17. Confused

4.5K 560 17
                                    

"Jangan menangis," suara itu kembali mengalun indah di telinganya.

Degup jantungnya tak seperti tadi, hingga rasa nyaman menjalar ke segala setubuhnya. Jungkook mengukir senyum, sebisa mungkin untuk bersikap tenang dikala ia juga dilanda rasa takut.

Wajah Jimin nan memerah, pun bibirnya yang digigit kuat-kuat untuk menahan isakannya sebelum itu keluar dengan teramat memalukan. Well, Jimin masih memikirkan harga dirinya dihadapan sang mantan pacar omong-omong.

Jungkook menunduk, sembari mengeluarkan pisau dari dalam saku celananya. Yah, sejak dia yang bertemu dengan singa betina itu. Lia si hewan kesayangan Eddy, Jungkook jadi makin berhati-hati.

"Apa yang akan kau lakukan?" Lirih Jimin saat Jungkook meletakkan pisau itu dibawah sepatu Jimin secara perlahan.

Kepala pemuda Jeon itu mendongak, hingga manik keduanya saling bersiborok. "Aku akan mengangkat kakimu dengan hati-hati. Cukup, percaya saja padaku." Dan Jimin tak punya pilihan lain selain mengangguk, dan menenangkan pikirannya yang berkecamuk.

"Omong-omong, kenapa kau pergi sendiri?" Dia tengah fokus untuk mengangkat telapak kaki Jimin dari tanah, namun melihat Jimin yang kacau begitu membuat Jungkook tidak tega untuk mengabaikannya.

Jimin sibuk memperhatikan. "Hanya, tidak mau merepotkan orang lain," jawabnya ragu dan teringat akan perintah Tuan Choi sebelum membiarkan Jimin berkelana sendirian.

Sial.

Jimin bisa habis kena omel oleh pria paruh baya itu.

"Itu berbahaya, Jim. Kapan kau akan berhenti untuk terus keras kepala sih?" Kata Jungkook dengan diakhiri kekehan pada ujung kalimatnya.

Pemuda Park itu memberengut sebal. Wajahnya yang merah dengan peluh membanjiri membuat si mungil terlihat begitu menawan dan cantik.

"Memangnya kapan aku begitu?" Nada bicaranya jengkel dan Jungkook tak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa. "Dulu kau begitu, saat Taehyung memintamu untuk putus dariku. Benar, kan?"

Tubuh Jimin tersentak atas pernyataan Jungkook barusan. Ingatannya kembali pada sepuluh tahun lalu saat Taehyung memaksanya untuk melupakan Jungkook yang jelas tak pernah melirik kearahnya.

"Aku, tidak ingin membahasnya," suara itu gemetar.

Jungkook menunduk dalam sehabis mendapatkan reaksi Jimin. Yah, dia memang pantas untuk dibenci oleh pria sebaik Jimin. Pun, ia agaknya harus bersyukur saat Jimin terlihat tidak bisa menolak hadirnya dengan begitu tegas.

Bibir Jimin memang menyerukan hal itu, namun pria manis itu kentara sekali menunjukkan tingkah yang berbeda.

"Nah, baiklah. Jadi, melangkah dengan perlahan, Oke?" Ia segera berdiri dan mengukir senyum lebar guna menghilangkan raut kecewanya barusan.

Lagipula, apa yang harus ia kecewakan saat Jimin masih mau untuk bertemu dan berbicara dengannya.

Dasar pria brengsek yang tak punya malu.

"Apa ini akan menyakitkan?" Pertanyaan itu diikuti dengan raut wajah polos milik Jimin. Jungkook tertegun, dan menggerakan tangannya untuk mengacak surai blonde milik pria itu. Dia benar-benar tak dapat menahannya.

⸰⸰⸰

Jimin duduk sendirian di depan tenda. Maniknya sibuk memandang jauh pada langit nan membentang luas, penuh bintang malam itu. Pun, tubuhnya telah berbalut selimut kuning pemberian Suster Han, kenyataannya Jimin masih kedinginan.

Well, untuk ukuran cuaca, Afrika Selatan tergolong amat tidak stabil. Dikala siang hari, matahari akan bersinar dengan teriknya, berbanding terbalik saat rembulan menyapa. Kelewat dingin, hingga Jimin ingin beku rasanya.

Love Maze [KM]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang