersiborok dengan Jimin.
Well, dia merasa jadi seorang pecundang yang berdiri dihadapan Jimin dengan tak tahu malunya.
●●●
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.