[KUMPULAN PUISI]
Inilah perjalanan. Kaki bertugas melintasi dan Hati mempelajari apapun yang semesta beri. Sejuta tempat singgah, berkelana hingga berdiam di titik lelah, masing-masing dari kita pasti akan menemukan seseorang yang bisa disebut rumah.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Selamat malam wanita yang terakhir kali kutemui dikala senyum menggandeng kebersamaan kita,
Maaf membuatmu menunggu. Ada beberapa pekerjaan yang harus kuselesaikan dahulu. Aku tahu ceramahmu bisa menerbangkan miliaran piring terbang di telingaku jika tahu pukul empat ini aku belum juga menghampirimu ke dunia mimpi. Tapi jika salah satu pekerjaanku ini adalah menulis surat untukmu, maukah menyambutku dengan senyuman termanismu jika aku tiba di pelataran mimpi nanti?
Hari ini tidak terlalu baik. Aku sedang mengurusi kepindahanku dari rumah lama bernama “masa lalu” untuk membiasakan tinggal di sebuah rumah baru, yang mungkin akan kutempati denganmu. Entahlah, aku masih belum tahu. Bukankah seburuk-buruknya rumah harus selalu bisa membawamu untuk merindukan kata “pulang”? Ya, seharusnya. Dan itu yang sedang kurasakan.
Kamu adalah wanita yang kini selalu bisa membuat hatiku merasa nyaman. Tapi aku terkena phobia untuk memiliki. Aku terlalu takut manisnya perasaan-perasaan yang belum terceritakan berubah saat kita saling menyakiti perlahan-lahan. Aku takut memiliki jadi media kita untuk menyakiti.
Apa sebaiknya kita berjauhan dengan perasaan yang terasingkan?
Lebih baik mana tersakiti karena tak memiliki atau memiliki tapi berujung menyakiti? Jika aku disuruh memilih, aku tidak akan memilih keduanya. Aku ingin melanjutkan senyuman-senyuman lain yang bisa kau hadirkan lewat cerita langit sore kesukaanmu. Dan semudah itu, aku pun bisa tersenyum juga untukmu. Aku ingin bersisian denganmu lagi. Lalu kita sunyi dalam keasikan sendiri mendengarkan suara-suara manis dari gerimis.
Aku ingin kamu tahu, semudah aku menatap matamu, semudah aku mengajakmu berlarian ditengah hujan, semudah aku mengirimkan sepaket buku kesukaan, semudah aku mengasup berbagai perhatian, semudah itu aku mulai jatuh cinta secara perlahan.
Aku tidak ingin tiap saat menyaksikan perhentian hal manis ini, lalu karena terlalu rindu dan tak mampu berkutik hanya bisa melanjutkan pertemuan dalam mimpi yang tidak pasti dijanjikan. Aku tidak ingin lenganku yang biasa merangkulmu terganti dengan posisi lelaki itu. Iya, dia yang belakangan ini berdekatan denganmu. Aku takut. Aku terlalu takut. Sebelum kita bertemu nanti, aku ingin menyiapkan hati untuk menyelipkan doa pada Pencipta. Agar lengkaplah segala usaha, agar biarlah terjadi sesuai rencanaNya. Karena kita hanya manusia yang tak punya daya.
Jangan marah ya ketika Tuhan membisikanmu pesan rahasia ini lewat mimpi
Dari aku, Aku yang sedang berusaha menjadi pemerhati terbaikmu.