Semalaman suntuk Jungkook berjaga, tak sedetik pun pikirannya bisa berpaling dari sosok manis nan menghiasi hati serta otaknya. Well, sedari dulu Jimin memang pria yang teramat sulit untuk ditolak pesonanya.
Hingga fajar menjemput, beberapa rekannya telah bersiap, dan Jungkook tertawa kala shift jaganya telah berakhir. Hingga yang lain dibuat saling tukar pandang.
Heol, sejak kapan Jungkook tertawa. Terlebih untuk hal sepele begini.
Ia segera mempersiapkan dirinya. Mulai dari mandi──Yah, Jungkook tak mau Jimin menjauh darinya hanya perihal bau badan──dan mengenakan kemeja kotak-kotak berwarna kuning dan hitam.
Jungkook sengaja membawa ranselnya. Dia masih punya waktu sampai senja menjemput, dan Jungkook berencana untuk menghabiskan waktu istirahatnya bersama pemuda mungil yang tak kunjung tumbuh itu.
"Suster Lee?" Jungkook memanggil seorang perawat yang tengah menghidangkan sarapan pagi untuk para prajurit yang berjaga.
Wanita itu tercengang. Agaknya merasa aneh, kala Jungkook mau berkomunikasi dengannya. Alis wanita paruh baya itu saling bertaut.
"Ya, kenapa?" Tanyanya berusaha untuk menutupi rasa canggung yang menghinggapi.
Oh, andai saja wanita itu tahu jika Jungkook tengah jatuh cinta untuk kesekian kalinya.
"Kau masih punya roti?"
Suster Lee mengernyit. "Oh! Aku masih punya banyak di lemari penyimpanan. Kau mau?"
Jungkook tersenyum lebar. Agaknya sikap Suster Lee yang begitu memahami kondisi orang lain memudahkan Jungkook untuk berekspresi.
Kepalanya mengangguk, dan Suster Lee yang terlampau gemas memilih untuk mengacak surai cokelat pemuda Jeon itu. Well, hadirnya Jimin perlahan mulai merubah sikap Jungkook nan enggan untuk bergaul.
●●●
"Kau!"
Baru saja Jungkook hendak menghampiri tenda dimana Jimin berada, pria yang mencegatnya semalam kembali berulah.
Jungkook mencebik kesal. Langkah ringannya mendadak terhenti, kala pria itu mengarahkan jari telunjuknya menuju Jungkook dengan memberikan tatapan kelewat tajam.
"Apa?" Balasnya sarat akan rasa jengkel, hingga nada suaranya terdengar meninggi.
Pria itu terkejut akan reaksi yang diberikan Jungkook. Oh, benar-benar pemuda bar-bar nan merepotkan.
"Dasar pembual! Pergi sana!" Teriak pria itu kelewat bersemangat dalam meneriaki Jungkook, hingga pasukan lain yang berjaga beralih padanya.
Mendadak, Jungkook terlihat seperti orang gila karena diteriaki begitu. Ia mendengus, kemudian melangkah cepat menuju tenda guna bertemu dengan sang pujaan hati.
"Ya! Kubilang pergi, dasar──" Ucapan pria itu terhenti, manakala tenda dibuka dari dalam, hingga menampilkan sosok Jimin nan kusut. Kentara sekali jika dia baru bangun tidur.
Pria berseragam itu membungkuk hormat pada Jimin, seraya bergumam. "Dokter Park," namun Jimin tak dapat mendengarnya.
Sebab, atensi pria mungil itu telah sepenuhnya teralihkan pada sosok Jungkook dihadapannya.
Pipi Jimin mendadak bersemu. Kala mengingat penampilannya yang begitu memalukan. Berbanding terbalik dengan Jungkook dan juga Tuan Choi──Pria yang menahan Jungkook sedari kemarin──yang telah rapi di pagi hari begini.

KAMU SEDANG MEMBACA
Love Maze [KM]
Fanfiction●|Trapped in a maze of decisions. Exhausted by all the different chaos. We've wandered around, looking for the answer. Lost in the maze, in the darkness|●