27. Huh, Pervert?

2.5K 333 32
                                    

Tak sampai satu hari sejak hyung serta kakak iparnya pergi berbulan madu, Haru mendadak diserang demam sehabis ia makan malam bersama Jimin dan mengunjungi escape room sebentar untuk mengibur hati keponakannya.

Bocah itu merengek diatas tempat tidur, pun bibirnya sedari tadi terus saja bergumam memanggil Ibunya. Minta dipeluk. Agaknya Haru kini tengah merindu, seperti Jungkook saja.

Well, dia yang tak jumpa Jimin selama beberapa menit saja membuat hati pemuda Jeon itu kalang kabut. Apalagi, Haru yang harus tinggal bersamanya untuk kurun waktu satu sampai dua minggu.

Sedari tadi, Jungkook turut berbaring disisi keponakannya. Sesekali tangan miliknya bergerak pelan menepuk pantat bocah itu. "Aduh, panasnya tidak turun-turun," gerutu Jungkook sehabis kembali mengganti plester penurun panas yang menghiasi dahi bocah itu.

Yang lebih buruknya, baik sang kakak ipar maupun Junghyun tak ada yang bisa dihubungi untuk saat ini. Agaknya cinta membuat mereka terlupa akan sosok buah hati yang kena penyakit rindu.

"Yoongi?"

Akhirnya, pemuda Jeon itu memilih untuk menghubungi rekan kerjanya. Yeah, dia berniat untuk membawa Haru ke rumah sakit, namun bocah itu terus saja meronta dan menolak dengan tegas usulan yang diberikan oleh Jungkook.

Pemuda Min dibalik telepon balas berdeham dengan malas, "Apa yang kau lakukan jika seorang bocah tengah merindu?" Tanyanya sembari mengelus surai Haru yang kini terlelap dibalik selimut tebal di kamar Jungkook.

[Angh, kau bicara apa sih?]

Dahi pemuda Jeon itu mengernyit. Ia merasa ada yang janggal dengan suara milik sahabatnya itu. Terdengar agak mendesah. Well, yeah. Seperti tengah melalukan hal itu.

"Kau, baik-baik saja?" Ucap Jungkook dengan tubuh yang dipaksa duduk serta pikirannya berkelana entah kemana.

Jungkook harus berpikiran positif.

[Ahh, siapa?]

Namun,

Untuk saat ini, pemuda Jeon itu tak ingin bersikap naif.

"Yah! Min Yoongi! Sudah sejauh apa hubunganmu dengannya?" Pemuda Jeon itu berbisik agak keras untuk menghindari opsi membangunkan Haru karena ia berteriak dengan keras.

Jungkook yakin jika telinganya masih berfungsi sebagaimana mestinya. Ia tahu betul jika pria yang barusan bersuara bukanlah rekan kerjanya. Itu Taehyung. Kim Taehyung. Sahabat dekat Jimin sedari mereka sekolah menengah.

Ia hanya tak percaya jika Yoongi bisa luluh pada Taehyung secepat itu. Gosh, apalagi mereka kini telah mencapai kegiatan berhubungan badan. Yoongi jelas bukan tipikal pria murahan yang akan sukarela mengangkang untuk orang lain.

[Beri tahu Jimin saja! Apa susahnya sih? Hngh, lagipula itu kesempatan besar buatmu, bodoh.]

Belum ada Jungkook membalas, pria Kim itu telah terlebih dahulu memutuskan sambungan keduanya. Jungkook mendengus, agaknya ia sedikit iri dengan Yoongi yang kisah romansanya berujung bahagia.

Kadang kala terbesit rasa ragu dalam diri Jungkook.

Adakah ia masih punya tempat dihati Jimin?

●●●

"Maaf karena merepotkanmu lagi," suara Jungkook seketika menyapa indra pendengarannya tatkala kaki mungil itu melangkah lebih jauh ke dalam apartemen lelaki itu.

Jimin mengangguk, "Yeah, lagipula Haru juga tanggung jawabku," balasnya kemudian.

Keduanya melewati ruang tengah dengan langkah ringan. Setelah Jimin telisik, apartemen Jungkook didominasi dengan warna abu-abu dan putih, kemudian di sudut ruangan terdapat begitu banyak tumpukan barang. Agaknya, pemuda Jeon ini tak memiliki banyak waktu untuk berkemas.

Love Maze [KM]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang