21. Him

3.2K 454 36
                                    

"Great! Kinerjamu memang tak pernah mengecewakanku, Dokter Park." Suara Dokter Shin diikuti kekehan diakhir kalimatnya, memenuhi ruang ganti malam itu.

Jimin balas tersenyum canggung, agaknya kurang suka diberikan apresiasi kelewat berlebihan begitu. Terlebih, dia menghabiskan waktu dua jam lamanya dalam menyelesaikan operasi pasien bernama Kim Taehwan itu.

Pemuda Park itu melepaskan jas yang melekat ditubuh mungilnya. Pun dia tak menjawab segala rentetan pujian yang dilontarkan oleh Dokter Shin, pria paruh baya itu terus saja mengoceh tanpa henti disisinya.

Sialan!

Jimin teramat ingin pulang sekarang. Belum lagi waktu telah lewat dini hari, dan dia mendapat shift pagi untuk esok.

Benar-benar penjilat yang kelewat menyebalkan.

Beruntungnya Jimin kala ponsel disakunya bergetar, tanda adanya panggilan masuk. Dokter Shin menghentikan kalimatnya sejenak, lalu beralih mengelus punggung dokter kesayangannya itu.

"Kau harus jadi menantuku, jika dia meninggalkanmu esok." Candanya seraya tertawa diakhir kalimat, yang justru membuat Jimin merasa tidak nyaman.

Pemuda Park tersebut hanya tersenyum kikuk, lalu pamit undur diri guna menjawab panggilan dari ponselnya. Gosh, harusnya ponsel Jimin berdering sedari tadi, agaknya dia tidak akan mendengar ocehan pria itu dalam waktu lama.

[Kau dimana?]

Suara berat itu mengisi telinganya, ketika Jimin baru saja mendekatkan benda persegi panjang itu pada indera pendengarannya. Jimin balas cemberut, agaknya takut jika dia akan mengomeli Jimin panjang lebar mengenai sikap keras kepalanya.

"Di Rumah Sakit," suaranya lirih. Teramat takut untuk berbicara jujur, namun Jimin jelas tak punya opsi lain.
Sekarang sudah hampir pukul lima, dan kendaraan umum teramat sulit ditemukan pada jam segini. Well, sekedar informasi jika Jimin belum memiliki SIM. So, dia tak tahu caranya pulang, kecuali jika dia mau merepotkan diri untuk menjemput Jimin disini.

Yah, meskipun risikonya dia akan kembali diomeli lagi.

[Dini hari begini? Rumah sakit katamu?! Gosh, Jimin. Aku tidak punya masalah pada indera pendengaranku, kan? Kau mau berkelahi denganku?]

Pemuda Park itu menghela nafas panjang, "Ceritanya begitu sulit kujelaskan. Lebih baik, kau datang kemari dan jemput aku. Bagaimana?"

Diseberang sana, dia tertawa jengkel. Harusnya, Jimin menuruti perintahnya untuk tak lagi mengikuti titah dari Dokter Shin. Jiminnya begitu malang. Terlalu sulit untuk sekedar menolak permintaan lain, hingga harus menyusahkan dirinya sendiri.

Seperti saat ini.

[Jim, aku ingat pernah memberi tahumu untuk tidak berkeliaran di malam hari, kan?]

Jimin mengangguk, meskipun dia tak dapat melihatnya. Yah, dasar bodoh.

[Tubuhmu itu kelewat mungil, wajahmu terlalu imut untuk ukuran pria dewasa, dan senyummu terlampau manis hingga aku dibuat mabuk rindu karenamu.]

Pipi Jimin dibuat merona oleh kalimatnya yang begitu manis, namun Jimin enggan mengaku pada sosok pria penuh percaya diri diseberang sana.

[Jadi, tunggu aku disana. Oke? Jangan bertingkah ceroboh, Jim.]

Senyum Jimin merekah begitu lebarnya, "Yah, aku paham. Dasar tukang gombal," dan berikutnya sambungan itu segera diakhiri sepihak oleh Jimin.

Biarlah, dia kembali memarahinya, karena Jimin tak lagi kuasa untuk menahan rasa menggelitik yang ada dalam perutnya. Terlampau memabukan.

Love Maze [KM]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang