Andrea menatap luar jendela kamarnya. Pagi ini hujan turun begitu derasnya mengguyur ibu kota Indonesia; jakarta hingga menghambat setiap pergerakan setiap insan yang ingin melakukan aktivitas di luar ruangan. Andrea mendesah berat kemudian melangkah ke arah lemari untuk mengambil seragam sekolahnya.
Ia yang baru saja selesai mandi lantas memakai seragamnya dengan rapi. Setelah itu melangkahkan kakinya ke arah meja rias. Rambutnya yang basah ia keringkan menggunakan hair dryer. Saat ia rasa rambutnya sudah benar-benar kering, ia pun menyisir rambutnya. "Udah mulai panjang lagi." gerutunya saat menyadari rambutnya yang sudah bertambah panjang. Ia pun berencana akan memotong kembali rambutnya itu ke salon sebab sejak kecil ia tak terbiasa dengan rambut yang panjang. Sehingga setiap 6 bulan sekali, ia rutin memotong rambutnya itu.
Tangan Andrea pun terangkat untuk mengikat rambutnya. Lalu, ia memoles wajahnya dengan bedak baby, serta lip bam pada bibirnya yang pucat. Kemudian menyemprotkan parfum ke badannya, tak lupa memakai body lotion.
Andrea beranjak dari kursinya menuju lemari untuk mengambil jaketnya. Matanya menelusuri tumpukan jaket yang dilipat rapi di dalam sebuah pintu lemari yang ia sediakan khusus untuk jaket-jaketnya. Dibanding mengoleksi baju-baju bagus seperti gadis kebanyakan pada umumnya, Andrea memilih untuk mengoleksi jaket yang mana selalu ia pakai saat pergi ke luar. Ia sudah terlalu nyaman berpakaian seperti itu. Selain nyaman, juga tidak ribet.
Sekian lama berpikir, pilihan Andrea jatuh pada jaket berwarna merah marron yang terletak paling bawah. Bahannya lumayan tebal, cukup untuk menghangatkan tubuh Andrea di cuaca seperti ini. Lantas, ia memakai jaketnya tersebut.
Ditatapnya pantulan dirinya di cermin. Ia tersenyum. Ia fokus pada jaket yang sudah lama tak ia kenakan. Setelah sudah puas, Andrea beralih mengambil jam tangannya serta gelang pemberian Dave. Lalu ia menggendong tasnya kemudian melangkah keluar kamar menuju ruang makan.
Di meja makan, sudah ada Rani dan seorang pria berpakaian seragam khas seorang pilot tengah menyesap kopinya sambil membaca koran. Andrea memekik senang, ia berlari ke arah pria itu. "Papaaa!" pekiknya senang.
Pria itu menoleh lantas tersenyum. "Pagi, gadis kecilnya Papa!" balasnya meletakkan koran dan gelasnya ke meja. Ia berdiri kemudian merentangkan tangannya, dan sesaat kemudian Andrea menghambur ke pelukannya. "Anaknya Papa harum banget, ini mau sekolah atau ngejumpai gebetan?"
"Dua-duanya." balas Andrea melepas pelukannya. Ia menyengir kala sang Papa menyentil hidungnya.
"Kamu ini. Sekolah dulu yang bener. Masih ingatkan pesan Papa? Tamat kuliah dulu baru boleh pacaran."
Andrea tertawa. "Iya iya, Papa rewel deh."
"Pa, anaknya nanti aja diajak bicara. Mau sarapan, entar telat." ujar Rani memotong suaminya yang ingin membalas ucapan Andrea.
"Gapapa telat, kalau sama Papa bereslah." balas Papa tenang. Papa mendekatkan kepalanya ke arah Andrea kemudian berbisik, "Papa ajakin bolos yuk."
"Mamaaa!" adu Andrea. Ia berjalan ke arah Rani. "Ma, marahin tuh Papa. Masa ajak Rea bolos."
Rani menatap suaminya---Feno dengan tatapan tajam membuat Feno meringis. "Gak ada, kok. Rea mengada-ada tuh."
"Ada kok, Ma. Mama percaya kan sama Rea dibanding Papa?" Andrea menahan tawanya kala Rani sudah mengeluarkan kalimat omelan kepada Papanya.
Lalu ia duduk di meja makan untuk memulai sarapannya membiarkan Papanya di eksekusi oleh Mamanya. Sesekali ia tertawa mengejek Papanya.
