BAB 18

39 3 2
                                        

Selamat membaca!!!
.
.
.

Hari sudah malam. Bulan pun hadir menggantikan pekerjaan matahari bersama bintang bertaburan yang menemani.

Suara gitar yang berasal dari dalam sebuah kamar memecah keheningan diikuti suara Raylin yang mengiringi melodi yang ia mainkan. Di samping gadis itu, ada Andrea yang tengah tidur-tiduran sambil memainkan ponselnya.

"Nih gitar nyaman gue makeknya." ucap Raylin ketika ia sudah puas bermain gitar. Ia meletakkan gitar itu di dalam lemari, tempat dimana tadi ia mengambilnya. "Gitar itu punya siapa?"

"Gue."

Raylin mengernyitkan dahinya. "Lo? Masa? Untuk apa itu gitar? Perasaan lo paling lemah soal musik, apalagi gitar." herannya. Gadis itu melangkah mendekati meja belajar Andrea.

Meski sudah berkali-kali kesini, Raylin masih saja suka mengotak atik kamar Andrea. Terlalu banyak barang yang dapat menarik perhatian Raylin.

Andrea mendudukkan badannya, kemudiam bersandar di sandaran tempat tidurnya. Lalu kembali fokus menonton film drama Thailand yang ditampilkan di ponsel. "Sebagai koleksi aja." ucapnya berbohong.

Raylin mengangguk-anggukkan kepalanya paham. Ia terduduk di meja belajar Andrea. Kursi merah yang berbentuk seperti tangan itu membuat Raylin nyaman berlama-lama duduk di kursi empuk itu.

Ditatapnya sekeliling kamar Andrea. Desainnya belum berubah, masih sama seperti dulu. Tapi, Raylin seperti tak bosan menikmati kamar gadis itu.

Seperti menatap foto kecil Andrea dengan seorang gadis yang tak ia kenali.

Berulang kali Raylin menanyakannya, tapi Andrea memilih bungkam dan mengalihkan topik pembicaraan.
Andrea terlalu tertutup. Sebagai sahabat, Raylin tak tau bagaimana kisah masa lalu Andrea. Setiap masalah yang Andrea alami, Raylin tak pernah tau. Bahkan, tentang hubungan ia dan Farhan saja tak ada satupun yang tau kalau saja misalnya hari itu Bella tidak merampas ponsel Andrea dari tangan Andrea sendiri.

Bukan hanya kepada Raylin, Andrea terlalu tertutup pada semua orang. Sampai sekarang saja, perihal masalah ia dan Fitri masih menjadi tanda tanya besar bagi Raylin.

"Diliatin mulu, gue tau gue imut pas kecil." ucap Andrea berjalan menghampiri Raylin.

"PD lo! Gue masih penasaran aja sama nih orang." Raylin menatap Andrea berharap kali ini Andrea akan bercerita padanya. "Dia siapa sih?"

"Orang." jawab Andrea santai. Gadis itu mendaratkan bokongnya di sisi ranjang. Ia juga ikut menatap figura foto itu. Mungkin kalau ia sedang sendiri, sudah dipastikan ia akan menangis lagi.

Raylin ikut duduk di samping Andrea. "Masa setan, yah pasti oranglah." ketusnya.

"Nah itu lo tau."

Raylin memiringkan kepalanya untuk dapat menatap Andrea. "Ada yang mau diceritain?"

"Enggak." jawabnya cepat.

Raylin mendengus. Kembali menegapkan badannya. "Gue sahabat lo Re, udah sewajarnya lo cerita ke gue tentang apa yang jadi beban pikiran lo. Karena, masalah lo masalah gue aja."

"Gak. Kalian gak perlu tau." Andrea menggeleng lemah. "Ini semua terlalu rumit. Gue gak mau lo juga ikut terbeban. Cukup gue sama Tuhan aja yang tau."

Tangan Raylin terangkat memegang bahu Andrea. Ia menatap sahabatnya yang kala itu sedang menunduk. "Re, lo udah percayakan gue, Aliyah sama Bella jadi sahabat lo. Otomatis, suka duka lo, juga suka duka bagi kita."

Andrea lagi-lagi hanya memberi respon dengan menggelengkan kepala. Ia tak sanggup untuk menceritakan ini pada orang lain, mengingatnya saja sudah membuat Andrea menangis.