Tak butuh waktu lama, Andrea sudah siap dengan sarapannya. Ia menyandarkan badannya di kursi sambil mengambil ponselnya dari saku roknya. Ponsel yang sedari semalam tak ia hidupkan koneksi datanya langsung berbunyi bersahut-sahutan pertanda banyaknya notifikasi yang datang. "Aduh!" ringisnya mengubah ponselnya ke mode silent.
"Dari pacarnya tuh pasti." ucap Feno.
Andrea mencebikkan bibir. "Papa sok tau, deh." balasnya kemudian membuka satu per satu notifikasi yang berdatangan.
alic56 replied your story
Gebetan baru yah lo?
Babang Farhan mau lo kemanain?
Eh, semalam bukannya lo bilang mau jagain butik nyokap? 😕
Andrea mendengus. Kemudian tangannya mengetikkan beberapa balasan untuk Alice.
Foto lama itu:V
Farhan always in my heart 😆
Itu tangannya Farhan btw 😂
Yang pastinya jawaban itu merupakan kebohongan. Kemudian ia beralih lagi untuk membalas dm Raylin, Vina, Bella dan Dira dengan jawaban yang sama. Ia mengabaikan beberapa dm orang yang menurutnya sok kenal dengannya. Ia pun membalas dm Aliyah semalam yang hanya ia read.
Lo jangan salah paham dulu.
Itu foto lama.
Gw mmg jagain butik nyokap gw.
Dan gw ga ada ingkarin janji, itu tangannya Farhan.
Ia sudah berbohong pada beberapa orang pagi ini. Ia tau ia salah. Tapi jika jujur, ia ragu kalau pertemanannya akan baik-baik saja. Menurutnya, berbohong adalah cara yang tepat untuk saat ini.
"Serius amat main hpnya." Feno berucap sembari menatap putrinya dengan tatapan menggoda. "Dari pacar yah?"
"Ih Papa!" kesal Andrea. "Rea gak punya pacar. Fitnah mulu deh."
"Ah, masa?"
Andrea mendecakkan lidahnya. "Gimana mau pacaran, Papa sendiri yang larang Rea buat pacaran. Papa aneh." balasnya.
Feno tertawa. "Kirain tadi." Feno menyesap kopinya yang tinggal tersisa sedikit lagi. "Berangkat, yuk. Udah lama nih Papa gak anterin kamu sekolah. Kapan yah terakhir kali?"
"Pas hari pertama masuk SMA." jawab Mama yang sibuk memasukkan makanan ke dalam wadah bekal. Lantas memberikannya kepada Andrea dan memasukkannya ke dalam tas. Walau pada kenyataannya, Andrea tak pernah memakannya karena Dira dan Aliyah sudah terlebih dahulu menyerbu tak menyisakan sedikitpun untuknya.
"Kalau gitu, ayo Papa yang anterin pagi ini. Ayo ayo!" ajak Feno bersemangat sambil beranjak dari kursinya. "Papa kan juga mau berangkat kerja, jadi sekalian aja."
Andrea pun beranjak dari kursinya setelah memasukkan ponselnya ke sakunya. Setelah menggendong tasnya dan meminum susu buatan Mamanya, ia pun melangkah menyusul sang Mama dan Papa yang sudah deluan melangkah menuju depan.
"Sekolah yang bener yah, sayang." pesan Rani kala Andrea meraih tangannya kemudian menciumnya.
"Siap, Mama." jawabnya. Lalu melangkah memasuki mobil di mana Papanya sudah berada di sana menunggunya.
Mobil pun melaju meninggalkan pekarangan rumah. Hujan masih turun membasahi kota membuat suhu lebih dingin dari biasanya.
"Gimana sekolah kamu?" tanya Feno membuka pembicaraan.
Andrea yang tadinya sibuk memasang seatbelt lantas menoleh ke arah Feno. "Kayak biasa, Pa." jawabnya seadanya.
Feno terdiam sejenak. Pria itu tampak memikirkan sesuatu sebelum ia akhirnya angkat bicara. "Kamu senang gak tinggal disini?"
Alis Andrea mengernyit. "Kok Papa tiba-tiba nanyain gitu? Kenapa?" bingungnya.
"Minggu depan kita bakalan pindah ke New Zealand."
◾⬛◾
Halohaaaaa!
Ketemu lagi dengan saya:)
Jangan lupa vote dan komentar yah!!:)
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear You,
Teen Fiction*** Ini kisah tentang, Andrea Mevida. Seorang siswi biasa yang menyukai seorang pemuda yang notabenenya merupakan seorang famous di sekokahnya. Bukan tentang bagaimana ia mendapatkan hati sang pujaan hati, tapi tentang bagaimana ia berusaha merelaka...