"Yaudah, deh. Gapapa." Raylin beralih memeluk Andrea seolah menyalurkan kekuatan pada sahabatnya itu. "Suatu saat kalau misalnya lo udah siap nyeritain, gue mau masang telinga dan pundak gue."

"Thank's Lin."


👓

Fajar kembali menyongsong di ufuk timur menyambut pagi di hari yang berbeda. Burung berkicauan bersama udara segar yang menyejukkan setiap indra penciuman yang menghirup.

Pemuda yang sedari tadi melakukan aktivitas lari pagi sekitar komplek rumahnya lantas terhenti mengingat waktu bahwa ia harus berangkat ke sekolah. Segera ia mengubah haluan kakinya kembali ke rumahnya dengan berjalan santai berniat melakukan peregangan. Keringat mengucur di pelipis pemuda itu menandakan ia sudah benar-benar melakukan olahraga dengan baik dan benar.

Sesampainya di depan rumahnya, ia membuka pagar rumah kemudian memasuki rumahnya untuk segera bergegas mandi. Namun, lagi-lagi suara Yohan menghentikan langkahnya.

"Darimana aja lo?"

Dave mendengus. Ia kembali berjalan menghiraukan pertanyaan Yohan barusan. Terkadang pertanyaan yang dilontarkan orang yang pada kenyataannya adalah kakaknya sangatlah tidak etis. Sudah tau jawabannya, tapi masih saja tetap bertanya.

"Lo gak usah nyari masalah pagi-pagi." Yohan kembali angkat bicara. "Gue nanya baik-baik, hargai gue setidaknya sebagai abang lo."

Dave terhenti. Ia membalikkan badan kemudian menatap Yohan dengan sarat mata ketidaksukaan. "Mata lo siwer apa gimana? Gak lihat gue pake baju training?" sinisnya. Kemudian beralih meninggalkan Yohan yang mengumpati kalimat tidak sopannya Dave.

Ia memasuki kamarnya kemudian mengunci pintunya. Kemudian ia bergegas untuk kekamar mandi.

Tak memerlukan waktu lama, akhirnya ia selesai kemudian berpakaian batik motif khas sekolahnya dengan celana hitam panjang. Ia pun mengambil tasnya.

Sebelum ia benat-benar keluar kamar, ia mengecek ponselnya yang sejak semalam sore tak ia cek karena tiba-tiba Vio mengajaknya ke sebuah bioskop yang menayangkan film yang sedang ramai dibicarakan oleh khalayak ramai.

Bsk plg skul temenin gw jalan yuk.
Ok?
Btw, g ad penolakan.
Mestinya lo tau itu.

Udah tau bakalan ada kata 'g ad penolakan' 😒
Yud sii, pasrah doang ✌

Dave tersenyum simpul. Moodnya seketika membaik. Ia begitu senang. Tak taulah, Dave sendiri kadang merasa nyaman berada di dekat Andrea. Jujur, ia belum pernah merasakan yang seperti ini. Jadi ia sendiri ragu atas nama apa perasaannya saat ini.

Nanti plg tungguin gw 👌
See you next in school, Reee!

Setelah mengetikkan itu, ia pun melangkah keluar kamar menuju tempat dimananya mobilnya berada. Akhir-akhir ini pemuda itu lebih sering membawa mobil mengingat ia yang sering memaksa Andrea agar pulang bersama. Tapi mengingat kondisi Andrea yang memakai rok, ia putuskan untuk membawa mobil saja. Selain untuk kenyamanan Andrea, juga mengurangi resiko hal yang tak diinginkan.

Tanpa ada niatan sarapan dan bergabung bersama keluarga kecilnya, ia melangkah menghiraukan panggilan Mama maupun Vio yang mengajaknya untuk bergabung.

Baginya, bergabung bersama keluarganya untuk makan atau sekedar berbincang hangat layaknya keluarga merupakan neraka duniawi yang benar-benar harus ia jauhi.

Lebih baik nanti ia mampir ke sebuah cafe yang menyediakan menu untuk sarapan, dibanding bergabung disana dan menambahkan sakit hati pada dirinya.

Mungkin ia akan bergabung saat ia sudah benar-benar menunjukkan bahwa ia mampu lebih dari orang yang selalu mereka bangga-banggakan di depannya, Yohan.

Ia yakin ia bisa, bahkan untuk menyaingi.

👓

Sorry kalau updatenya lama.
Akhir-akhir ini Author sibuk banget
Monmaaap🙏

Dear You,Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang